Kapitalisme dan Pelanggengan Patriarki

Dalam sejarah peradaban manusia, munculnya kepemilikan pribadi merupakan awal kekalahan perempuan dalam ruang sosial. Ini menjadi awal bangkitnya patriarki, yang menempatkan perempuan sebagai kelas dua dalam masyarakat.

Patriarki tumbuh subur di zaman feodalisme. Ironisnya, ketika feodalisme tumbang dan digantikan oleh kapitalisme, patriarki tidak ikut tumbang. Seperti burung jalak dan kerbau, ada simbiosis mutualisme antara patriarki dan kapitalisme.

Rupanya, kapitalisme memelihara patriarki untuk menopang proses akumulasi kapital. Jadi, konstruksi sosial yang menempatkan perempuan di bawah kuasa laki-laki ternyata menguntungkan sistim kapitalisme. Bagaimana itu terjadi?

Pertama, domestifikasi sebagai kerja yang tidak dibayar. Siapa sangka, kapitalisme sangat diuntungkan oleh kerja domestik yang dilakukan oleh perempuan. Kok bisa?

Tidak semua barang yang dihasilkan oleh kapitalisme bisa langsung dikonsumsi. Tepung terigu, margarin, telur, dan gula pasir tidak akan menjadi kue donat kalau tidak melalui kerja pembuatan. Dan biasanya, itu dilakukan oleh perempuan. Hampir semua bahan makanan yang dijual oleh kapitalisme butuh pengolahan sebelum menjadi makanan siap saji.

Begitu juga dengan barang seperti sapu, pembersih lantai, deterjen, dan lain-lain, semua itu hanya akan jadi rongsokan kalau tidak ada kerja menggunakannya. Dan itu lagi-lagi, banyak dilakukan oleh kaum perempuan.

Kerja-kerja rumah tangga juga berguna dalam mereproduksi tenaga kerja. Kerja rumah tangga yang dilakukan perempuan, seperti memasak, mencuci, melayani suami dan anak, dan menjaga kesehatan keluarga, telah memungkinkan tenaga kerja selalu tersedia di pasar tenaga kerja. Tidak mungkin ada tenaga kerja kalau mereka sakit atau lapar.

Selain itu, semakin banyak kerja rumah tangga yang dilakukan, maka semakin banyak juga waktu luang bagi si laki-laki. Dengan begitu, kapitalisme bisa mengitensifkan waktu kerja. Sebaliknya, semakin banyak beban kerja rumah tangga yang tak tertangani, maka semakin sempit waktu buruh laki-laki di pabrik.

Tidak berhenti di situ, kerja rumah tangga juga selalu menjadi penanggung beban dari kondisi kerja di pabrik. Misalnya soal upah. Karl Marx menunjukkan bahwa semakin banyak kerja yang dilakukan oleh rumah tangga, semakin sedikit uang yang perlu dibelanjakan untuk membeli barang-barang di luar. Artinya, ada kondisi yang memungkinkan kapitalis untuk menekan upah.

Selain itu, ketika upah tinggi, sekali-dua kali si buruh makan di luar. Namun, ketika upah rendah, maka semuanya mesti disediakan oleh kerja rumah tangga. Seringkali juga, ketika si buruh laki-laki mendapat masalah di pabrik, pelampiasannya di rumah tangga (KDRT).

Kedua, eksploitasi tubuh perempuan. Kapitalisme, seperti juga patriakhi, menganggap tubuh perempuan sebagai objek yang bisa dieksploitasi untuk mendatangkan keuntungan. Mulai dari eksploitasi seksual, seperti prostitusi, pornografi, sales promo girl (SPG) dan industri hiburan.

Juga industri kecantikan yang menggunakan tubuh perempuan untuk memproduksi dan memasarkan berbagai produk ‘penambah kecantikan’ perempuan.

Ketiga, pencari nafkah tambahan. Dalam konstruksi masyarakat patriarkhal, laki-laki ditempatkan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan perempuan hanya pencari nafkah tambahan. Ini dimanfaatkan oleh kapitalisme.

Terutama dalam pengupahan. Upah buruh laki-laki lebih banyak dari upah buruh perempuan karena adanya komponen tunjangan keluarga (istri dan anak). Sementara buruh perempuan, sekalipun sudah menikah atau sudah berkeluarga, tetap saja dianggap buruh lajang.

Dampak lainnya, karena hanya dianggap pencari nafkah tambahan, perempuan rentan terhadap praktek upah murah dan status pekerja tidak tetap (kontrak dan outsourcing).

Keempat, kapitalisasi pekerjaan domestik perempuan. Sekarang ini, pekerjaan domestik perempuan, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, sudah terkapitalisasi atau dihargai dengan uang/upah.

Ini nampak pada fenomena Pekerja Rumah Tangga (PRT). Masalahnya, PRT ini seringkali tidak mendapat status sebagai pekerja formal dan tidak dilindungi oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan. Mereka rentan dengan upah murah, status kerja tidak jelas, dan jam kerja yang tidak jelas. Selain itu, mereka sangat rentan terhadap kekerasan.

Kelima, konsumen barang mewah. Maria Mies, penulis buku Patriarchy and accumulation on a World Scale, berbicara tentang Housewifization atau perempuan sebagai istri yang mengurus kerja-kerja rumah tangga. Nah, menurut Mies, salah satu strategi housewifization adalah luxury comsumption atau “konsumen barang mewah”. Maksudnya, supaya perempuan betah di dalam rumah atau ranah domestik, maka mereka coba dipuaskan dengan konsumsi barang-barang mewah.

Luxury comsumption membawa keuntungan ganda bagi kapitalisme:  Pertama, bisa menjinakkan perempuan sehingga menerima posisi sebagai pengurus rumah tangga (domestifikasi); dan kedua, mendorong kapitalisme menciptakan barang-barang mewah meski nilai gunanya hampir tidak ada.

Lima hal di atas hanya contoh untuk menunjukkan bagaimana kapitalisme diuntungkan oleh patriarki. Dan karena itu, ali-alih menghancurkannya, kapitalisme justru mempertahankannya.

Rini Hartono, aktivis Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid