India Masih Beda Pandangan Soal Mata Uang BRICS Pengganti Dolar

Rusia dan India berbeda pandangan terhadap rencana peluncuran mata uang BRICS yang bersandar pada emas sebagai pengganti dolar AS. Diketahui, dolar AS sebagai mata uang yang paling banyak digunakan dalam perdagangan internasional selama ini tidak bersandar pada nilai benda apapun, sehingga AS seakan bebas mencetak uang sesuai keinginannya.

Media berbasis Rusia, RT sebelumnya melaporkan bahwa negara-negara yang tergabung dalam BRICS akan memperkenalkan mata uang baru pada pertemuan tingkat tinggi di Afrika Selatan di bulan Agustus mendatang.

Namun, kabar ini dibantah oleh Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar. Kader partai penguasa India ini mengatakan bahwa India tidak memiliki rencana untuk mendukung mata uang yang bersandar pada emas pada pertemuan BRICS+ yang akan datang. Ia menambahkan bahwa India akan berkonsentrasi pada penguatan rupe sebagai mata uang nasionalnya.

Pernyataan Jaishankar menimbulkan tafsiran bahwa terjadi perbedaan pandangan antara India dengan negara anggota BRICS lainnya. Beberapa pengamat geopolitik menilai India telah menjadi titik lemah di antara anggota BRICS dalam usaha mereka mengatasi dominasi dolar AS. Hal ini kontradiktif dengan antusiasme banyak negara untuk bergabung dalam BRICS dan mengkampanyekan mata uang baru yang bersandar pada emas.

BRICS menjadi kelompok ekonomi terbesar di dunia dengan sumbangan 31,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia atau sudah melampaui produktivitas negara-negara G7. Tren kenaikan ini tampak terus berlanjut dan diperkirakan sumbangan BRICS terhadap PDB dunia akan mencapai 50 persen pada 2030.

Pertemuan tingkat tinggi BRICS akan diadakan pada bulan Agustus 2023 di Afrika Selatan. (dom)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid