Nyanyian Rakyat Victor Jara

Bernyanyi sekedar untuk bernyanyi. Atau bernyanyi karena punya suara bagus. Atau bernyanyi untuk sekedar menghibur. Atau bernyanyi agar bisa mendapatkan popularitas dan kekayaan.

Bagi Victor Jara, yang pada 28 Oktober lalu (harusnya) berusia 88 tahun, bermusik haruslah mengabdi kepada rakyat banyak. Lagu-lagu harus menjadi penyambung lidah rakyat tertindas.

Tak hanya lewat lirik-lirik yang keras, atau pentas yang dipenuhi atribut politis, tetapi juga lewat kerja-kerja politik langsung. Bukan sebagai manusia dengan sikap yang mengambang, tetapi sebagai manusia politik dengan pendirian politik yang jelas: sosialis.

Pengabdian kepada rakyat, baik lewat musik maupun laku politik, dilakukan oleh Victor hingga maut menjemput ajalnya pada 16 September 1973.

Dari Keluarga Miskin

Victor lahir dari keluarga petani miskin di San Ignacio, provinsi  Diguillín, sekitar 500 kilometer dari Ibukota Santiago.

Bapaknya, Manuel Jara, bukan hanya petani miskin, tetapi juga buta huruf. Terlahir tanpa privilege, Victor tak hanya kehilangan kesempatan bersekolah, juga terlempar sebagai petani di usia belia.

Sepanjang hari, dari matahari terbit hingga terbenam, Victor kecil menuntun dan menarik sapi. Sedangkan bapaknya menekan bajak ke tanah.

Kelak, cerita masa kecilnya yang pahit itu dituangkan oleh Victor lewat sebuah lagu, El Lazo.

Tetapi derita Victor tak sampai di situ. Kemiskinan kerap mendekatkan orang pada kegelapan. Seperti Manuel, bapaknya, yang menggunakan alkohol sebagai jalan penghiburan dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Beruntung, Victor masih punya cahaya: ibunya, Amanda Martinez. Sang Ibu pandai bermain musik, terutama musik tradisional rakyat Chile. Hebatnya, kendati hanya petani miskin, ibunya sangat percaya pada kekuatan pendidikan sebagai jalan mengubah nasib.

Masih di usia belia, keluarga Victor pindah ke kota Santiago. Di kota besar itu, demi menyambung hidup keluarga, ibunya berjualan makanan di pinggir jalan. Di kota ini pula bapaknya, Manuela, meninggal Victor, ibu dan saudara-saudaranya.

Di kota Santiago, Victor bisa mengenyam pendidikan. Sayang sekali, di usia 15 tahun, ibunya meninggal karena serangan jantung. Jadi, di usia sebagai remaja tanggung, Victor harus berjuang sendiri untuk meneruskan hidup.

Saat itu, dia tinggalkan sekolah umum, lalu pindah ke seminari. Namun, baru 2 tahun bergelut dunia agama, Victor memutuskan keluar dari seminari.

Tahun itu, 1953, dia memilih menjadi serdadu. Ini pun tak bertahan lama. Akhirnya, setelah keluar dari dinas ketentaraan, dia kembali ke kampung halamannya. Di sana, di tengah kehidupan orang-orang desa, Victor belajar tentang kesenian rakyat.

Menjadi Seniman

Tahun 1954, guna memperkuat teori berkeseniannya, dia mendaftar di Universitas Chile di Santiago. Di sini belajar tentang teater, musik, dan cerita-cerita rakyat.

Di sinilah, ketika sedang mempelajari musik-musik rakyat, Victor bertemu legenda musik rakyat Chile, Violetta Parra.

Violetta, seorang musisi folk, merupakan penggagas gerakan berkesenian baru di Chile. Namanya: gerakan Nueva Canción atau nyanyian baru.

Nueva Canción, yang populer di tahun 1960-an, bukan hanya berusaha memadukan musik modern dan kesenian tradisional Chile, tetapi juga menautkan antara musik dan protes sosial.

Dunia kala itu memang sedang gandrung dengan musik folk yang berpadu dengan protes sosial. Di belahan dunia barat, ada nama besar seperti Bob Dylan, Joan Baez, The Beattles, dan Pete Seeger.

Violetta dan gerakan Nueva Canción-nya punya semacam sanggar, disebut Peña (sekarang disebut La Peña de Los Parra), tempat para seniman kerakyatan berkumpul, belajar bersama, dan berkarya.

Di sanggar itulah Victor menghabiskan hari-harinya, sambil mempertajam daya kreasinya mengenai kesenian rakyat. Di sinilah lahir album pertamanya, Víctor Jara (Geografía), tahun 1966.

Oiya, tahun 1958, di kampus Universitas Chile di Santiago, Victor juga bertemu Joan, seorang mahasiswa asal Inggris yang pandai menari. Kemudian hari, keduanya menjadi sepasang kekasih dan menikah.

Tahun 1969, dalam sebuah festival musik Nueva Canción, lagunya Victor,  Plegaria de un Labrador (Doa Seorang Buruh Tani), jadi lagu pemenang.

Tahun 1969, keluarlah album Pongo en tus manos abiertas, yang berisi lagu untuk Che Guevara (Zamba del Che) dan Camilo Torres (Cruz de Luz, Camilo Torres).

Lagu “Te recuerdo Amanda”, yang diperuntukkan untuk ibunda tercinta, juga ada di album itu.

Aktivisme Politik

Tahun 1960-an, Chile merupakan negara berpenduduk 8 juta jiwa, dengan kekayaan alam yang melimpah: batubara, minyak dan tembaga. Namun, sebagian besar kekayaan itu dikangkangi oleh oligarki.

Tahun 1964, seorang politisi Kristen Demokrat, Eduardo Frei, terpilih sebagai Presiden. Meskipun mengumbar janji-janji progressif bagi rakyat Chile, tetapi tak banyak membawa perubahan. Agenda reforma agraria tidak jalan. Dominasi perusahaan asing terhadap kekayaan Chile tak terusik.

Sebagai musisi kerakyatan, yang bergelut dengan berbagai persoalan kehidupan, Victor tak mau berumah di atas angin. Dia ingin terus memijak bumi manusia dengan segala persoalannya.

Karena itu, menjelang 1970, Victor menjadi bagian dari Partai Komunis Chile. Partai yang berdiri sejak 1912 itu dianggap sejalan dengan visi kemanusiaan Victor: masyarakat demokratis dan berkeadilan sosial.

Lagu-lagunya makin memihak nasib kaum buruh, petani, dan rakyat miskin. Setelah itu, lahirlah album “Canto Libre” (1970) dan “El derecho de vivir en paz” (1971).

Album “El derecho de vivir en paz” ini menunjukkan sikap politik Victor yang makin sosialis. Di album ini ada lagu “El derecho de vivir en paz”, yang diperuntukkan bagi pejuang kemerdekaan Vietnam, Ho Chin Minh.

Ada juga lagu “Brigada Romana Parra”, yang diperuntukkan untuk Ramona Parra, seorang buruh perempuan yang gugur tertembak saat aksi demonstrasi.

Tahun 1969, sebuah koalisi politik partai-partai kiri dan progressif terbentuk. Namanya: Unidad Popular  (UP) atau Persatuan Rakyat, yang menyatukan komunis, sosialis, radikal, sosial-demokrat, independen, dan Kristen kiri.

UP mengusung Salvador Allende, seorang dokter dan marxis, sebagai calon Presiden. Dia sudah tiga kali maju sebagai Capres (1952, 1958, 1968), tetapi gagal meraih kemenangan.

Di pemilu 1970 itu, Victor dan seniman-seniman kerakyatan lainnya berjasa besar dalam kampanye-kampanye Allende dan UP. Lagu kampanye Allende yang terkenal, Venceramos (Kami akan menang), diciptakan oleh Sergio Ortega dan Victor Jara.

Tak hanya mencipta lagu, Allende dan seniman Nueva Canción turun ke bawah. Menggelar konser di kampung-kampung, pabrik-pabrik, dan di jalanan. Juga menggelar konser besar di stadion.

Dan tak ada perjuangan yang sia-sia. Pada pemilu September 1970, UP memenangi pemilu. Allende terpilih sebagai Presiden. Dia menjadi marxis pertama di bawah kolong langit ini yang meraih kekuasaan dengan jalan damai: pemilu.

Kudeta Berdarah

“Kami menonton TV ketika seorang teman mengabarkan Allende menang. Kami tak percaya. Kami pergi ke kantor Federasi Mahasiswa. Massa rakyat sudah berkumpul. Orang-orang dari pinggiran kota, dengan kuda dan gerobak, mengalir ke kota. Mereka merayakan kemenangan Allende,” kenang Joan Jara, istri Victor Jara, menceritakan kemenangan Allende.

Tapi revolusi barulah dimulai. Meski menang pemilu, koalisi kiri UP hanyalah minoritas di parlemen. Hal ini yang merintangi segala upaya dan langkah progressif pemerintahan Allende.

Begitu berkuasa, Allende menjalankan agenda reforma agraria, nasionalisasi perusahaan swasta (bank, batubara, baja, dan tembaga), dan menggerakkan partisipasi warga Chile.

Bersamaan dengan agenda progressif itu, AS dan sayap kanan tak henti-hentinya melancarkan sabotase ekonomi, penghentian produksi, hingga melarikan kapital asing keluar dari Chile (capital flight).

Namun, meski dirintangi dengan segala cara, Allende dan UP kembali menang di pemilu 1973. Perolehan suaranya menaik menjadi 43,4 persen. Situasi inilah yang membuat sayap kanan AS merasa frustasi, lalu mulai merancang jalan lain: kudeta militer.

Sementara itu, di masa-masa kekuasaan Allende itu, Victor Jara terus bermusik. Tahun 1972, dia mengeluarkan album berjudul “La Población”, yang didedikasikan bagi kaum miskin dan rakyat pekerja di kota Santiago.

Namun, nasib bercerita lain, di tengah-tengah kesibukan Victor memajukan kesenian rakyat Chile, sebuah kudeta militer merampok kekuasaan pemerintahan Allende pada 11 September 1973.

Kudeta itu dipimpin oleh Jenderal Pinochet, dengan dukungan penuh AS, menggerakkan tank, artileri, dan pesawat tempur untuk menggempur istana Kepresidenan Chile, La Moneda Palace.

Allende tak menyerah. Di tengah kepungan dan gempuran, Allende memilih bertempur hingga akhir. Dalam pidato terakhirnya ia tegas mengatakan: Inilah kata-kata terakhirku dan aku yakin pengorbananku tidak akan sia-sia. Allende gugur dalam peristiwa itu.

Sementara di jalanan, rakyat berusaha turun ke jalan untuk melawan kudeta.

Saat itu, bersama mahasiswa Universitas Teknik, Victor menggelar aksi menentang kudeta. Tentara menggempur kampus dengan senjata dan tank. Victor dan mahasiswa bertahan di dalam kampus.

Namun, bagaimana pun, pertempuran itu berjalan tak seimbang. Pagi hari, tentara berhasil merangsek masuk ke dalam kampus. Semua yang bertahan di dalam kampus, termasuk Victor, ditangkap dan kemudian digiring ke sebuah stadion.

Di stadion itu, bersama ribuan tahanan lainnya, Victor disiksa dengan keji oleh tentara. Bahkan, agar tak lagi memainkan gitar dan bernyanyi, tentara meremukkan tangan Victor.

Dan akhirnya, pada 16 September 1973, 5 hari setelah kudeta militer, tentara Pinochet menembak mati Victor Jara dengan 44 kali tembakan.

Api Yang Tak Kunjung Padam

Di bawah rezim militer Pinochet, Nueva Canción dilarang. Musik-musik kerakyatan dianggap “musik subversif”. Instrumen musik tradisional, seperti quena (semacam flute) dan charango (gitar kecil) turut dilarang. Film-film dan literatur dibakar.

Namun, gerakan Nueva Canción tak mau mati. Selain bergerak di luar negeri, mereka juga bergerilya di bawah tanah di Chile. Di bawah tanah, lagu-lagu Victor Jara terus mengilhami perlawanan. Hingga kediktatoran Pinochet berakhir tahun 1990.

Meski kediktatoran Pinochet sudah berakhir sejak 1990, butuh hampir 20 tahun untuk membuka kembali kasus pembunuhan Victor Jara. Pada 2008, di bawah pemerintahan sosialis Michelle Bachelet, sejumlah bekas tentara mulai digiring ke pengadilan atas kasus itu.

Akhir 2009, pemakaman ulang Victor Jara dihadiri oleh ribuan orang. “Akhirnya, setelah 36 tahun, Victor bisa beristirahat dengan tenang,” kata Bachelet.

Kini, setelah hampir setengah abad kematiannya, api perjuangan Victor Jara terus berkobar. Tak hanya di Chile, tetapi juga di negara lain.

Akhir 2019 lalu, ketika protes anti-neoliberal mengguncang seantero Chile, lagu-lagu Victor Jara ikut berkumandang di tengah-tengah aksi. Salah satunya: El derecho de vivir en paz (Hak untuk Hidup dalam Damai).

Begitulah, jemari Victor bisa diremukkan, nyawanya bisa dirampas dengan 44 tembakan, tetapi api perjuangan dan nyanyian revolusinya terus menyala.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid