Anak-anak Muda yang Membawa Obor Pengetahuan ke Desa-desa

Di tahun 2010, beberapa anak-anak muda punya ide mulia: mencerdaskan rakyat di desanya. Tidak berhenti dengan ide di kepala, mereka mulai mengumpulkan buku bekas.

Dari buku-buku bekas itu, kemudian meminjam ruangan sebuah rumah, berdirilah sebuah perpustakaan sederhana. Perpustakaan sederhana ini kemudian dinamai garasi buku. Garasi buku ini terletak di desa Bulupayung, kecamatan Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah.

“Misi kita adalah memasyarakatkan budaya membaca dan menulis. Ya, semacam gerakan literasi desa,” kata Kelik Priyanto, salah anak muda penggagas Garasi Buku ini, kepada berdikarionline.com, Minggu (13/11/2016).

Siapa sangka, Garasi Buku mulai berkembang. Anak-anak desa, yang selama ini sulit mengakses bacaan, seakan menemukan oase baru untuk menambah pengetahuan mereka.

Sekarang ini, kata Kelik, pengunjung Garasi Buku bukan hanya dari desa Bulupayung, tetapi dari desa-desa sekitar juga. Jumlah anak-anak muda yang menjadi relawan juga bertambah menjadi 18 orang.

Tidak hanya itu, Garasi Buku tidak hanya menyediakan bacaan dan pelajaran menulis, tetapi juga mulai kegiatan seni seperti menari, puisi dan teater.

Sekarang di Garasi Buku ada kelas bahasa, kelas menulis, kelas musik, kelas sinematografi dan kelas fotografi. Semuanya gratis alis tidak dipungut bayaran sepeser pun.

“Kami berencana memperluas Taman Baca Masyarakat (TBM) ini ke desa-desa sekitar. Beberapa kawan dari desa tetangga sudah mulai berkunjung,” papar pemuda alumnus sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta ini.

Tetapi, ada mimpi yang belum terwujud: menjadi desa Bulupayung sebagai desa percontohan desa literasi di Cilacap. Karena itu, anak-anak muda ini butuh sokongan banyak pihak.

“Kita belum punya donator tetap untuk membiayai kegiatan-kegiatan kita. Padahal, kita berencana ada banyak kegiatan untuk menarik minat anak-anak desa,” tuturnya.

Disamping itu, minat membaca di kalangan anak-anak muda desa masih minim. Sebagian mereka menganggap membaca sebagai kegiatan yang membosankan.

Karena itu, Garasi buku memperlebar kegiatannya ke seni, dengan harapan bisa menarik minat anak-anak muda tersebut.

Seperti tanggal 10 November lalu, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Garasi Buku menggelar kegiatan seni bertema “Enyong Koe Dadi Siji Mbangun Desa Literasi”.

Kegiatan ini menampilkan kebolehan seni anak-anak desa Bulupayung. Mulai dari musik, tarian, teater, musikalisasi puisi hingga monolog. Mereka juga melibatkan pekerja seni-budaya, khususnya aktivis Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) Yogyakarta.

Kerja-kerja Garasi Buku sangat patut diapresiasi. Seperti dikatakan sejarawan Amerika, Howard Zinn: “Tindakan-tindakan kecil, bila digabungkan dengan jutaan orang, dapat mengubah dunia.”

Coba bayangkan, kalau kerja seperti Garasi Buku ini juga dilakukan oleh ribuan, atau bahkan jutaan anak muda desa lainnya, maka desa-desa Indonesia akan mengalami revolusi besar.

Amisani Khallistani

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid