Ketika Malcolm X Terilhami oleh KAA 1955 Bandung

Malcolm X

Pertengahan April 1955, di kota Bandung, Indonesia, berlangsung pertemuan bersejarah: Konferensi Asia-Afrika (KAA). Konferensi yang menghadirkan 29 negara dan pejuang-pejuang pembebasan dari Asia-Afrika itu membuat negeri-negeri kolonialis bergidik.

Malcolm sangat terkesan dengan KAA 1955. Dia kagum melihat bangsa-bangsa kulit berwarna, kendati berbeda suku, agama, ras, dan pandangan politik, bisa bersatu-padu untuk melawan musuh bersama: kolonialisme dan imperialisme.

“Di Bandung, semua bangsa berkumpul bersama. Mereka adalah bangsa-bangsa gelap dari Asia dan Afrika. Ada Budha, Muslim, Kristen, Konfusianisme, dan beberapa atheis. Meskipun agama mereka berbeda-beda, mereka berkumpul bersama. Ada komunis, sosialis, dan kapitalis. Meskipun perbedaan ekonomi dan politik, mereka berkumpul bersama. Mereka semua berkulit hitam, coklat, merah, dan kuning,” kata Malcolm. 

Di pidatonya di tahun 1963, Message to Grassroot, Malcolm menjadikan KAA sebagai rujukan bagi strategi perjuangan bagi kulit hitam di AS. Terutama tentang bagaimana merumuskan musuh bersama dan menyusun persatuan di atas kepentingan melawan musuh bersama itu. Dan, bagi dia, musuh bersama kulit hitam adalah rasisme.

Malcolm, yang lahir tanggal 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, sejak kecil merasai betapa kejamnya politik segregasi sosial. Ayahnya, Earl Little, seorang pejuang hak-hak sipil kulit hitam, berulang-kali diancam dibunuh oleh milisi berkulit putih. Sampai-sampai keluarga Malcolm harus berpindah-pindah untuk menghindari pembunuhan.

Namun, Earl tak bisa menghindari kejaran ajal. Ketika Malcolm baru berusia 4 tahun, ayahnya ditemukan meninggal mengenaskan. Banyak yang menyimpulkan, ayahnya dibunuh oleh milisi kulit-putih. Malcom kecil tumbuh di tengah masyarakat Amerika Serikat yang masih mengukuhi diskriminasi rasial dan segregasi sosial.

Tumbuh di tengah rasialisme dan segregasi sosial membuat anak-anak kulit hitam hanya punya sedikit pilihan. Walhasil, banyak diantara mereka terperangkap dalam kriminalitas. Termasuk Malcolm. Dia terlibat kejahatan kecil dan perampokan. Dia dibuih 10 tahun lantaran kejahatan itu.

Di dalam buih Malcolm menemukan pencerahan. Di situ dia mengenal organisasi kulit hitam: Nation of Islam (NOI). Pemimpinnya bernama Elijah Muhammad. Organisasi ini mengajak kulit hitam memisahkan diri dari masyarakat kulit putih. Untuk mendorong emansipasi kulit hitam, organisasi ini memakai masjid dan pemberdayaan ekonomi untuk menarik warga kulit hitam.

Makin hari Malcolm tambah radikal. Berbeda dengan koleganya pejuang hak-hak sipil yang mengedepankan perjuangan non-kekerasan, seperti Martin Luther King, Malcom menyetujui pembelaan diri dengan kekerasan. “Jika saya bereaksi terhadap rasialisme kulit putih dengan reaksi kekerasan, itu bukan rasialisme kulit hitam. Jika anda (kulit putih) menaruh tali di leher saya dan saya melepasnya, bagi saya itu tidak rasis,” tegasnya.

KAA 1955 di Bandung benar-benar meluaskan cakrawala berpikir Malcolm. Dia menjadi tahu rasialisme berkelindan dengan kolonialisme. Dan sejak itu dia menggemakan “revolusi kaum hitam”. “Ketika aku mengatakan hitam, maksudku non-putih: hitam, coklat, merah, atau kuning,” kata Malcolm.

Malcom memang lebih memilih sebutan “hitam” ketimbang “negro” Sebab, kata dia, negro sendiri ada dua jenis: negro rumahan dan negro ladangan. Negro rumahan, yang tinggal bekerja di dalam rumah tuannya, merasa dekat dengan tuannya. Sebaliknya, negro ladangan, yang menerima hukuman cambuk hampir setiap hari, adalah negro yang membenci tuan Budak.

Di tahun 1963, seiring dengan meningkatnya tekanan atas perjuangannya, Malcolm makin radikal. Dengan merujuk pada revolusi di berbagai tempat, seperti revolusi Amerika, Perancis, Tiongkok, Rusia, hingga perlawanan Mau-Mau di Kenya, dia bilang bahwa setiap revolusi menuntut tanah dan dijalankan dengan berdarah-darah.

“Setiap revolusi berdarah-darah. Revolusi adalah permusuhan. Revolusi tidak mengenal kompromi. Revolusi menjungkirbalikkan dan menghancurkan sesuatu untuk membuka jalannya,” terangnya.

Dan sejak itu dia meninggalkan NOI. Haluan politik Malcolm makin berayun ke kiri dan revolusioner. Sayang, pada 21 Februari 1965, ketika sedang berpidato di Manhattan, tiga orang anggota NOI memberondongnya dengan 15 kali tembakan dan merenggut nyawanya.

Kini, setelah setengah abad kematiannya, Malcolm X masih menjadi inspirasi perjuangan bagi bangsa-bangsa tertindas di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

RAYMOND SAMUEL

Catatan redaksi: artikel ini sudah direvisi karena ada informasi yang kurang akurat. Perihal kehadiran fisik Malcolm X di KAA 1955, yang merujuk pada postingan Indonesia Zaman Doeloe, setelah dikoreksi oleh Potret Lawas (@potretlawas) dan kami verifikasi ulang, ternyata tidak akurat.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid