Kemerdekaan Bacaan dan Kemajuan Bangsa

Menjadi merdeka hakikatnya adalah merdeka dalam merumuskan diri dan memajukan diri. Dengan caranya sendiri, Indonesia yang merdeka merumuskan Pancasila sebagai pijakan untuk merumuskan diri dan memajukan diri di tengah pergaulan bangsa-bangsa.

Sebagai bangsa yang pernah menderita  akibat penjajahan, tentunya menyadari sumbangan filsafat, ilmu dan pengetahuan dari luar dirinya hingga sampai pada perumusan diri dan bagaimana mengembangkan diri. Dalam kerangka ini, diperlukan kebebasan menerima kemajuan filsafat, ilmu dan pengetahuan baru beserta dinamika di dalamnya. Tanpa sikap keberanian intelektual seperti ini, Indonesia yang merdeka atas dasar kebebasan intelektual melawan kolonialisme yang membatasi perkembangan intelektual akan kembali menjadi beku dan bangsa yang mati tanpa sumbangan apa pun bagi peradaban dunia.

George Coedes menulis mengenai perkembangan intelektual Asia Tenggara yang dulu juga bernama India Belakang: “India Belakang telah  merasakan dampak peristiwa-peristiwa politik di India dan terutama di China dan dari abad ke abad telah menerima aliran-aliran rohani besar asal India. Sebaliknya, kemelut-kemelut yang berlangsung di India Belakang itu sama sekali tidak memengaruhi sejarah dunia dan kecuali dalam bidang seni, tidak memperkaya warisan intelektual dunia dengan satu pun karya agung.” (George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, Gramedia,2010;335)

Apa yang disampaikan Coedes ini menjelaskan betapa rendah posisi Asia Tenggara termasuk Indonesia dalam perkembangan intelektual dunia. Akan tetapi setelah merdeka, Sukarno Presiden pertama Republik Indonesia telah mencoba membalikkan situasi ini dengan menawarkan karya agung: Pancasila yang merupakan temuan intelektual Indonesia sebagai jalan keselamatan dunia dari ancaman perang dunia dengan senjata pemusnah massal bernama Nuklir. Pancasila sebagai jalan keluar dunia itu disampaikan Bung Karno pada 30 September 1960  di depan Sidang Umum PBB ke-15 yang kemudian naskah pidatonya dikenal sebagai “To Build the World Anew”, Membangun Tatanan Dunia yang Baru berdasarkan Pancasila.

Dalam pidato itu Bung Karno dengan cerdas menawarkan Pancasila sebagai jalan keluar dunia dengan mendasarkan  pada pandangan Filsuf unggul Inggris yang dikenal independen, Bertrand Russell bahwa umat manusia sekarang terbagi dalam dua golongan. Yang satu menganut ajaran Declaration of American Independence dari Thomas Jefferson. Golongan lainnya menganut ajaran Manifesto Komunis, Karl Marx dan Engels.

Berkata Bung Karno kepada dunia: “Ya, Pancasila atau lima sendi negara kami. Lima sendi itu tidaklah langsung ber­pangkal pada Manifesto Komunis atapun Declaration Of Independence. Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu mungkin sudah ada sejak berabad-abad, telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme me­nenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional. Jadi, berbicara tentang Pancasila di hadapan tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama dua ribu tahun.”

Bagaimana Bung Karno mempunyai keberanian membawa warisan intelektual nusantara ke panggung dunia dan menawarkannya sebagai jalan keluar adalah karena sikap dan pemahaman yang dibentuk oleh kebebasan memilih sumber-sumber intelektual yang dalam kenyataan praktiknya mampu mengalahkan kuasa intelektual dan pengetahuan kolonialisme Belanda yang juga mencoba terus mengendalikan intelektual rakyat jajahan melalui komisi bacaan sebagaimana maksud didirikan  Balai Pustaka pada mulanya. Dan Bung Karno adalah bagian dari generasi Republik yang menerima pasokan filsafat, ideologi dan ilmu pengetahuan yang begitu deras dan terbuka sebagaimana juga telah digambarkan dengan apik oleh Takashi Shiraisi dalam bukunya: Zaman Bergerak. Situasi dan kondisi sebagaimana dialami Bung Karno dan generasinya yaitu  Kemerdekaan mengelola bacaan dan sumber-sumber intelektual juga pernah dialami oleh generasi Ken Arok. Akibat dari putusnya dan  tiadanya pasokan intelektual dari India sebagai akibat dari serangan Mongol, terjadi revolusi bacaan di Jawa. Generasi Ken Arok pun mempunyai kebebasan mengelola intelektualnya dan mengembangkan sumber-sumber intelektual dengan kembali ke akar yaitu kebudayaan Jawa sebagai basis pokok. Kemerdekaan atas pengembangan intelektual ini faktanya telah menimbulkan sikap yang berani seperti menghadang dan menghadapi ekspansi Khubilai Khan dan membangun kerajaan maritim yang besar Majapahit yang hingga kini terus menginpirasi generasi Republik dalam membangun bangsa dan negara.

Fakta pada hari ini, generasi Republik justru mewarisi daftar bacaan-bacaan terlarang; sumber-sumber bacaan dari satu jurusan; ketakutan dan dibuat takut  pada sumber-sumber bacaan tertentu. Dengan kenyataan ini, sangat sulit membayangkan lahirnya generasi nusantara dengan cita-cita besar sebagaimana ada pada generasi Ken Arok dan Bung Karno. Walau begitu harapan untuk semakin terbukanya pada sumber-sumber bacaan dan kemerdekaan mengelola bacaan sebagaimana yang dialami oleh generasi perintis dan pendiri Republik ini terus mengemuka. Setidaknya rejim yang mengelola dan menjaga ketat sumber-sumber bacaan untuk rakyat seperti Orde Baru pun tumbang yang memungkinkan rakyat terus memperluas cakrawala dan sumber-sumber bacaan dengan caranya sendiri. Dalam situasi ini, pun dalam kerangka revolusi mental,  Pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla seharusnya berani mengambil tindakan dengan mencabut semua bacaan yang pernah dilarang pemerintahan Orde Baru.  Kemudian mendorong tumbuhnya kehidupan intelektual yang ilmiah dan demokratis. Dengan cara ini, kerja mencerdaskan kehidupan bangsa mendapatkan landasan yang kokoh yaitu kecintaan pada ilmu pengetahuan. ()

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid