Semalam saya menonton The Big Short (2015). Awalnya, saya hanya ingin mengisi waktu sebelum tidur. Di luar dugaan saya film itu justru membuat saya terjaga lebih lama dari yang direncanakan.
Di layar, krisis monoter tahun 2008 bergerak laiknya teka-teki yang perlahan dibuka. Dan Amerika seperti teleh menghapus sejarahnya sendiri.
Adalah Michael Burry, seorang manajer hedge fund yang lebih banyak berbicara dengan data daripada manusia. Ia punya kemampuan membaca ribuan halaman laporan kredit perumahan di perbankan. Dengan kemampuan itu pula ia menemukan sesuatu yang janggal dan kerap diabaikan oleh orang lain.
Ada Mark Baum, analis yang sinis dan konfrontatif. Baum tidak sekadar curiga pada angka-angka, melainkan pada sistem yang membungkus risiko menjadi terlihat aman. Baginya, kesalah bukan hanya dalam kalkulasi, tetapi dalam moralitas pasar itu sendiri.
Lalu Jared Vennett, yang dengan percaya diri menawarkan peluang “shorting” kepada para investor. Vennett melihat celah dalam sistem dan menjadikannya sebagai instrumen keuntungan. Dan di belakangnya, Ben Rickert berdiri sebagai pengingat bahwa setiap krisis finansial bukan sekadar angka melainkan rumah yang disita, pekerjaan yang hilang, dan keluarga yang terdampak.
Empat karakter itu memperlihatkan satu pelajaran penting bagi saya: bagaimana sebuah sistem bisa terlihat kokoh, sementara pondasinya sesungguhnya rapuh?
Film selesai. Namun pikiran saya belum benar-benar ikut selesai. Dalam keadaan terpaksa, saya tidur dengan membiarkan satu pertanyaan ikut mengendap: bagaimana mungkin sistem sebesar itu berdiri di atas sesuatu yang begitu rapuh, dan hampir tidak ada yang memeriksanya secara jujur?
Dan Pagi ini, pertanyaan itu masih ada. Entah bagaimana ia membawa saya pada refleksi tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto. Program yang kerap dilihat sebatas kebijakan populis. Program yang jikadiperdebatkan, publik sering berhenti pada soal anggaran, motif politik, bahkan kalkulasi elektoral.
Bagaimana jika program ini ternyata adalah upaya membangun permintaan domestik yang sistematis?
Bukan tidak mungkin Mark Baum akan bertanya dengan nada skeptis: “Apakah ini benar-benar memperkuat ekonomi rakyat, atau hanya proyek besar yang terlihat baik di atas kertas?” Pertanyaan itu tentu saja sah. Bahkan perlu. Toh Setiap kebijakan publik harus diuji secara kritis. Namun jika kita mengambil pendekatan Michael Burry; membuka data, menghitung dengan sabar, gambarannya justeru menjadi lebih konkret.
Misalnya, 3.000 dapur melayani masing-masing 3.000 penerima manfaat per hari, maka 9 juta porsi diproduksi setiap hari. Dengan asumsi sederhana 100 gram beras per porsi, terdapat serapan sekitar 900 ton beras per hari, atau kurang lebih 27.000 ton per bulan. Itu belum mencakup telur, ayam, ikan, sayur, buah, dan seluruh mata rantai distribusinya. Angka tersebut berarti permintaan yang stabil. Dan di balik permintaan yang stabil tentu ada keberanian memproduksi.
Dengan kata lain, seorang petani di Karawang tidak lagi hanya bersandar pada fluktuasi harga musiman. Peternak di Blitar dapat memperkirakan siklus produksi dengan kepastian lebih besar. Nelayan di Sulawesi memiliki pembeli institusional yang jelas. Rantai pasok bergerak bukan karena spekulasi jangka pendek, melainkan karena kebutuhan yang terjadwal.
Dan Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, membangun pasar domestik yang kuat adalah strategi yang rasional. Ia tidak tergantung pada arus modal yang mudah keluar-masuk. Pun tidak berdiri di atas instrumen finansial yang kompleks dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Lihatlah negara-negara seperti Jerman Barat, Prancis, dan Swedia. Di mana mereka pernah menempuh jalur serupa dalam fase pembangunan mereka: memperkuat stabilitas sosial dan kebutuhan dasar sebelum mendorong ekspansi industri dan ekspor secara agresif. Polanya juga tidak berubah—pondasi diperkuat lebih dahulu.
Jika dalam film The Big Short sistem finansial runtuh karena terlalu percaya pada rekayasa, maka pilihan Indonesia justru sebaliknya: memperkuat ekonomi melalui kebutuhan yang paling konkret—pangan dan gizi!
Ben Rickert dalam imajinasi saya mungkin akan mengingatkan, “Pastikan manfaatnya benar-benar sampai pada yang membutuhkan. Jangan sampai kebijakan baik kehilangan integritasnya.”
Dan di situlah tantangan sebenarnya. Bukan pada idenya, tetapi pada tata kelola dan konsistensinya.
Pada akhirnya, kekuatan ekonomi sebuah bangsa tidak selalu lahir dari proyek yang paling megah. Sebaliknya, ia sering tumbuh dari kebijakan yang bekerja diam-diam, berulang, dan konsisten.
Jika suatu hari Indonesia lebih tahan menghadapi guncangan global, mungkin bukan karena kita membangun gelembung pertumbuhan yang memukau, melainkan karena kita memperkuat dasar yang menopang jutaan orang setiap hari.
Sebuah pondasi yang paling jarang dibicarakan. Tapi pelan-pelan sedang dibangun oleh Presiden Prabowo.
Mohamad Pakaja

