Fakta-Fakta Pemilu 1955

Pada 29 September 1955, 67 tahun lampau, Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) pertama sejak merdeka.

Saat itu, situasi politik Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Beberapa daerah dikacaukan oleh pemberontakan bersenjata, terutama pemberontakan DI/TII. Secara ekonomi, ruang fiskal pun sangat terbatas.

Namun, Indonesia sukses menyelenggarakan pemilu 1955. Tingkat partisipasi pemilih sangat tinggi: 91,4 persen.

#1

Pemilu 1955 disebut sebagai pemilih paling demokratis dalam sejarah Indonesia. Hampir tidak ada pembatasan politik. Semua parpol, organisasi massa, bahkan perseorangan, boleh menjadi peserta pemilu.

Semua spektrum ideologi juga diberi ruang partisipasi, mulai nasionalis, partai berbasis agama, komunisme, bahkan Trotskyisme. Partai-partai lokal juga mendapat ruang, seperti partai Manguni di Sulawesi Utara dan Partai Kedaulatan Rakyat di Sulawesi Selatan.

Dari Tapanuli, ada kontestan bernama Sibual-Buali. Kontestan ini menggunakan mobil angkutan. Konon, Sibual-Buali adalah perusahaan angkutan umum dari Tapanuli.

#2

Pemilu 1955 berlangsung dua tahap. Tahap pertama, pada 29 September 1955, pemilu untuk anggota DPR. Sedangkan tahap kedua, 15 Desember 1955, pemilihan anggota Konstituante.

#3

Pemilu anggota DPR diikuti oleh 36 parpol, 36 organisasi massa, dan 48 calon perorangan. Mereka memperebutkan 260 kursi DPR. Sementara pemilu konstituante diikuti oleh 39 parpol, 23 organisasi massa, dan 29 calon perongan. Mereka memperebutkan 520 kursi konstituante. Calon perseorangan bebas

#4

Pemilu 1955 menghabiskan anggaran sebesar Rp 479.891.729. Anggaran sebesar itu untuk mencetak surat suara, membuat bilik pencoblosan, sosialisasi pemilu, membayar honor panitia penyelanggara, dan biaya distribusi surat suara ke daerah.

Sementara dana yang dikeluarkan oleh kontestan, baik partai maupun perorangan, tidak ada datanya. Namun, pada Pemilu 1955, sebagian besar Parpol mengandalkan iuran anggotanya.

#5

Semua warga negara yang berusia 18 tahun atau sudah menikah memiliki hak pilih. Bahkan pegawai negara, tentara (Angkatan Perang Republik Indonesia/APRI), dan polisi juga punya hak pilih.

#6

Lima besar pemenang pemilu 1955: (1) PNI mendapat 8,4 juta suara, (2) Masyumi mendapat 7,9 juta suara, (3) NU mendapat 6,9 juta suara, (4) PKI mendapat 6,1 juta suara, dan (5) PSII mendapat 1,09 juta suara.

#7

Meski terdengar sepele, tapi budaya antre pada pemilu 1955 patut diacungi jempol. Sejumlah gambar arsip pemilu 1955 menunjukkan antrean panjang pemilih. Tidak ada diskriminasi kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa.

Bahkan, pejabat Negara ikut antre. Presiden Sukarno, yang menggunakan hak pilihnya di TPS Kementerian Penerangan Jalan Merdeka Barat nomor 9 Jakarta, ikut mengantre di tengah-tengah rakyat biasa.

Mohammad Hatta juga demikian. Wakil Presiden pertama RI itu tampak antre sembari membaca koran. Pimpinan partai politik, seperti Ali Sastroamidjojo (PNI), M Natsir (Masyumi), dan Sjahrir (PSI), juga ikut antre di TPS.

#8

Demi memastikan hak pilih pemilih perempuan yang sudah punya anak, beberapa TPS menyediakan Tempat Penitipan Anak (TPA), seperti di TPS di kelurahan Randusari, Semarang Selatan, Jawa Tengah.

MAHESA DANU

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid