Perak dan Salakanagara

Ketika pesawat Rusia, Sukhoi Superjet 100, jatuh di Gunung Salak pada tahun 2012, ada candaan yang memprihatinkan bahwa Pilot Rusia itu tidak tahu bila di Bogor ada Salak sebesar Gunung. Gunung itu memang bernama Gunung Salak. Sebagian penduduk sekitar Gunung Salak menganggap bahwa penamaan Gunung Salak berhubungan dengan buah yang sangat populer di kalangan rakyat yang bentuknya menyerupai gunung, yaitu buah Salak. Benarkah begitu?

Salak sendiri sebagai kata bisa dihubungkan atau diartikan sebagai perak bila diambil dari bahasa Sansekerta: “Salaka”. Bahasa Sansekerta adalah bahasa kuno dari tanah India yang menyebar di Nusantara sejak abad pertama Masehi berkaitan dengan perdagangan dan penyebaran agama Hindu dan Budha. Jadi tidak mengherankan banyak nama-nama orang, binatang, dewa-dewa, tempat, kota dan desa, gunung, kerajaan dan seterusnya di nusantara ini yang berasal dari bahasa Sanskerta. Dengan begitu, apakah buah yang berwarna coklat dan bentuknya seperti gunung itu mengingatkan pada Gunung Salaka yang berarti perak; sehingga buah itupun dinamakan Salak?

Salaka alias Perak adalah dagangan andalan dari Jawa pada masa-masa Kerajaan Hindu, selain tentu saja Emas. Babad Tanah Jawa yang sering menjadi rujukan untuk melihat perkembangan kehidupan di tanah Jawa menyatakan:

Nalika wiwitane abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa Kulon. Ana ing kono padha kena ing lelara, mulane banjur padha nglereg mangetan, menyang Tanah Jawa Tengah. 

Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterane, yen ditandhing karo wong Indhu kang lagi neneka mau; mulane banjur dadi sor-sorane.

Wong Indhu banjur ngadegake karajan ing Jepara. Omah-omah padunungane wong Jawa ya wis memper karo omah-omahe wong jaman saiki, apayon atep utawa eduk lan wis nganggo kepang.

Enggone dedagangan lelawanan karo wong Cina; barang dedagangane kayata: emas, salaka, gading lan liya-liyane.

Cina-cina ngarani negara iku Kalinga, besuke ya diarani: Jawa.

(Babad Tanah Djawi, gubahanipun L. Van Rijckevorsel, Kabantu Hadiwidjana, Den Haag-weltervreden, 1925)

Jadi, sampai pada abad ke-6 Masehi, di masa Kerajaan Kalingga, rempah-rempah belumlah menjadi barang dagangan utama. Emas, salaka (perak), gading adalah barang dagangan utama dengan para saudagar Tiongkok. Baru seribu tahun kemudian setelah Jalur Sutra ditutup, rempah-rempah menjadi dagangan utama yang juga kemudian menjadi pintu masuk kolonialisme Eropa di Nusantara. Begitulah dimulai Babad Tanah Nusantara bertajuk: “Sengsara Membawa Nikmat”: Sengsaranya untuk rakyat Nusantara dan nikmatnya untuk para penjajah Eropa, terutama Belanda.

Soal narasi salaka alias perak menjadi dagangan utama pada millennium pertama di nusantara  semakin dikuatkan dan diyakinkan dengan penemuan situs Salakanagara di Pandeglang, Banten, yang dianggap sebagai Kerajaan Hindhu pertama di Tanah Jawa (Pasundan). Salakanagara dianggap lebih tua dari Tarumanegara yang sudah berdiri dan eksis pada abad ke-4 Masehi. Soal-soal ini tentu memerlukan penelitian lebih lanjut, serius dan mendalam seperti juga bagaimana Industri Perak itu dijalankan dan kaitannya dengan Merak di ujung barat Pulau Jawa sebagai tempat membuat perak; atau keahlian dan kerajinan perak di Kota Gede, Yogyakarta, yang masih eksis hingga hari ini.

AJ Susmana                                  

 

[post-views]