Ketika Politisi Berpuisi

“Politik tanpa seni seperti jiwa-jiwa yang kering. Bak sayur tanpa garam, hambar.” Kata-kata itu kerap diucapkan oleh Agus Jabo Priyono kepada kawan-kawannya sesama aktivis politik.

Agus Jabo, sekarang ini menjabat Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA), merupakan satu dari sedikit politisi di Indonesia yang tak hanya pandai berpidato lantang sembari memekik, tetapi juga bisa mengolah kata-kata menjadi larik-larik puisi.

Sejak remaja hingga menjadi aktivis politik, dia kerap menuliskan rupa-rupa suasana hatinya lewat bait-bait puisi. Tidak jarang, puisi itu merupakan respon atas keadaan sosial di sekitarnya.

Pernah terjadi, pada Mei 1998, Agus Jabo sedang mendekam di penjara Kepolisian Daerah Metro Jaya karena aktivitas politik melawan rezim Orde Baru. Saat itu dia mendengar aksi massa yang digelar oleh ibu-ibu di Solo.

“Saya mendengar Ibu-ibu di Solo, dengan caping bambu, ikut turun ke jalan,” kenang Agus Jabo.

Ia sangat tersentuh oleh aksi itu. Baginya, ketika ibu-ibu sudah turun ke jalan, itu pertanda keadaan sudah benar-benar gawat. Dia segera menerjemahkan kekagumannya pada aksi protes itu melalui puisi berjudul “Barisan Ibu”.

Tahun 2009, puisi-puisi karya Agus Jabo dikumpulkan dan diterbitkan. Lahirlah buku kumpulan puisi berjudul “Negeriku: syair-syair perjuangan”.

Hampir semua puisi Agus Jabo yang dipublikasikan di buku itu merefleksikan situasi kebangsaan. Boleh dibilang, buku setebal 68 halaman itu berisi syair-syair yang berusaha memberi suara kepada mereka yang dipinggirkan: petani miskin, pemuda desa, ibu rumah tangga, buruh pabrik, pedagang kecil, kuli panggul, dan lain-lain.

Puisi sebetulnya adalah sebuah ekspresi politik. Mengutip Sonia Sanchez, penyair dan aktivis di Amerika Serikat, semua penyair sebetulnya politis. Sebab, mereka semua diperhadapkan hanya dengan dua pilihan: mempertahankan status-quo atau mengubah keadaan.

Bagi Agus Jabo, sikap politik tak melulu harus diekspresikan lewat pidato-pidato politik, pamflet, atau manifesto yang panjang. Terkadang sikap politik itu perlu disuarakan dengan cara yang puitik.

Di dunia, populasi politisi semacam ini tidak begitu banyak. Kita bisa menyebut mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter. Presiden ke-39 AS ini suka menulis puisi. Kumpulan puisinya, Always a Reckoning, terbit pada 1995. Presiden AS lainnya yang suka menulis puisi adalah Barack Obama.

Ada juga mantan Perdana Menteri Perancis, Dominique de Villepin, yang bukan hanya gandrung menulis puisi, tetapi juga menjadikan puisi sebagai senjata politiknya. Nama lainnya adalah Saparmurat Atayevich, mantan Presiden Turkmenistan di tahun 1990-an.

Di simpang kiri jalan ada Mao Zedong. Pemimpin revolusi Tiongkok itu kerap menulis puisi untuk momen-momen besar dalam perjuangannya dari tahun 1925 hingga 1960-an.

Tokoh kiri lainnya adalah Ho Chi Minh. Tahun 1942, saat dipenjara oleh nasionalis Tiongkok, dia menulis lusinan puisi. Kumpulan puisi semasa itu dipenjara itu diterbitkan dengan judul “Prison Diary”.

Di Indonesia, kita tak boleh melupakan nama Mohammad Yamin. Tokoh penting di balik peristiwa Sumpah Pemuda itu suka menulis puisi yang panjang-panjang.

Tokoh lainnya adalah Haji Agus Salim. Tokoh yang mendapat gelar “The Grand Old Man” juga suka menulis puisi. Salah satu puisinya yang terkenal, Tanah Air Kita, ditulis pada 1925.

Tahun 1960, tokoh kiri seperti Aidit juga suka menulis puisi. Sementara Masyumi juga memiliki tokoh berlimpah yang piawai menulis puisi, seperti Muhammad Natsir, A.R. Baswedan, dan Buya Hamka.

Belakangan, makin banyak politisi yang menjadikan puisi sebagai senjata politik. Mereka menggunakan puisi untuk menyindir lawan politik.

MAHESA DANU

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid