Eva Sundari: Ada Dua Kubu Yang Simultan Menyerang Pancasila

Sekarang ini, Pancasila sebagai dasar negara sedang berhadapan dengan dua ancaman, yaitu globalisme pasar bebas dan khilafah. Dua hal itu yang secara simultan menyerang Pancasila.

Anggota Komisi XI DPR RI Eva Kusuma Sundari mengatakan, ada dua kubu yang secara simultan terus menyerang Pancasila sebagai dasar negara, yaitu pasar bebas dan fundamentalisme agama.

“Pancasila sekarang dalam battle (peperangan). Sampai orang tidak ngomong soal Pancasila,” kata Eva dalam diskusi Kopi Darat Pembaca berdikarionline.com berjudul “Pancasila untuk Nation and Character Building: sebagai sebuah strategi gerakan” di Kalibata, Jakarta, Kamis, (30/6/2016).

Eva mengungkapkan, pasar bebas masuk dan menghegomini melalui Fakultas Ekonomi di sejumlah kampus besar Indonesia, termasuk Universitas Indonesia.

“Mereka menghegomini fantasi atau imajinasi anak muda dan ekonom untuk tidak lagi menengok ekonomi kerakyatan,” ujar politisi PDI Perjuangan ini.

Mereka bisa hegemonik, ungkap Eva, karena ideologi pasar bebas masuk melalui pendidikan dan kurikulum. Ditambah lagi, mereka juga masuk ke dalam kekuasaan dan mempengaruhi kebijakan ekonomi negara.

Di sisi lain, lanjut Eva, gagasan Khilafah banyak menyusup melalui pendidikan ekstrakurikuler dan pendidikan bawah.

“Sekarang mereka masuk ke lembaga pendidikan, termasuk kampus-kampus. Ada dosen yang menggunakan otoritasnya membagi kelas antara laki-laki dan perempuan,” ungkapnya.

Menurut Alumnus University of Nottingham Inggris ini, globalisme pasar bebas maupun fundamentalisme agama sama-sama tidak menganggap penting negara bangsa dan kepentingan nasional.

“Desain khilafah maupun ekonomi pasar itu tidak memikirkan konstitusi, tidak memikirkan perjuangan kemerdekaan yang berdarah-darah. Karena mereka bagian dari kolonialisme, setidaknya melalui pikiran,” paparnya.

Karena itu, bagi Eva, untuk menghadapi globalisme pasar dan fundamentalisme agama itu, pilihannya hanya Pancasila. Menurutnya, sudah saatnya Pancasila menjadi strategi untuk memperjuangkan kepentingan nasional.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut