Naikkan Satu Oktaf: Gerakan Mahasiswa Harus Berpikir, Bukan Sekadar Berteriak

Demokrasi tidak pernah kekurangan orang yang berani berteriak. Yang semakin langka justru mereka yang mampu berpikir. Di era media sosial, kritik sering direduksi menjadi komoditas popularitas. Semakin keras suara, semakin viral potongan video, semakin dianggap benar. Padahal, demokrasi tidak dibangun oleh sensasi, melainkan oleh kualitas nalar.

Dalam diskusi yang ramai diperbincangkan, Rocky Gerung melontarkan kalimat yang layak menjadi refleksi bersama: kritik harus “naik satu oktaf”. Kritik tidak boleh berhenti pada kemarahan, satire, atau keberanian menyerang. Kritik harus naik kelas menjadi analisis yang berbasis data, sejarah, argumentasi, dan solusi. Tanpa itu, kritik hanya menjadi kebisingan yang sesaat mengundang tepuk tangan, tetapi gagal membangun kesadaran.

Pesan itu tidak hanya relevan bagi Tiyo Ardianto, tetapi juga bagi seluruh gerakan mahasiswa Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa mahasiswa adalah kekuatan moral, bukan alat politik. Mereka dihormati karena keberanian intelektualnya, bukan karena menjadi corong kepentingan pihak tertentu. Ketika gerakan mahasiswa kehilangan independensinya, ia perlahan kehilangan legitimasi moral di mata rakyat.

Karena itu, gerakan mahasiswa harus menjaga jarak dari segala bentuk penunggangan. Jangan sampai idealisme kampus dibajak oleh kepentingan elite politik yang sedang berebut pengaruh. Jangan sampai semangat perjuangan berubah menjadi kendaraan bagi para avonturir politik yang menjadikan mahasiswa sebagai alat tekanan untuk mencapai ambisi pribadi. Lebih jauh lagi, mahasiswa juga harus waspada terhadap kemungkinan adanya kepentingan asing yang berusaha memanfaatkan dinamika politik domestik demi agenda geopolitik atau kepentingan ekonomi tertentu. Sejarah berbagai negara menunjukkan bahwa gerakan sosial yang kehilangan kemandiriannya sangat rentan dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan di luar tujuan awalnya.

Mahasiswa memiliki hak bahkan kewajiban untuk mengkritik pemerintah. Namun, kritik yang bermartabat lahir dari kebebasan berpikir, bukan dari keberpihakan yang disetir oleh sponsor politik, kepentingan oligarki, atau agenda siapa pun di luar kepentingan bangsa. Kritik yang lahir dari nurani akan selalu berbeda dengan kritik yang digerakkan oleh pesanan.

Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak aktivis yang hanya piawai membuat kegaduhan. Bangsa ini membutuhkan intelektual muda yang mampu membedah persoalan secara utuh, berani mengoreksi kekuasaan, tetapi juga berani mengoreksi dirinya sendiri. Sebab integritas intelektual dimulai ketika seseorang mampu memastikan bahwa pikirannya benar-benar merdeka.

Kalimat Rocky tentang “menaikkan satu oktaf” pada akhirnya adalah ajakan untuk mengembalikan marwah gerakan intelektual Indonesia. Naik satu oktaf berarti menaikkan kualitas berpikir, memperkuat integritas moral, dan menjaga independensi dari segala bentuk kepentingan. Sebab mahasiswa akan tetap menjadi harapan bangsa hanya selama mereka berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan di bawah bayang-bayang elite politik, para petualang kekuasaan, ataupun kepentingan asing.

Budi Prasetyo Hadi, Penulis merupakan Tenaga Ahli Menteri Sosial RI

[post-views]