10 Tips Kampanye Politik di Media Sosial

Tidak terpungkiri, media sosial mulai menjadi palagan baru bagi kampanye politik. Banyak partai maupun politisi yang mulai berdesak-desakan mencari panggung di media sosial.

Tentu saja, pemanfaatan media sosial untuk menyebarluaskan pesan-pesan politik tak terhindarkan. Mengingat, seperti konteks Indonesia, hampir 170 juta penduduknya terhubung dengan medsos.

Namun, berselancar di media sosial tidaklah mudah bagi para politisi. Tak sedikit diantara mereka yang terpaksa menyewa kaum profesional untuk bisa mengoperasikan akun-akunnya.

Nah, berikut ini 10 tips berkampanye politik di media sosial.

#1 Rajin Menyapa Lewat Video Siaran Langsung

Media sosial sebetulnya menghadirkan sesuatu yang selama ini tak bisa diatasi media tradisional: memangkas jarak. 

Dalam hal ini, media sosial memungkinkan siapa pun bisa berinteraksi secara langsung. Dalam konteks politik, ini sebetulnya bisa menerobos sekat-sekat birokratisme dan elitisme.

Nah, media sosial memungkinkan para politisi bisa berinteraksi langsung dengan pemilihnya maupun masyarakat luas. 

Bahkan, agar interaksi itu lebih dekat dan menyentuh, ada baiknya para politisi menyapa masyarakat media sosial lewat video siaran langsung.

Ada beberapa politisi yang kerap menggunakan model siaran langsung ini. Sebut saja politisi milenial di Amerika Serikat yang sedang naik daun: Alexandria Ocasio-Cortez.

Di Selandia baru, Perdana Menteri yang kece, Jacinda Ardern, juga kerap melakukan live via facebook. Terkadang, ia memanfaatkan live facebook untuk menjelaskan kebijakannya terkait pandemi.

#2 Rajin Verifikasi Fakta Sebelum Memposting

Terkesan ini hal yang remeh, tetapi tidak boleh dianggap remeh, loh. Sebab, sedikit saja anda tergelincir untuk menyebarkan informasi yang salah, atau melakukan blunder, maka dampaknya sangat merusak.

Sebab, sebuah postingan yang bermasalah, jika terlanjur sudah diposting, akan sulit dibendung penyebarannya di media sosial. Percayalah. Hehehe..

Jadi, sebaik-baiknya sebelum memposting sesuatu di media sosial, lakukan verifikasi fakta dulu. Pastikan yang diposting itu sudah tidak bermasalah.

Dan, jika memang ada kekeliruan yang tak terhindarkan, segeralah mengakui dan bertanggung-jawab. Sebab, lari dari tanggung jawab akan memperkeruh keadaan.

#3 Perbanyak Konten Video dan Gambar

Jangan lupa, guys, manusia itu sebetulnya makhluk visual. Data menunjukkan, otak manusia memproses gambar 60 ribu kali dibanding memproses teks.

Karena itu, dalam menyusun kampanye-kampanye politik, pertimbangkanlah untuk memperbanyak konten-konten visual: foto-foto menarik, kartu kutipan (quotes), data yang divisualisasi, infografis, video-video pendek, tangkapan layar, dan lain-lain.

Oiya, kalau kamu kesulitan memproduksi konten-konten visual dalam waktu cepat, kamu bisa memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang ada. Salah satunya: canva.

#4 Tidak Semua orang Suka Politik

Sadarilah, tidak semua orang di medsos tertarik dengan isu-isu politik. 

Karena itu, agar orang-orang yang tidak politis tetap mengikuti akunmu, sesekali selipkan postingan-postingan yang tak melulu politik. Sesekali perkaya postinganmu dengan konten-konten informatif dan edukatif. 

Sesekali selipkan konten tentang olahraga, musik yang lagi populer, film-film terbaru, rekomendasi kuliner, pengetahuan sejarah, dan fakta-fakta menakjubkan.

Jangan ragu untuk sesekali bermain tiktok. Terbukti, beberapa politisi bisa menggunakan tiktok dengan baik, seperti politisi progressif AS Ilham Omar dan politisi muda Inggris Zarah Sultana.

#5 Bangunlah tembok kesabaran berlapis-lapis

Medsos itu forum publik. Ada aneka manusia berkumpul di sana. Beragam pikiran, karakter, motivasi, hingga beban persoalan yang dihadapi.

Apalagi, tidak semua orang senang dengan politik kita. Ada haters yang setiap saat bisa melemparkan komentar sinis, hujatan, hingga meremehkan.

Kita juga mungkin berhadapan dengan serangan troll, dengan komentar yang ofensif, tak berhubungan dengan topik, dan memicu pertengkaran.

Karena itu, admin akun-akun politik harus memiliki berlapis-lapis kesabaran agar tidak terpancing meladeni serangan-serangan yang tidak sehat dan tidak penting.

#6 Rajin Berinteraksi dengan Followers

Anggaplah, seseorang berbicara denganmu, tetapi kamu mengabaikannya. Tentu saja, hal itu sedikit mengecewakan bagi orang tersebut.

Terkadang, akun-akun politik di media sosial perlu rendah hati untuk merespon pertanyaan atau komentar-komentar penting di beranda mereka.

Di Indonesia, tahun 2018 lalu, pernah ada survei terhadap akun-akun pejabat tinggi negara dan kepala daerah di twitter. Hasilnya, dari ribuan akun politisi itu, hanya seratusan yang mau berinteraksi. Itu pun sebagian hanya berinteraksi ala kadarnya.

#7 Sering-Sering Mengajukan Tanya-Jawab

Metode tanya-jawab (Q-A) terkadang berguna untuk meningkatkan interaksi di media sosial. Secara politik, ini menunjukkan bahwa seorang politisi bersedia untuk mendengar.

Di beberapa platform media sosial, seperti twitter dan stories instagram, disediakan fasilitas jajak pendapat. Sering-seringlah menggunakan fasilitas itu untuk mengetahui respon dan sikap publik, terutama pengikutmu di media sosial, terkait isu-isu tertentu.

#8 Storytelling Lebih Dari Angka-angka Statistik

 Sebuah studi dari Profesor Jennifer Aaker dari Universitas Stanford menemukan, hanya 5 persen dari mahasiswa yang ia teliti dapat mengingat angka-angka statistik. Sementara 63 persen mahasiswa justru dapat mengingat cerita.

Berbagai riset juga menunjukkan bahwa fakta-fakta kritis, data, dan analisis yang disajikan dalam bentuk cerita (stories) lebih mengena, menggugah dan menggerakkan.

Seperti dikatakan sejarawan yang lagi naik daun, Yuval Noah Harari, ketertarikan manusia pada cerita telah membuatnya bisa memahami realitas dan proyeksi-proyeksi masa depan, sehingga mereka bisa bekerjasama secara fleksibel.

Sekarang, di dunia pemasaran, storytelling juga mulai dilirik sebagai cara untuk memikat pembeli dan meningkatkan penjualan.

Jadi, sebisa mungkin, agar pesan-pesan politik lebih menyentuh, sering-seringlah menggunakan teknik storytelling.

#9 Jangan sampai terjadi: “sehari mengudara, tiga bulan menghilang.”

Dengan berhitung, bahwa di Indonesia ini ada jutaan konten yang diproduksi di media sosial setiap harinya, maka jangan pernah berharap efek kampanye dari produksi konten yang sedikit jumlahnya.

Jangan sampai terjadi: sehari mengudara, tiga bulan menghilang. Sehari sangat aktif, tetapi beberapa hari bahkan minggu kemudian menghilang.

Pastikan bahwa akun-akun politik bisa memproduksi konten setiap hari. Dan kalau bisa, postingan-postingan itu mengikuti waktu-waktu yang engagement-nya besar. 

Bukankah Sukarno pernah berujar, “yang paling penting dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat.”

Jadi, jangan pernah lupa berhitung waktu yang tepat ketika memposting konten di media sosial. Ada banyak kok rujukan soal ini. Misalnya bisa di klik di sini.

Jangan lupa juga untuk memanfaatkan tools-tools yang terkait dengan manajemen media sosial, seperti SproutSocial dan HootSuite. Agar kamu bisa mengelola, memantau dan menganalisa hal-hal yang perlu kamu posting di media sosial.

#10 Pesan-Pesan Politik yang Kuat

Tidak semua isu harus kamu tangkap, lalu kamu berondongkan ke media sosial. Pilihlah isu-isu yang relevan, yang menarik perhatian banyak orang, lalu terjemahkan ke dalam pesan-pesan yang kuat.

Usahakan, dalam menyusun pesan-pesan politik, pilihlah kata-kata yang kuat. Pastikan pesan-pesan yang kamu sampaikan, entah teks maupun suara/audio, banyak yang bisa di-quote oleh audiens.

Oke, segitu dulu tips-tips untuk membangun kampanye politik di media sosial. Semoga berguna, ya.

RAYMOND SAMUEL

*Diolah dari berbagai sumber

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid