PRIMA Dan Gagasan Tjokroaminoto

Tjokroaminoto

Setiap partainya harus bisa menunjukkan warna ideologisnya. Tak hanya lewat penjelasan-penjelasan teoritik, tetapi juga lewat simbol tokoh.

Idealnya, setiap proyeksi politik terjabarkan lewat gagasan-gagasan yang diterima oleh massa pendukung partai. Hanya saja, agar sebuah gagasan bisa berterima, ia membutuhkan proses kognitif yang tidak sebentar.

Sementara terkadang politik melibatkan aspek-aspek afeksi, khususnya emosi. Terkadang hasrat dan emosi politik digerakkan oleh simbol-simbol, cerita-cerita, dan “permainan bahasa”.

Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) sangat menyadari hal tersebut. Karena itu, partai baru yang didirikan oleh Agus Jabo Priyono dan kawan-kawannya itu juga mengusung sejumlah tokoh populer yang dekat dengan gagasan dan cita-cita politik partai. Salah satunya, bapak bangsa: Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Menurut Agus Jabo, gagasan Tjokroaminoto mewakili gagasan progressif di masanya. Mulai dari keberpihakan pada kaum lemah, sikapnya yang menjunjung kesetaraan (menolak sembah dan jongkok), hingga gagasannya tentang sosialisme Islam.

“Gagasan-gagasan Tjokro itu memperkaya gagasan-gagasan progressif perjuangan nasional bangsa kita,” ujar Agus Jabo, yang saat ini ditunjuk sebagai Ketua Umum PRIMA, kepada berdikarionline.com, Senin (15/3/2021).

Menurutnya, gagasan Tjokroanimonoto tentang keadilan dan kesetaraan sosial sangat relevan dengan problem yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yakni ketimpangan ekonomi dan penguasaan kekayaan di tangan segelintir orang.

“Karena PRIMA memperjuangkan masyarakat adil dan makmur, maka ada irisannya dengan gagasan-gagasan Tjokroaminoto,” jelasnya.

Lebih lanjut, Agus Jabo menjelaskan, aspek lain yang membuat gagasan Tjokroaminoto relevan adalah karena dia guru dari tokoh-tokoh yang mewakili gagasan besar di Indonesia, seperti Sukarno, Semaun, Alimin, Musso, dan Maridjan Kartosuwirjo.

Bagi Agus Jabo, tiga gagasan besar yang memperkaya gagasan-gagasan progressif di Indonesia, yakni nasionalisme, religius, dan kerakyatan, berinduk pada Tjokroaminoto. 

“Tjokroaminoto ini bapak bangsa, juga pemersatu gagasan besar di Indonesia. Ini relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan hari ini yang ditandai oleh polarisasi yang sangat akut,” tegasnya.

Namun, Agus Jabo menegaskan, selain Tjokroamonoto, PRIMA juga mempelajari dengan baik gagasan pendiri bangsa yang lain, seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lain.

Namun, PRIMA tak hanya mau mengibarkan kembali gagasan-gagasan Tjokroaminoto, tetapi juga mengoperasionalkannya dalam kerangka kerja politiknya.

Pada 10 Maret lalu, DPP PRIMA dipimpin Agus Jabo bersilaturahmi ke kantor DPP Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di Grogol, Jakarta Barat. Mereka disambut langsung oleh Presiden PSII, Chalif Ibrahim, beserta jajaran pengurus lainnya.

Dalam diskusi itu, PRIMA dan PSII banyak berdiskusi tentang pemikiran Tjokromiaminoto. Juga relevansinya untuk menjawab problem bangsa yang kekinian.

“HOS Tjokroaminoto patut menjadi ikon persatuan golongan-golongan progresif dalam perjuangan bersama melawan kapitalisme dan oligarki,” kata Agus Jabo dalam diskusi tersebut.

Salah Paham

Di pemberitaan beberapa media online, salah satunya mediaindonesiaraya.co.id, Aulia Tahkim, salah satu cicit HOS Tjokroaminoto, merespon inisatif PRIMA mengibarkan panji-panji pemikiran Tjokroaminoto.

Di satu sisi, Aulia mengapreasi adanya individu atau gerakan politik yang mengagumi dan terinspirasi oleh gagasan-gagasan Tjokroaminoto.

“Kami di Syarikat Islam senang sekali jika pemikiran H.O.S Tjokroaminoto menjadi inspirasi atau mungkin menjadi rujukan dalam manivesto politik partai PRIMA,” ujarnya, seperti dikutip mediaindonesiraya.co.id

Di sisi lain, dia tak bersetuju jika Tjokromianoto jadi ikon politik partai PRIMA. Alasannya, itu mengecilkan Tjokro sebagai guru bangsa dan milik semua bangsa Indonesia.

Respon juga datang dari Tjokroaminoto Institute. Arifki Chaniago, yang mengaku mewakili lembaga itu, menuding PRIMA telah membawa Tjokro pada politik praktis.

“Syarikat Islam fokus terhadap masa depan ekonomi umat,” bantahnya.

Merespon itu, Agus Jabo mengatakan, PRIMA sama sekali tidak bermaksud mengklaim Tjokroaminoto sebagai milik kelompoknya. 

“Justru PRIMA mengangkat kembali, memperkenalkan kembali gagasan HOS Tjokroaminoto agar bisa menjadi gagasan bersama bangsa Indonesia,” jelasnya.

Menurut dia, PRIMA mengangkat gagasan Tjokroaminoto untuk tujuan yang positif. Dalam hal ini, PRIMA mau menunjukkan kekayaan pemikiran para pendiri bangsa, salah satunya Tjokro, pada generasi kekinian.

“Kita mau bilang ke generasi sekarang, kita kaya loh dengan pemikiran-pemikiran progressif. Salah satunya ya, Tjokro,” ungkapnya.

Dia berharap, dengan terangkatnya kembali pemikiran para pendiri bangsa itu, generasi sekarang mau mengelaborasi dan mengembangkan gagasan itu dalam konteks kekinian.

Direktur Tjokro Corner, Muhammad Kasman, juga menyanggah pernyataan Arifki Chaniago.

“Sebagai pahlawan nasional, Tjokroaminoto adalah teladan bagi seluruh anak negeri, termasuk dalam dunia politik. Jadi jangan ada pihak yang merasa paling memiliki Tjokro,” tegasnya.

Pengasuh kolom Tjokro Corner di portal edunews.id ini juga mengatakan, tidak mungkin memisahkan pikiran-pikiran Tjokroaminoto dari ranah politik, termasuk politik praktis sekalipun. 

“Tjokro adalah seorang politisi ulung, bahkan Magnum opusnya, Program Asas dan Program Tandhim Syarikat Islam adalah sebuah kitab politik,” katanya.

Menurut dia, pikiran yang hanya mau mengembankan ide ekonomi Tjokro itu justru terlalu mengerdilkan seorang Tjokro.

Kasman sangat menyayangkan bila benar ada keluarga Tjokro yang melarang eksplorasi pemikiran Tjokroaminoto di dunia politik.

“Justru ide Tjokro layak menjadi alternatif di tengah carut-marutnya dunia politik Indonesia dewasa ini,” tegasnya.

Sebagai pengagum Tjokro, Kasman justru merasa senang ada generasi muda yang berani bereksperimen menampilkan kembali pemikiran Tjokro ke panggung politik nasional.

MAHESA DANU

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid