Jeffrey Winters: Esensi Oligarki adalah Pertahanan Kekayaan

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, yang memicu sanksi terhadap para oligarki Rusia, banyak orang yang bertanya: siapa oligarki itu? Mengapa orang Amerika merasa nyaman menyematkan istilah itu untuk para miliarder Rusia, tetapi ogah memberikan label yang sama kepada miliarder AS?

Mungkinkah karena anggapan umum bahwa miliarder AS mendapatkan kekayaannya melalui pasar bebas yang kompetitif, sementara miliarder Rusia menjadi kaya-raya karena korupsi? Atau mungkin karena menganggap Rusia sebagai negara otoriter yang unik, yang memberi hak istimewa dan pengaruh yang tak semestinya kepada segelintir kaum kaya untuk mempengaruhi kebijakan publik dan sistem politiknya?

Untuk mendapat jawaban pertanyaan-pertanyaan itu dari ahlinya, Omar Ocampo, peneliti dari Institute for Policy Studies, telah mewawancarai Jeffrey Winters. Dia penulis buku yang terkenal “Oligarchy” dan direktur dari Equality Development and Global Studies program di Northwestern University.

Wawancaranya sudah diedit agar tidak kepanjangan dan langsung ke intinya.

Mari kita mulai dengan mengulik dasar-dasarnya. Bagaimana anda mendefinisikan oligark dan oligarki?

Seorang oligark adalah seorang yang diberdayakan secara sosial dan politik karena kekayaan. Ini berbeda dengan mereka yang diberdakan oleh jabatan politik. 

Seorang individu yang menjabat Presiden sebuah negara adalah orang yang sangat berkuasa dibandingkan dengan warga negara biasa. Dia bisa menggerakkan berbagai hal. Namun, dia tak perlu menjadi orang super kaya untuk mendapat jabatan. Kekayaan yang sangat terkonsentrasi di tangan segelintir tangan akan menciptakan kekuasaan istimewa dan dipergunakan untuk berbagai hal secara politik.

Namun, istilah “oligarki” agak sedikit rumit. Ini sering diartikan dengan kekuasaan politik di tangan segelintir orang (rule by the few). Namun, pengertian aslinya dari Aristoteles adalah: kekuasaan oleh segelintir kaum kaya.

Satu hal yang dilakukan oleh semua oligark secara politik adalah apa yang saya sebut sebagai “pertahanan kekayaan” (wealth defense). Oligarki sangat berkepentingan dengan pertahanan kekayaan itu. Semetara mereka yang tidak kaya-raya tidak berkepentingan.

Namun, saya bisa pastikan, ketika anda atau saya punya kekayaan yang melimpah, anda akan mulai bertanya-tanya di dalam hati: “bagaimana saya memastikan bahwa saya akan terus memiliki kekayaan ini dan menggunakannya sesuai keinginan saya? Bagaimana saya memastikan bahwa tidak ada masyarakat demokratis yang bisa mendistribusikan kekayaanku atau tidak ada oligark lain yang boleh mengambilnya secara paksa?

Jadi, kalau disederhanakan, oligarki adalah politik pertahanan kekayaan. 

Di dalam buku “oligarchy” anda menulis, meskipun ada perluasan kebebasan politik dan demokrasi sepanjang sejarah, kaum oligark selalu berhati-hati dengan masyarakat demokratis yang mengancam kekayaan mereka. Bisa anda jelaskan soal politik pertahanan kekayaan? Kapan itu muncul dan kapan itu menjadi sangat canggih dan sangat kuat?

Satu temuan saya yang menarik tentang oligarki abad ke-20 di AS adalah oligark sangat berkuasa hingga krisis depresi besar (1929-1939). Namun, sepanjang 1935 hingga 1975, kekayaan 1 persen orang terkaya itu melandai. Mereka tetap kaya, cuma kekayaan mereka tak mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sementara standar hidup rata-rata warga biasa naik tiga kali lipat. Mengapa itu terjadi?

Itu kombinasi dari dua hal: krisis depresi besar dan perang dunia ke-II. Ternyata krisis itu tidak terlalu menguntungkan bagi oligarki. Mereka hanya kuat dalam situasi apa yang saya sebut “politik normal”. Dalam situasi politik normal, kekayaan mereka bisa dipakai menyewa atau membujuk politisi atau pejabat yang memiliki sumber daya politik. Dalam situasi normal, kekuatan kekayaan mereka bisa mendominasi pemilu dan institusi-institusi politik.

Faktor lainnya, pada 1960-an, kita memiliki negara kesejahteraan, serikat pekerja yang kuat, dan tarif pajak untuk kaum kaya mencapai 80 dan 90 persen. Respon para oligark saat itu adalah mencari cara untuk mengalihkan kekayaan mereka keluar dari sistem, memindahkan kekayaan mereka ke luar negeri untuk menghindari pajak, dan mendirikan industri belakang layar untuk mengatur lobi-lobi mereka. 

Ini bermula di Chicago pada 1950-an, ketika para pengacara pajak mulai menciptakan bank lepas pantai (offshore banks), perusahaan cangkang, dan yurisdiksi rahasia (wilayah hukum yang memungkinkan seseorang untuk menyembunyikan kekayaan atau urusan keuangan mereka dari aturan hukum atau kewajiban pajak). Mereka mendirikan perusahaan yang mengumpulkan para pengacara, akuntan, pelobi, dan spesialis manajemen kekayaan untuk memastikan kekayaan para oligark terlindungi.

Apakah mungkin seorang kaya bisa menjadi oligark meskipun tidak tertarik pada politik atau apolitis?

Jadi begini, berpikirlah bahwa sumber daya bisa membuatmu punya kuasa, tetapi tidak serta merta menentukan apa yang anda bisa perbuat dengan kekuasaan itu. 

Kekayaan adalah sumber kekuasaan dan dipergunakan untuk mengikis konsentrasi kekayaan. Apakah menjadi kaya raya otomatis punya keinginan dan motivasi besar untuk mempertahankan kekayaan? Faktanya, sebagian besar oligark telah menggunakan kekayaannya untuk itu (pertahanan kekayaan). Tetapi tidak harus seperti itu juga (tidak mutlak).

Di luar pertanyaan itu, oligarki selalu berada di peta jalan yang mendukung kepentingan mereka dan menggunakan sumber dayanya demi perjuangan itu (pertahanan kekayaan).

Anda bilang, oligarki dan demokrasi bisa hidup berdampingan secara damai, tetapi apakah mereka pernah bentrok? Apa yang terjadi?

Ketika demokrasi (demokrasi yang berbasiskan hak pilih universal dan satu orang satu suara) muncul pertama kali lebih dari 200 tahun yang lampau, masyarakat saat itu sudah sangat tidak setara.

Janji demokrasi kala itu adalah akan banyak keadilan dan kesetaraan dari waktu ke waktu. Tapi kisah demokrasi dan oligarki adalah kisah perlindungan luar biasa bagi oligarki dan demokrasi yang secara konsisten didesain ulang ketika kinerjanya buruk. 

Tapi kami punya cerita tentang demokrasi yang “keluar dari rel”, yang berarti sebuah situasi atau perilaku yang sangat demokratis. 

Ambil contoh Amerika Serikat di bawah pasal-pasal konfederasi (kesepakatan 13 negara bagian yang menjadi Konstitusi pertama AS). Badan perwakilan negara bagian sangat terwakili (reprsentatif) dan demokratis. Di beberapa negara bagian, perwakilannya didominasi oleh petani dan warga negara biasa. Memang, karena rasialisme yang kuat, sebagian besar kulit putih. Tapi mereka tidak kaya, rakyat biasa saja. Dan perwakilan itu sangat responsif terhadap kebutuhan warga.

Tetapi kemudian, sikap responsif itu yang membuat konstitusi didesain ulang agar tidak responsif. Pada 1789, Amerika mengadopsi konstitusi baru. Memang Amerika lebih stabil dengan konstitusi baru, tetapi juga lebih timpang secara sosial dan ekonomi. Kita punya demokrasi, tetapi juga ada ketidaksetaraan. Itu yang membuat banyak orang menyimpulkan ada sesuatu yang tidak berhasil.

Ada contoh internasionalnya juga, yaitu Chile. Salvador Allende, seorang dokter berpikiran kiri, memenangkan pemilu Presiden dan mulai mendorong kebijakan yang mengancam kepentingan kaum kaya. Tanggapan oligark yang disokong oleh AS adalah membunuh Allende dan Menteri-Menterinya. Juga menangkapi, menyiksa, dan membunuhi politisi dan orang-orang yang membuat Allende terpilih. Sebuah rezim militer yang disokong oleh AS berkuasa dan menghancurkan kaum kiri. Setelah kondisi oligark dan para elit mulai relatif aman dan mapan, gelombang demokrasi pun digulirkan kembali.

Saya harus bilang, kejadian seperti itu terus menerus berulang. Pelajaran yang dipetik tidak terlalu banyak, tetapi ini hasil dari memenangkan suara tanpa kekuasaan.

Di ujung percakapan ini, saya meminta solusi dari anda. Tadi anda bilang, krisis (depresi besar dan perang dunia kedua) telah menciptakan kondisi material bagi lahirnya negara kesejahteraan dan kebijakan redistribusi. Apa kebijakan yang efektif untuk mengurangi konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang dan menguatnya oligarki?

Oligarki dan elit tidak pernah akan pernah mau berbagi secara sukarela. Kita tidak bisa menunggu mereka untuk berbagi kekayaan dan kekuasaan. Setiap pembagian kekayaan dan kekuasaan, juga kesetaraan dan keadilan, harus dimenangkan lewat kekuasaan. Itulah satu-satunya cara politik bekerja. Setiap kali kita melihat kemajuan pesat rakyat dari bawah itu karena diorganisasikan. 

Setiap krisis merupakan momentum yang luar biasa untuk mendorong perubahan mendasar, tetapi tantangannya adalah: sangat sulit melakukan mobilisasi ketika kita masih berharap kesempatan yang tepat. 

Kita bisa saja mendorong perubahan pelan-pelan dalam situasi politik yang biasa-biasa saja (normal), tetapi peluang nyata untuk merestrukturisasi institusi dan memukul mundur kaum oligark/elit hanya mungkin terjadi saat ada krisis.

Mobilisasi besar-besaran yang muncul tiga dekade sebelum depresi besar tahun 1930-an memungkinkan perubahan kebijakan yang sangat mendasar lewat “New Deal” (kebijakan penting di bawah Presiden Roosevelt yang menekankan kesempatan kerja penuh dan kebijakan redistribusi).

Ketika krisis keuangan 2008 terjadi, tidak ada gerakan pekerja dan mobilisasi massa yang kuat. Dana talangan (bailout) itu bahasanya oligarki. Itu momentum yang terlewatkan karena kita (gerakan rakyat) tidak siap. Salah satu faktor penting pengorganisasian massa bukanlah kepuasan instan, melainkan bersiap ketika ada kesempatan dan momentum untuk perubahan mendasar.

Oligarki akan berada di titik terkuat manakala pemerintahan bersih dan transparansi di titik nadirnya. Mengapa yurisdiksi rahasia itu jadi penting? Karena ada banyak entitas bisnis yang kita tidak tahu pemilik sesungguhnya. Pemerintah AS tahu setiap sen terakhir yang anda atau saya hasilkan karena kita berada di dalam sistem yang transparan. 

Yang terjadi sekarang, pemerintah berhak mengetahui pendapatan kita, tetapi soal kekayaan dianggap urusan pribadi. Karena itu, massa perlu menyerukan kampanye: kekayaan bukanlah urusan pribadi, itu urusan publik. Harus ada transparansi terhadap kekayaan seperti yang berlaku pada pendapatan.

Jika kita menerapkan pajak kekayaan, anda akan terkejut betapa orang-orang terkaya itu tiba-tiba melompat keluar dari daftar orang terkaya majalah Forbes. Hari ini, ketika tak ada pajak kekayaan, semua oligark berlomba-lomba masuk ke dalam daftar Forbes. Tentu saja, ini bukti betapa kuat dan amannya para oligark. Ini menunjukkan betapa tidak terancamnya mereka.

Kita memang perlu memberlakukan pajak kekayaan, tetapi kita tidak akan bisa mengenakan pajak apapun terhadap apa yang tak tampak (disembunyikan).

Tidak seorang pun yang mengerti kode pajak. Dan itu memang disengaja. Ini urusan yang sangat ribet, sehingga hanya industri pertahanan kekayaan yang bisa melakukannya. Kita butuh model pajak yang sederhana–bukan model pajak tetap (flat tax). Oligark menyukai pajak tetap ketimbang pajak sederhana. Pajak sederhana itu esensinya: “Ini kategori pajak, anda membayar yang ini. Dan tidak ada penghapusan.”

Kalau transparansi diterapkan, baik pada penghasilan maupun kekayaan, dan jika kita punya kode pajak yang sederhana ketimbang kompleks, maka kedua-duanya akan menghancurkan oligarki.

Artikel diterjemahkan dari Inequality.org.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid