Inilah 10 Pemimpin Negara yang Potong Gaji untuk Respon Pandemi

Saat dunia bertatap muka dengan pandemi covid-19, para pemimpin politik di berbagai negara diuji kompetensi, kepekaan, dan empatinya.

Memang tak mudah, selain dipaksa mengendalikan laju penyebaran virus, para pemimpin politik itu juga harus merespon beragam dampak sosial dan ekonominya.

Masalahnya, tak semua negara punya sumber daya yang cukup. Tak semua negara punya daya dukung fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Dan yang terpenting, tak semua negara punya anggaran yang cukup.

Nah, bicara soal anggaran, ada beragam langkah yang ditempuh para pemimpin politik itu. Salah satunya: memotong gaji pejabat tinggi Negara.

Berikut ini, kami suguhkan 10 negara yang pemimpin politiknya rela memotong gaji demi memperkuat anggaran penanganan pandemi.

#1 SINGAPURA

Singapura, negara tetangga kita, merupakan satu dari sedikit negara di dunia yang dianggap cukup bagus dalam merespon pandemi covid-19.[1]

Di negara berpenduduk 5,6 juta jiwa ini, para pemimpin politik berhasil menunjukkan respon yang cepat dan strategi pengendalian yang efektif.

Hingga 8 Juli 2021, Singapura hanya punya 62.668 kasus covid-19, dengan tingkat kematian yang cukup rendah: 36 orang.

Menariknya, selain respon yang bagus itu, pemerintah Singapura juga menunjukkan kepekaan dan empati kepada rakyatnya.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengumumkan pemotongan gajinya sebesar 36 persen gajinya. Kebijakan ini diikuti oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri-Menteri kabinet.

Sedangkan Presiden Singapura, Halimah Yacob, akan memotong 51 persen gajinya untuk memperkuat anggaran pandemi negerinya.

“Kami berbagi kekhawatiran dan kecemasan dengan setiap orang Singapura, dan kami akan melakukan yang terbaik untuk anda. Kami akan selalu bersama dengan semua orang Singapura, jatuh dan bangun,” kata Wakil Perdana Menteri Singapura, Heng Swee Keat, seperti dikutip The Straits Times, 26 Maret 2020[2].

#2 SELANDIA BARU

Selandia Baru di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Jacinda Ardern juga merupakan satu dari sedikit negara yang sukses menghadapi pandemi covid-19.

Hingga 8 Juli 2021, kasus covid-19 di Selandia Baru tercatat sebanyak 2.764 kasus dan jumlah kematian 26 orang.

The Lowy Institute, sebuah lembaga yang mencoba mengukur kinerja negara-negara dalam merespon pandemi, menempatkan Selandia baru di urutan pertama[3].

Kuncinya ada pada respon yang sangat cepat, penutupan perbatasan, pembatasan sosial yang terukur, komunikasi pemerintah yang efektif, dan kepatuhan publik.

Yang menarik, selain kebijakan penanganan pandemi yang sangat bagus, Perdana Menteri Jacinda Ardern juga berhasil menunjukkan kepekaan dan empati yang bagus.

Pada April 2020, dia mengumumkan akan memotong 20 persen gajinya untuk membantu mereka yang paling terdampak oleh pandemi. Kebijakan ini juga berlaku untuk menteri-menterinya.

Kebijakan itu diikuti oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri-Menteri kabinetnya. Gaji mereka juga dipotong 20 persen selama 6 bulan.

Sedangkan anggota parlemen, pemimpin partai atau ketua komite terpilih, akan dipotong gajinya sebesar 10 persen.

#3 MALAWI

Malawi, negeri berpenduduk 16 juta jiwa di benua Afrika bagian selatan, sangat terdampak oleh serangan pandemi covid-19.

Hingga 8 Juli 2021, kasus covid-19 di Malawi mencapai 37.556 kasus dan merenggut nyawa 1.218 orang.

Perjuangan Malawi merespon covid-19 memang tertatih-tatih. Selain daya dukung fasilitas dan tenaga kesehatan yang terbatas, Malawi juga berhadapan dengan problem anggaran.

Beruntung, pada 5 April 2020, ketika lonjakan kasus mulai merangkak naik, Presiden Malawi Peter Mutharika mengumumkan pemotongan gaji.

Presiden berusia 79 tahun ini memotong gajinya sebesar 10 persen selama tiga bulan. Selain itu, dia juga memerintahkan pemotongan gaji 32 orang menterinya.

“Saya perintahkan bendahara Negara untuk melalukan hal berikut: memotong gaji Presiden, Menteri Kabinet, dan Wakil Presiden sebesar 10 persen selama tiga bulan dan mengarahkan segala sumber daya untuk memerangi korona,” kata Mutharika, seperti dikutip Voice of America, 7 April 2020.

Selain kebijakan potong gaji, Presiden Mutharika juga menurunkan harga BBM dan menaikkan tunjangan untuk petugas kesehatan.

Namun, sekalipun Presiden bersusah payah mengumpulkan anggaran demi melawan pandemi, ternyata koruptor di Malawi tak kalah ganasnya.

Setidaknya, Polisi Mawali menangkap 64 pejabat pemerintah yang diketahui menyalahgunaan anggaran senilai 8 juta USD untuk penanganan covid-19.

#4 INDIA

India benar-benar jatuh-bangun menghadampi serangan bergelombang pandemi covid-19.

Sejak kasus pertama di temukan di Kerala, negara bagian India, pada 30 Januari 2020, pemerintah India memang bertindak agak lambat.

Kebijakan penguncian wilayah (lockdown) baru diputuskan pada 24 Maret 2020, ketika jumlah kasus covid-19 sudah menyentuh 24 ribu orang.

Saat itulah, pada 6 April 2020, pemerintah India mengumumkan pemotongan gaji pejabatnya, dari Perdana Menteri, Menteri-Menteri, dan pejabat tinggi lainnya.

Para pejabat itu akan dipotong gajinya sebesar 30 persen selama satu tahun. Potongan gaji tersebut akan diperuntukkan untuk memperkuat anggaran penanganan covid-19.

Selain pejabat itu, Presiden, Wakil Presiden, dan kepala pemerintahan seluruh negara bagian juga dianjurkan untuk memotong gajinya secara sukarela.

“Ini akan kita hela dalam waktu yang panjang, tapi kita tidak boleh capek. Penyelesaian dan misi kita akan muncul sebagai kemenangan melawan covid-19,” kata Perdana Menteri India Narendra Modi, seperti dikutip news.18.com, 6 April 2020.

Sayang, ketika kasus harian mulai menurun sejak Oktober 2020, lalu pelan-pelan melandai hingga Januari 2021, pemerintah India sudah merasa menang.

Sekolah-sekolah mulai dibuka, kampanye pemilu dibolehkan, hajatan diizinkan, bahkan kegiatan keagamaan yang melibatkan jutaan orang juga diperbolehkan.

Kasus harian pun mulai menanjak lagi di bulan Maret 2021, lalu menjadi ledakan yang tak terkendali sepanjang April-Mei 2021. Saat itu, kasus harian mencapai 400 ribuan orang.

Dari data 8 Juli 2021, kasus covid-19 di India mencapai 30,7 juta dan menewaskan 405 ribu orang. Angka ini menempatkan India di peringkat kedua di dunia dalam jumlah kasus dan kematian karena covid-19.

#5 AFRIKA SELATAN

Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang paling terpukul oleh pandemi covid-19.

Sejak kasus pertama awal Maret 2020 hingga 8 Juli 2021, jumlah kasus covid-19 di Afrika Selatan mencapai 2,1 juta kasus dan merenggut nyawa 63,499 orang warganya.

Pada awal-awal gelombang pertama, pemerintah Afrika Selatan sempat memberlakukan lockdown selama 21 hari demi memperlambat penyebaran virus.

Pada saat bersamaan, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengumumkan keputusan untuk memotong gajinya sebesar 30 persen selama 3 bulan.

“Seluruh rakyat, pebisnis, dan individu sudah maju untuk memberi bantuan keuangan dan lain-lain. Untuk mendukung ini, saya memutuskan bahwa Presiden, Wakil Presiden, Menteri-Menteri, dan Wakil Menteri dipotong gajinya 30 persen selama 3 bulan,” kata Presiden Ramaphosa, seperti dikutip Anadolu Agency, 10 April 2020[4].

Selain pejabat negara, Presiden Ramaphosa juga meminta pejabat publik dan pimpinan perusahaan untuk melakukan langkah serupa.

#6 MALAYSIA

Negara tetangga kita, Malaysia, cukup terbilang berhasil mengendalikan pandemi di masa-masa awal.

Setidaknya, dari kasus pertama Februari 2020 hingga Oktober 2020, laju penyebaran virus covid-19 di Malaysia cukup melandai.

Laju penyebaran mulai meninggi sejak November hingga sekarang ini. Hingga 8 Juni 2021, jumlah kasus covid 19 di Malaysia sebanyak 808.658 kasus dan menyebabkan kematian 5.903 orang warganya.

Di bulan Maret 2020, pemerintah Malaysia memang bertindak cepat untuk menghalangi penyebaran virus ini dengan menerapkan lockdown.

Kemudian, pada 9 Maret 2020, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengumumkan kebijakan pemotongan gaji pejabat negara. Mulai dari Perdana Menteri, Menteri-Menteri dan Wakil Menteri[5].

Hasil pemotongan gaji selama 2 bulan itu akan dipakai untuk memperkuat program “Covid-19 Fund” yang diluncurkan Malaysia sejak 11 Maret 2020 untuk membantu rakyatnya yang terdampak pandemi.

Gayung bersambut, pada bulan Juni 2020, 800 ribu pegawai negeri sipil Malaysia juga memotong gaji dan berhasil mengumpulkan dana sebesar RM30 juta (Rp 103 miliar) untuk memperkuat anggaran melawan covid-19.

#7 KOREA SELATAN

Dikutip dari The Korea Times (27/3/2020), Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pejabat tinggi pemerintahan akan mengembalikan 30 persen gaji yang mereka peroleh selama 4 bulan[6].

Presiden, Perdana Menteri, Menteri-Menteri dan Wakil Menteri juga ikut serta dalam kebijakan itu. Bahkan juga sejumlah Gubernur tak mau ketinggalan.

“Mereka setuju mengembalikan sebagian gaji mereka demi berbagi rasa sakit dengan rakyat,” demikian bunyi siaran pers yang dikeluarkan oleh Sekretariat Perdana Menteri, seperti dikutip The Korea Times.

#8 KENYA

Kenya, negeri yang terletak di Afrika bagian timur, juga sangat terdampak oleh pandemi covid-19.

Demi menambah anggaran untuk menghadapi pandemi itu, Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mengambil keputusan yang sangat luar biasa: memotong gajinya 80 persen.

Selain Presiden, Wakil Presiden, Menteri-Menteri, dan jabatan setingkat menteri juga dikenai pemotongan gaji. Menteri-Menteri dan pejabat lainnya akan dipotong gajinya antara 20-30 persen[7].

#9 FIJI

Republik Kepulauan Fiji, negeri berpenduduk kurang dari 1 juta orang di bagian selatan Samudera Pasifik, juga berjibaku menghadapi pandemi covid-19.

Dikutip dari The Fiji Times (27/3/2020), Perdana Menteri Frank Bainimarama akan memotong 32.875 dollar Amerika gajinya dari total 328.750 dollar Amerika yang diterimanya.

Keputusan serupa juga berlaku pada Menteri-Menteri Kabinet, Wakil Menteri, anggota parlemen, dan pemimpin partai politik.

#10 RWANDA

Sejak pandemi covid-19 mulai berjangkit di Rwanda pada pertengahan Maret 2020, pemerintahnya langsung melakukan langkah-langkah pembatasan.

Untuk memperkuat anggaran menghadapi pandemi, pemerintah Rwanda memutuskan untuk menyumbangkan seluruh gajinya pada bulan April 2020[8].

Keputusan ini berlaku untuk Perdana Menteri, Menteri-Menteri Kabinet, dan pejabat tinggi lainnya. RAYMOND SAMUEL


[1] https://www.straitstimes.com/singapore/health/coronavirus-who-praises-singapores-containment-of-covid-19-outbreak

[2] https://www.straitstimes.com/politics/pm-ministers-to-take-three-month-pay-cut-in-solidarity-with-singaporeans-coping-with

[3] https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/29/144200765/selandia-baru-terbaik-tangani-covid-19-seperti-apa-penanganan-di-sana-?page=all

[4] https://www.aa.com.tr/en/africa/south-african-leaders-take-pay-cuts-for-covid-19-fund/1799347

[5] https://www.channelnewsasia.com/news/asia/malaysia-prime-minister-muhyiddin-yassin-pay-cut-covid19-fund-12579016

[6] https://www.koreatimes.co.kr/www/nation/2020/03/356_286589.html

[7] https://www.theafricareport.com/25164/kenyan-government-agree-to-pay-cuts-curfew-imposed-as-coronavirus-cases-grow/

[8] https://furtherafrica.com/2020/04/08/rwanda-ministers-donate-salaries-to-covid-19-fight/

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid