Bicara Kesetaraan Gender, Tengoklah Kuba!

Revolusi dalam revolusi. Itulah istilah yang dipakai Fidel Castro untuk menggambarkan perjuangan menegakkan kesetaraan gender di Kuba pasca revolusi 1959.

Sebelum revolusi, kondisi perempuan Kuba sangat suram: buta-huruf, sebagian besar menganggur, menjadi objek kekerasan, dan menderita diskriminasi berlapis-lapis.

Sebelum revolusi, hanya 12 persen perempuan yang bekerja. Prostitusi juga sangat marak saat itu. Di kota Havana saja, saat itu ada 270 rumah bordil dan 11.500 perempuan yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja seks (Samuel Farber, 2015).

Gambaran lain menunjukkan, pada tahun 1953, hanya 13,7 persen perempuan dewasa yang bekerja di luar rumah. Sebagian besar perempuan Kuba ditaruh di ruang domestik.

Itu secuplik gambaran perempuan pra pra-revolusi.

Kendati demikian, dalam perjuangan memenangkan revolusi, kaum perempuan sudah ambil bagian. Bukan di garis belakang, tetapi di garis depan. Diantara mereka: Vilma Espín, Tete Puebla, Celia Sánchez, Melba Hernández dan Haydée Santamaría.

Setelah revolusi, perempuan memainkan peran makin besar. Tahun 1960, guna mendorong maju revolusi, perempuan menghimpun diri dalam Federasi Perempuan Kuba (FMC). Organisasi ini memobilisasi perempuan dalam membangun sekolah dan klinik kesehatan. Sekarang FMC punya anggota 4 juta orang perempuan atau menghimpun hampir 86 persen perempuan Kuba.

Tahun 1961, ketika Fidel mengomandokan gerakan pemberantasan buta-huruf, perempuan juga berperan besar. Hampir 52 persen relawan pemberantasan buta-huruf, yang disebut Brigadistas, adalah perempuan. Mereka rela dikirim hingga ke pelosok paling terpencil guna mengajar sebangsanya mengenal aksara.

Kini, setelah 57 tahun revolusi, capaian revolusi Kuba di lapangan kesetaraan gender sungguh luar biasa. Seperti diumumkan FMC baru-baru ini, keterwakilan perempuan Kuba di parlemen (Majelis Nasional) terbilang tertinggi di dunia, yakni 48,86 persen. Kuba menempati urutan ketiga di dunia. Bandingkan dengan Amerika Serikat, negeri yang sering disanjung sebagai ikon demokrasi, hanya punya 19,4 persen legislator perempuan.

Kemudian, 9 dari 15 Provinsi di Kuba dipimpin oleh perempuan. Artinya, lebih dari separuh Provinsi di Kuba diperintah oleh politisi perempuan. Sekarang coba tengok negeri kita, Indonesia, berapa jumlah provinsi yang Gubernurnya perempuan?

Di lembaga peradilan lebih mencengankan lagi. Menurut Presiden Mahkamah Rakyat Kuba (TSP), Rubén Remigio Ferro, 80 persen hakim di Kuba adalah perempuan. Sedangkan 70 persen pengacara Kuba adalah perempuan. (Sumber: http://english.juventudrebelde.cu/cuba/2015-11-10/women-serving-justice-)

Di bidang pendidikan, kemajuan perempuan Kuba juga luar biasa. Sebanyak 63 persen pendaftar Universitas adalah perempuan. Sedangkan 60 persen sektor profesional dan teknisi Kuba berjenis kelamin perempuan. Data lain menyebutkan, 80 persen mahasiswa di Kuba adalah perempuan. Sedangkan 68 persen lulusannya adalah perempuan.

Perempuan juga berpartisipasi dalam ruang ekonomi. Menurut data ILO, pada tahun 2014, 44 persen perempuan Kuba terlibat aktif dalam kehidupan ekonomi. Dalam hal upah, upah pekerja laki-laki dan perempuan Kuba relatif sama. Sebagain besar perempuan Kuba bekerja di layanan publik, seperti kesehatan (70 persen) dan pendidikan (80 persen).

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid