Demi Memperjuangkan Keadilan, Petani Jawa Tengah Akan Aksi Jalan Kaki Menuju Istana Presiden

Jawa Tengah, Berdikari Online – “Konflik agraria ini sudah cukup lama. 24 tahun kami berjuang bersama para petani, menggunakan langkah-langkah yang ditentukan oleh peraturan, namun respon dari Pemerintah Daerah tidak memberikan kemakmuran para petani. Bagaimana petani hidup makmur jika lahan saja tidak bisa diberikan. Maka, jika tetap seperti ini, kami akan bergerak untuk bersua dengan Presiden Joko Widodo pada Hari Tani,” demikian disampaikan Bagas selaku Ketua Pimpinan Wilayah Serikat Tani Nelayan (PW STN ) Jawa Tengah, Senen, 31 Juli 2023, dalam
Rapat Wilayah PW STN di Desa Kemitir Dusun Ngoho, Kabupaten Semarang.

Rapat tersebut dihadiri juga Ahmad Rifai, Ketua Umum Pimpinan Pusat Serikat Tani Nelayan (PP STN), Kelompok Tani Setio Manunggal dari Desa Kemitir Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Kelompok Tani dari Desa Ngresepbalong, Kabupaten Kendal.

Opsi langkah ke Istana Presiden itu ditempuh karena tidak adanya perkembangan dan respon baik dari Bupati Semarang selaku Ketua Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) dalam konflik lahan yang berlokasi di Kabupaten Semarang.

Selain rencana Aksi Jalan Kaki ke Istana Presiden, rapat tersebut melakukan evaluasi terkait dengan kasus konflik agraria yang sedang ditangani STN.

Sebagaimana diketahui, konflik agraria yang ditangani di Desa Ngresepbalong sudah mendapatkan legalitas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait dengan Perhutanan Sosial seluas 2,6 Ha; Sedangkan terkait dengan kasus di Desa Kemitir dari Eks. HGU PT. Rumpun Sari Medini, Kebon Kali Gintung dengan total luas lahan 148 Ha yang wilayahnya berada di Kabupaten Temanggung dengan luas lahan 31 Ha dan di Kabupaten Semarang dengan luas lahan 117 Ha.

HGU tersebut sudah selesai pada tanggal 31 Desember 2019 yang tidak diperpanjang oleh perusahaan. Lahan yang di Kabupaten Temanggung sudah dilakukan pengecekan lokasi pada tanggal 26 Juli 2023 dengan hasil bahwa lahan tersebut tidak ada dokumen resmi untuk HGU dari PT. Rumpun Sari Medini.

Selain persoalan agraria, mereka membahas juga terkait potensi yang bisa dilakukan dari lahan 2,6 Ha di Desa Ngresepbalong. Selain potensi untuk pembuatan pariwisata, lahan itu bisa digunakan untuk perkebunan yang akan menjadi identitas pariwisata tersebut.

“Pete jika dilihat dari harga jual di pasar itu cukup besar, dan usia tumbuhannya cukup panjang. Selain bisa menjadi ikon pariwisata, tumbuhan pete juga bisa memberikan pendapatan tambahan untuk para petani dan warga,” usul Ahmad Rifai selaku PP STN.

(Ika A. L.)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid