All Eyes on Rafah: Apa Tujuan Israel di Rafah?

Pengeboman yang dilakukan Israel terhadap kawasan Rafah yang dipenuhi tenda-tenda para pengungsi telah memunculkan kemarahan masyarakat dunia. Video dan foto kejadian itu dengan cepat viral di seluruh dunia, dengan sebuah foto yang sangat tragis, yaitu seorang bayi terpenggal kepalanya. Tagar All Eyes on Rafah trending berhari-hari. Poster  All Eyes on Rafah sudah dipasang ulang lebih dari 45 juta akun IG sedunia.

Sedemikian sadisnya pengeboman itu, menewaskan 45 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas dan hampir 250 lainnya terluka, membuat Sekjen PBB Antonio Guterres menulis di akun X-nya, “Saya mengutuk tindakan Israel yang menewaskan puluhan warga sipil tak berdosa yang hanya mencari perlindungan dari konflik mematikan ini.”

Menghadapi protes keras banyak pihak, awalnya, PM Netanyahu menyebut kejadian Minggu malam (26 Mei 2024) itu sebagai “insiden tragis” dan “akan melakukan penyelidikan.” Namun seiring dengan itu, mesin-mesin propaganda Israel dan media pendukungnya di seluruh dunia menyebarluaskan berbagai disinformasi, antara lain “Hamas-lah yang merencanakan pengeboman itu.”

Namun upaya propaganda ini tidak banyak mencapai sasaran, karena publik dunia sudah disuguhi adegan sepanjang 8 bulan genosida di Gaza, dengan dokumentasi yang sangat lengkap, direkam oleh para korban, yaitu warga Gaza. Israel sejauh ini sudah membunuh lebih dari 35.000 orang, bagaimana mungkin berkata “tidak sengaja”?

Muncul pertanyaan, apa sebenarnya tujuan Israel dengan melakukan genosida tanpa henti itu? Prof. John J. Mearsheimer, seorang pakar Hubungan Internasional bermazhab realis, dalam salah satu kuliah umumnya menjelaskan bahwa yang dilakukan Israel saat ini adalah “pembersihan etnis” karena Israel sejak awal pendiriannya di tahun 1948 mencita-citakan sebuah negara khusus Yahudi. Dengan demikian, Israel berupaya agar penduduk Arab-Palestina di tanah itu semakin berkurang.

Dalam rangka melakukan pembersihan etnis, kata Mearsheimer, Israel melakukan 3 langkah, yaitu membunuh orang Palestina dalam jumlah besar, membuat kawasan itu tidak lagi bisa ditempati (dihancurkan), dan membuat populasi kelaparan.

Langkah pertama Israel, yaitu membunuh orang Palestina, telah menewaskan lebih dari 34.000 orang tewas (data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan). Data dari Kementerian Gaza menyebutkan bahwa 36.050 warga Palestina telah tewas sejak dimulainya perang dan 81.026 orang terluka.

Namun, meski Gaza sudah mengalami pembantaian dan segala bentuk tekanan, warga Gaza tak jua bisa diusir keluar Gaza, sehingga Israel mengeskalasi pembunuhan itu, dengan Rafah sebagai sasaran, karena di sanalah konsentrasi pengungsi terbanyak di wilayah Gaza.

Terkait langkah ke-2 dan 3, Israel meledakkan rumah-rumah di kawasan yang sudah ditinggalkan mengungsi (misalnya, di kawasan utara dan tengah Gaza), dan menghalangi masuknya bantuan pangan ke Gaza. Data dari UNOCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB) akhir-akhir ini, sejak Israel mengepung Rafah, truk-truk bantuan pangan yang masuk hanya 58, sementara sebelumnya 176 truk. Padahal kebutuhan harian 2,3 juta warga Gaza yang kini sangat kekurangan pangan, minimalnya 500 truk per hari. PBB sudah sering memperingatkan bahwa Gaza terancam wabah kelaparan.

Lalu, dimanakah solusinya? Dunia perlu membuat terobosan pemikiran. Berkeras mengusung “two states solution” yang terbukti gagal, tidak akan memberi solusi. Israel sama sekali tidak menghendaki ada negara Palestina di tanah ini, terbukti dari penyataan-pernyataan para petinggi Israel selama ini, dan tindakan Israel yang terus menduduki Tepi Barat. Di Tepi Barat, wilayah yang disepakati PBB sebagai wilayah negara Palestina, yang terjadi adalah pembangunan permukiman-permukiman khusus Yahudi, dengan penduduk yang didatangkan dari berbagai penjuru dunia. Saat ini, 700.000 pemukim Israel tinggal di sekitar 300 pemukiman ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki. Permukiman itu dibangun di tanah yang sudah dikosongkan dimana para pemiliknya (yaitu warga Palestina) diusir dan terpaksa tinggal di kamp-kamp pengungsian.

Bila dunia menghendaki Two States Solution, artinya, pendudukan Israel di Tepi Barat harus dihentikan. PBB berkali-kali sudah mengeluarkan resolusi mengecam pembangunan permukiman Israel itu tetapi tidak ada langkah konkrit untuk menghentikan Israel.

Seperti dikatakan oleh Ilan Pappe, sejarawan terkemuka Israel, dalam bukunya “On Palestine”, solusi yang lebih implementatif adalah “one state solution”, di mana hanya ada satu negara (pemerintahan) di tanah Palestina, yaitu pemerintahan yang menegakkan hak-hak semua orang di tanah itu, apapun ras dan agamanya. Untuk itu, yang perlu dilakukan, menurut Pappe, adalah menumbangkan Rezim Zionis.

Skenario yang sama pernah terjadi pada rezim apartheid di Afrika Selatan yang ditumbangkan dengan cara diboikot beramai-ramai oleh komunitas internasional. Kemudian, dibentuk pemerintahan demokratis yang mengakui persamaan hak warga kulit hitam dan kulit putih di sana.

Terakhir, apakah Israel akan dapat mencapai tujuannya melakukan pembersihan etnis? Dengan kondisi hari ini di mana mata dunia sudah sedemikian terbuka, sehingga semakin besar dukungan bagi kemerdekaan Palestina, agaknya Israel tidak akan berhasil.  Di saat yang sama, bangsa Palestina adalah bangsa yang sangat resisten dan resilien. Mereka akan bertahan di atas tanah mereka, dan akan terus melawan.[]

Penulis : Dina Yulianti Sulaeman*

*pengajar di Hubungan Internasional Unpad.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid