Kudeta-Kudeta Modern di Amerika Latin

Bicara kudeta, imajinasi kita tertuju pada pengambilalihan kekuasaan dengan jalan kekerasan. Tidak sedikit dengan menggunakan aksi kekerasan militer.

Begitu juga di Amerika Latin. Kawasan ini sudah jadi langganan kudet. Sejak akhir abad ke-19, kudeta sudah meletus di Bolivia, Brazil, Meksiko, Nikaragua, dan Chile.

Selama abad ke-20, Bolivia merupakan negara yang paling sering diguncang kudeta: 56 kali. Disusul Guatemala 36 kali, Peru 31 kali, Panama 24 kali, Ekuador 23 kali, Kuba 17 kali, Haiti 16 (hingga 1995), Republik Dominika 16 kali, Venezuela 12 kali, Brazil 10 kali, Chile 9 kali, Kolombia dan Argentina masing-masing 8 kali, dan Uruguay 5 kali.

Nah, kalau dulu kudeta terlihat nyata. Ada pengambialihan kekuasaan secara paksa dan tidak sah. Di zaman modern ini, kudeta berlangsung halus. Malahan, proses pengambilalihan kekuasaan terlihat seolah-olah sah/legal.

Berikut, ada 3 kudeta yang berlangsung di Amerika latin yang berlangsung secara halus.

Kudeta di Honduras tahun 2009

Saat itu, Presiden Honduras yang berhaluan progressif Manuel Zelaya hendak menyelenggarakan referendum konstitusi. Maksudnya, agar konstitusi Honduras lebih berpihak pada rakyatnya.

Namun, oposisi menuding referendum itu hanya jalan bagi Zelaya untuk mengubah masa jabatan Presiden di konstitusi. Dengan begitu, Zelaya akan berkuasa terus.

Situasi meruncing ketika pengadilan dan Komisi Pemilihan Umum Honduras menolak penyelenggaraan referendum. Sementara Zelaya bersikeras untuk tetap melaksanakannya.

Situasi makin parah ketika pimpinan militer Honduras menolak membantu Presiden menjalankan referendum itu. Nah, karena dianggap membangkang, Zelaya memecat Jenderal tersebut. Segera setelah itu, petinggi tiga angkatan (darat, udara, dan laut) turut mengundurkan diri.

Malam menjelang referendum, pimpinan parlemen Honduras, termasuk Roberto Micheletti, setuju untuk mencopot jabatan Manuel Zelaya. Mereka juga meminta persetujuan bekas-bekas petinggi militer. Mereka kompak. Pagi-pagi, 28 Juni 2009, yang semestinya orang ke TPS, militer Honduras menyerbu rumah Manuel Zelaya.

Zelaya ditahan sebentar, lalu diterbangkan bersama Menteri Luar Negerinya ke Kosta Rika. Beberapa jam kemudian, Kongres melantik Roberto Micheletti sebagai Presiden sementara.

Ya, kudeta terhadap Zelaya terbilang halus. Tidak ada pengerahan tank dan mayat yang bergelimpangan di jalan. Beda sekali dengan kudeta terhadap Salvador Allende di Chile tahun 1973. Saat itu, bukan hanya dikepung tank dan tentara, Istana Kepresidenan Chile La Moneda dibombardir pesawat tempur.

Belakangan terkuak bahwa Amerika Serikat (AS) berada di belakang kudeta ini. AS tidak suka dengan Zelaya yang membawa Honduras mengikuti jalan Hugo Chavez di Venezuela.

Kudeta di Paraguay 2012

Tahun 2008, seorang pastor berhaluan kiri memenangi pemilu di Paraguay. Namanya Fernando Lugo. Dia dijuliki “pastor kaum papa” karena keberpihakannya pada si miskin. Tahun 2012, Lugo dilengserkan. Proses pelengserannya terbilang halus dan sangat cepat.

Tanggal 15 Juni 2012, terjadi bentrokan antara polisi dan petani di Provinsi Canindeyu. Bentrokan itu menyebabkan 17 orang tewas. Kejadian itu segera menjadi berita nasional.

Parlemen Paraguay, yang dikuasai sayap kanan, segera menjadikan kejadian itu sebagai dalih untuk mengadili dan melengserkan Presiden Lugo. Dalam waktu singkat, Lugo disereng ke pengadilan politik di parlemen.

Pada tanggal 21 Juni 2012, mayoritas anggota parlemen Paraguay setuju memakzulkan Lugo. Sehari kemudian, mayoritas anggota Senat memberika persetujuan atas pelengseran itu.

Banyak yang menyebut kudeta terhadap Lugo dengan istilah coup d’etat 2.0. Ada juga yang menyebutnya kudeta kilat.

Kudeta di Brazil 2016

Tahun 2002, Lula da Silva yang memimpin Partai Buruh memenangi pemilu Presiden Brazil. Sejak itulah Brazil di bawah kendali pemerintahan Partai Buruh.

Di bawah Partai Buruh, politik dan ekonomi Brazil bergeser dari neoliberal menjadi agak ke kiri. Banyak kebijakan yang berorientasi pada nasional dan rakyat banyak. Itulah yang membuat Lula bisa menduduki kursi Presiden selama 2 periode.

Tahun 2010, Partai Buruh kembali memenangi pemilu. Kali ini seorang perempuan bernama Dilma Roussef menjadi Presiden. Dia melanjutkan kebijakan politik dan ekonomi pendahulunya.

Tahun 2014, Dilma terpilih lagi. Di tengah jalan masa jabatannya yang kedua ini, tepatnya di tahun 2015, upaya penggulingan terhadap Dilma mulai bergulir. Awalnya melalui aksi-aksi oposisi di jalanan, lalu melalui parlemen.

Pada bulan Desember 2015, Majelis Rendah Brazil memulai proses untuk melengserkan Dilma. Dia dituduh memanipulasi data keuangan untuk menutup-nutupi defisit anggaran menjelang. Proposal pemakzulan Dilma berjalan lancar karena mayoritas kursi Majelis Rendah dipegang oleh partai kanan/oposisi.

Meski mendapat perlawanan, termasuk oleh rakyat Brazil, proses pemakzulan Dilma berlanjut di Senat. Dan, pada 12 Mei lalu, Senat Brazil juga menyetujui pemakzulan Dilma. Ironisnya, orang yang ditunjuk sebagai Wakil Presiden di era Dilma, Michel Temer, justru menjadi aktor utama penggulingan ini.

Segera setelah Dilma lengser, Temer diangkat sebagai Presiden sementara. Dia lantas membentuk kabinet baru, yang komposisinya semuanya laki-laki dan kulit putih. Belakangan juga, Wikileaks mengungkap bahwa Temer adalah informan di Kedutaan Besar AS di Brazil.

Dilma sendiri bersikukuh, apa yang dituduhkan padanya tidak benar. Lagi pula, hampir semua politisi yang mensponsori pemakzulan dirinya, termasuk Temer, adalah orang-orang yang sedang tersandung kasus korupsi dan suap.

……

Untuk diketahui, jenis kudeta yang terjadi terhadap Zelaya, Lugo maupun Dilma kini tengah mengancam Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden Ekuador Rafael Correa, dan Presiden Bolivia Evo Morales.

Itulah kudeta di abad modern. Kendati terlihat halus, tetapi esensinya tetap: pengambilalihan kekuasaan dari tangan Presiden yang terpilih secara demokratis. Dan satu lagi, hampir semua kudeta-kudeta ini di belakangnya ada jejak campur tangan Amerika Serikat.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid