Hentikan Intimidasi dan Kekerasan Terhadap Petani Pematang Siantar

Medan, Berdikari Online – Pada hari Rabu (5/6) pukul 21.00 WIB, kelompok yang dipimpin oleh Effendi Hulu kembali mengintimidasi dengan melempar rumah-rumah masyarakat petani anggota Forum Tani Sejahtera Indonesia (FUTASI) di Kampung Baru, Kelurahan Gurilla dan Kecamatan Sitalasari, Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Suhariawan, Koordinator KPA Wilayah Sumatera Utara, via pers release, menyampaikan perbuatan brutalisme PTPN III. Kali ini 2 (dua) perempuan mengalami luka-luka (1 luka berat) akibat dianiaya oleh Karyawan PTPN III yang berganti nama PTPN IV Region 1 Kebun Bangun a.n. Effendi Hulu.

Berdasarkan laporan yang diterima Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Effendi Hulu beserta kelompok nya bahkan melakukan pemukulan dengan menggunakan kayu rotan, mengakibatkan kepala Silvia Ramadani robek dan berdarah sehingga korban langsung dilarikan ke RSUD Djasamen Saragih untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Pada hari Kamis (6/6) pukul 00.31 WIB. saudari Putri Natalia Napitupulu melaporkan kejadian peristiwa tersebut kepada Kepolisian Resor (Polres) kota Pematang Siantar, Laporan Polisi Nomor: LP/B/310/VI/2024/SPKT/POLRES PEMATANG SIANTAR/POLDA Sumatera Utara. Dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor: STTLP/B/310/VI/2024/SPKT/Res P Siantar/Sumut.

Kemudian saudari Silvia Ramadani setelah melakukan Visum, melakukan laporan tambahan ke kantor Polres kota Pematangsiantar mengenai adanya pelecehan seksual yang dialami sebagai
pemicu kerusuhan yang terjadi.

“Petani FUTASI menduduki dan menguasai lahan sebagai Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) di Kampung Baru, Kelurahan Gurilla dan Kecamatan Sitalasari, Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara sudah 20 tahun,” ujar Suhariawan, Jumat, (7/6/2024).

Menurut keterangannya, penggusuran dan penganiayaan oleh PTPN IV pada Rabu (5/6) di Kelurahan Gurilla, Pematang siantar bukanlah yang pertama kalinya dilakukan PTPN IV. Penggusuran berlangsung secara berulang dan massif selama satu tahun sejak Maret 2022.

“Dengan kata lain perampasan tanah disertai dengan kekerasan merupakan salah satu ciri bisnis dan kebiasaan perusahaan perkebunan plat merah selama ini,” jelasnya, “yang sedang terjadi, PTPN III sedang menggusur dan merampas hak hidup 290 KK atau sebanyak 1.208 jiwa petani dan keluarganya yang tergabung dalam Forum Tani Sejahtera Indonesia (FUTASI) yang telah menguasai dan menguasai lahan seluas 126 Ha sejak tahun 2004 lalu tanpa ada gangguan berarti sebelumnya di Kelurahan Gurilla Sitalasari Kota Pematang Siantar.”

KPA Wilayah Sumatera Utara pun menduga kepentingan Koorporasi berada di belakang
upaya penggusuran paksa ini. Sejak rencana pembangunan Tol Tebing Tinggi – P. Siantar
dimulai dan dibangunnya jalan lingkar luar/Outer Ring Road (ORR) Kota Pematang Siantar gangguan kepada masyarakat mulai terjadi. Padahal sesuai dengan surat BPN RI No. 3000 – 310.3-D. II tanggal 19 September 2007 ditujukan kepada Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyatakan bahwa HGU PTPN III Kebun Bangun tidak diperpanjang lagi. Begitu pula Surat Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun No:
243/13-12.08/IV/2018 tanggal 23 April 2018 yang isinya bahwa HGU yang masih sah di
area konflik adalah HGU No. 2/Talun Kondot; dan menjadi aneh setelah 2 tahun tidak aktif terbit pula Sertifikat HGU No.03 Kabupaten Simalungun Desa/Kel. Talun Kondot Kec. Panei yang kemudian dicoret dan diubah menjadi HGU No.1 Kota Pematangsiantar, Desa/Kel. Gurilla dan Bah Sorma, Kec. Siantar Sitalasari.

Berikut tuntutan KPA Wilayah Sumatera Utara :

  1. Mengutuk tindakan represif yang dilakukan oleh Perusahaan PTPN III Kebun Bangun yang berpotensi menyulut konflik horizontal dengan menggunakan karyawan sebagai tameng.
  2. Meminta Menteri BUMN agar memerintahkan Perusahaan perkebunan Negara tidak melakukan penggusuran terhadap petani yang telah banyak berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan telah berjasa membantu negara dalam hal penanggulangan kemiskinan dengan cara mandiri.
  3. Mendesak Kapolresta Kota Pematang Siantar untuk menangkap pelaku penganiayaan masyarakat Kampung Baru Gurilla;
  4. Hentikan kriminalisasi terhadap masyarakat Kampung Baru Gurilla anggota FUTASI
  5. Bebaskan petani anggota FUTASI yang saat ini ditahan Poresta Kota Pematang Siantar;
  6. Mendesak Wali Kota dan DPRD Kota pematang siantar untuk mendorong penyelesaian

Fikar Toadore

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid