Hadapi Kebakaran Hutan, Dua Presiden ini Turun Langsung Padamkan Kebakaran

Dunia masih berjibaku menghadapi kebakaran hutan. Dari Amerika selatan, Amerika Serikat, Kanada, Eropa, hingga Indonesia.

Tahun ini, kebakaran hebat melalap hutan amazon di Brazil. Padahal, hutan ini menyumbang sekitar 20 persen dari produksi oksigen dunia.

Begitu juga Indonesia, salah satu dari 10 negara pemilik hutan terluas di dunia, sedang dikepung kebakaran hutan. Setidaknya, hingga awal Agustus 2019, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 6 provinsi yang sudah menetapkan darurat kebakaran hutan.

Kebakaran hutan membawa kerugian berlapis-lapis. Mulai dari dampak kesehatan, kerusakan ekosistem, kerugian ekonomis, hingga perubahan iklim.

Karena itu, menghadapi bahaya kebakaran hutan, negara harus bersigap. Dan bicara kesigapan Negara itu, biasanya orang menunggu aksi cepat Presiden atau kepala pemerintahannya.

Nah, bicara aksi Presiden dalam menghadapi kebakaran hutan, ada dua Kepala Pemerintahan yang patut jadi contoh, yaitu Vladimir Putin dan Evo Morales.

  1. Vladimir Putin

Tahun 2010, Rusia dilanda kebakaran hutan hebat. Selain melalap 300 ribu hektar hutan, kebakaran ini juga menyebabkan ribuan orang kehilangan rumah. Tak hanya itu, 56 ribu orang diperkirakan meninggal akibat kabut asap dan gelombang panas.

Menghadapi itu, pemerintah Rusia tidak hanya mengumumkan Negara dalam situasi darurat. Negara juga memobilisasi tentara dan relawan untuk menghalau amukan api.

Tidak ketinggalan, Vladimir Putin, yang menjabat Perdana Menteri kala itu, terlangsung ke garis depan. Ia menerbangkan sebuah pesawat Amfibi jenis Be-200, langsung meluncur ke lokasi kebakaran hutan.

Tak menunggu lama, foto dan video Putin sedang memiloti pesawat amfibi, lalu memencet tombol untuk menjatuhkan 24 ton air di atas amukan api, langsung menjadi viral.

Evo Morales

Agustus lalu, kebakaran hebat juga membumihanguskan kawasan hutan di bagian timur Bolivia.

Presiden Bolivia Evo Morales bertindak cepat. Selain menyiapkan aksi kemanusiaan untuk warganya yang terdampak, ia juga memobilisasi sumber daya dan tentara ke wilayah bencana.

Tidak hanya itu, tanggal 27 Agustus lalu, Presiden Evo Morales turun langsung ke lokasi kebakaran hutan. Bukan untuk foto-foto sambil pakai masker di lokasi bencana, tetapi bergabung dan berjibaku bersama regu pemadam untuk memadamkan api.

Ada beberapa video, salah satunya yang diunggah oleh Voice of America (VOA), yang memperlihatkan Evo Morales mengenakan seragam pemadam kebakaran, sambil memikul pompa punggung, lalu ikut memadamkan api.

Di video yang diunggah oleh Presstv, saluran televisi Iran, tampak Evo masih mengenakan kemeja putih dan celana kain sedang mengayunkan sekop di dekat kobaran api dan dibawah terik matahari.

Luar biasa, bukan?

Mungkin, di benak sebagian pembaca, aksi kedua Kepala Pemerintahan itu terbilang pencitraan. Namun, terlepas dari tudingan itu, aksi langsung kedua Presiden itu menunjukkan keseriusan Kepala Negara dalam menghadapi kebakaran hutan.

Aksi itu akan menaikkan moral para pekerja dan relawan pemadam kebakaran. Juga berpotensi memobilisasi warga negara yang lain untuk berkontribusi sesuai kemampuannya untuk menghadapi kebakaran hutan.

Bagaimana dengan Indonesia tercinta?

Meskipun kebakaran hutan persoalan serius bagi bangsa dan Negara, respon negara selalu terlambat.

Padahal, merujuk ke data grafis yang ditampilkan oleh Emergency Event Database (EM-DAT), yang mengkalkukasi kerugian kebakaran hutan sepanjang 1900-2013, Indonesia merupakan negara yang mengalami kerugian material terbanyak kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.

Sayang sekali, kendati ini kejadian yang berulang tiap tahun, Negara selalu terlambat dan gagap merespon. Seringkali, agar tak dianggap bersalah, pemerintah mencoba mencari dan mengacungkan tudingan pada kambing hitam.

Seperti yang pernyataan Menkopolhukam Wiranto soal kebakaran hutan. Pada 13 September lalu, dia menunjuk hidung para peladan, yang notabene petani kecil, sebagai dalang kebakaran hutan. Padahal, tak sedikit kasus kebakaran hutan karena ulah korporasi.

Yang ajaib juga, tanpa melakukan pendalaman isu dan kasus, Wiranto menyebut kebakaran hutan terjadi karena persaingan politik.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut