Cerpen: Dialog Seorang Demonstran Dan Ibunya

Betapa bangganya menginjakkan kaki di Universitas pada tahun 1999. Itu adalah tahun musim semi aksi protes. Katanya, tidak gaul kalau tidak demonstrasi. Ah, itu mungkin cuma klaim si tukang demo saja.

24 September 1999. Aksi massa merebak di seantero nusantara. Mahasiswa menentang pengesahaan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB). Di Jakarta, seorang mahasiswa Universitas Indonesia, Yun Hap, gugur di medan perjuangan.

Hari itu, ketika panas benar-benar membakar kulit, Bram ikut aksi demonstrasi untuk pertama-kalinya. Ia begitu bangga mengenakan jaket merah almamaternya. Dalam hatinya berseru-seru: We Are Red Jacket!

Pada buku catatannya Bram menulis:

“Hari itu kurasai apa jadinya seorang mahasiswa. Kata seorang senior di kampus, tugas mahasiswa bukan hanya belajar, tapi juga punya tanggung jawab moral: memperjuangkan rakyat. Katanya lagi, kampus tak boleh menjadi menara gading. Dan mahasiswa tak boleh terpisah dari rahim rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox Populi, Vox Dei).

Rupanya, demonstrasi punya ceritanya sendiri. Sayup-sayup kudengar selentingan: cinta bersemi di kala aksi. Uhh, di tengah-tengah perjuangan begini, ada saja orang yang mencoba mencuri keuntungan. Digunakannya motornya untuk menggaet cewek-cewek cantik. Dasar pecundang!”

Bram bukanlah nama sebenarnya. Orang tuanya memberi nama “Sabaraman”. Tetapi teman-teman sekolahnya memplesetkannya menjadi “Sembarangan”. Gara-gara itu ia sederhanakan namanya menjadi “Bram”.

Bram anak seorang pengusaha mebel di Sumatera. Jauh-jauh ia merantau ke Jakarta hanya untuk menuntut ilmu. Orang tuanya berpesan: “Nak, kau harus jadi Hakim nanti. Kau perjuangkan keadilan orang-orang di kampung ini. Jangan kau sia-siakan pesan orang tuamu itu, Nak.”

Sayang, di Jakarta, Bram tercebur dalam dunia lain. Ia memilih menjadi aktivis. Baginya, kuliah hanya pembodohan. Dan menjadi hakim tak lebih dari menciptakan penindas-penindas rakyat. Tiap hari Bram mulai berkokok tentang “Revolusi”. Hampir semua bajunya bergambar pria ganteng mengenakan baret sambil menghisap cerutu. Kalau tidak salah namanya Che Guevara. Ia sekarang menjadi bagian dari organisasi bernama Komite Mahasiswa Revolusioner (KMR).

Dua tahun Bram tak pulang ke kampung halamannya. Surat pun tak sekalipun melayang ke sana. Ayahnya murka. Dianggapnya anaknya itu sudah durhaka. Hanya ibunya yang masih menaruh harapan pada anak sulungnya itu. Didatanginya anaknya di Jakarta. Hampir sebulan wanita mulia itu mondar-mandir untuk mencari tempat tinggal anak yang dilahirkan dari rahimnya itu.

“Tidak kusangka, Nak,” kata Bundanya

“Apa yang tidak disangka, Bunda?”

“Kau sudah lupa dengan orang tua. Bahkan kau lupa dengan Ibunda yang melahirkanmu. Apa gerangan yang membuatmu berubah, Nak?”

“Saya tidak pernah lupa, Bunda. Hanya saja, ada tanggung jawab besar di pundak saya. Itu lebih penting ketimbang hanya memikirkan pribadi saja.

“Apa itu, Nak?”

“Membela Rakyat, bunda. Yah, membela rakyat adalah tugas setiap intelektual revolusioner. Saya, Bunda, tak mau disebut intelektual menara gading.”

Ibu Bram tak begitu mengerti apa yang dibahas anaknya. Ia pun segera mengalihkan pembicaraan.

“Masih rajin Sholat kau, Nak?”

“Apa pentinya pertanyaan itu, Bunda.”

“Apakah kau masih Sholat, Nak?”

“Tidak, Bunda, saya terlampau sibuk di kampus. Setiap hari ada diskusi dan aksi. Bagi saya, itu ibadah yang lebih penting. Katanya, itu ibadah sosial.”

Ibu Badrun lagi-lagi kebingingungan dengan jawaban anaknya. Dengan cepat ia berkata, “Jadi kau tak sholat lagi, Nak? Kau sudah tidak pernah menghadap Tuhan lagi?”

“Bunda, saya anggap agama itu candu. Itu hanya penenang bagi kaum miskin agar tak melawan. Ah, Bunda, apa guna orang beribadah dan bertuhan, tetapi penindasan dan penghisapan terjadi dimana-mana. Suara rakyat suara Tuhan, Bunda.”

Belum selesai Bram bicara, ibunya sudah meraung-raung. Wanita mulia itu tak kuasa lagi membendung tangisannya. Anaknya yang tercinta, Bram, sudah melukai hatinya dan meninggalkan amanatnya.

Bram tak kuasa melihat air mata ibunya. Ia segera menjatuhkan diri ke lantai dan mencium kaki ibunya.

“Ampun, Ibunda, ampun, ampun….”

“Kau bukan cuma durhaka, nak, tapi sudah lupa Tuhan. Ayah-ibumu yang akan menanggung kesalahanmu itu nantinya.”

Kata-kata ibunya terus menyambar bagai petir. Bram tak kuasa melawan. Ia terus bersujud di kaki ibunya dan terus memohon ampun.

“Ampun, bunda, saya khilaf. Saya akan ikuti pesan ibunda. Tapi, maafkanlah anakmu yang semata-wayang ini.”

“Maukah kau bertobat, nak?”

“Insyah Allah, bunda.”

“Jangan hanya janji, nak. Kau harus pastikan untuk bertobat dan kembali ke jalan tuhan.”

“Iya, bunda, pasti….nanti akan kulakukan.”

Tangis ibunda Bram mulai reda. Bram, sang pemberontak muda itu, takluk juga di bawah telapak kaki ibunya.

***

Seminggu setelah ibunya pulang, Bram kembali masuk kampus. Didapatinya situasi sedang bergolak. Mahasiswa tidak setuju dengan kenaikan biaya SPP. Sudah begitu, pedagang kaki lima hendak disingkirkan dari kampus.

Langkah kakinya terhenti di depan pintu kelas. Hati nurani Bram merasa terpanggil. Kata-kata tokoh idolanya, Che Guevara, seakan terus memanggilnya: Bila hatimu bergetar marah melihat ketidakadilanmaka kau adalah kawanku!

Bram mendatangi sekretariat KMR. Rupanya, ruangan berukuran 3 x 3 meter itu sudah penuh sesak dengan orang. Sebuah diskusi untuk membahas persoalan sedang berlangsung. Ia pun segera menjadi bagian dari gerakan perlawanan.

Esoknya, sesuai dengan kesepakatan rapat, aksi protes digelar. Mimbar bebas digelar di depan gedung Rektorat. Ribuan mahasiswa bergabung dalam aksi protes itu. berjam-jam aksi protes itu tak mendapat respon. Akhirnya, mahasiswa pun berusaha merengsek masuk.

Sang Rektor sangat panik. Ia pun memilih kabur lewat pintu belakang. Namun, begitu ia sudah naik di atas mobil, masalah baru muncul: ban mobilnya kempes. Seseorang sudah sengaja mengempesinya. Pelakunya: Bram.

Seketika Bram menjadi terkenal. Tapi, itu juga pertanda datangnya malapetaka. Begitu aksi protes mereda, Rektor meminta pengusutan pelaku pemecah ban mobilnya. Komisi Disiplin memanggil Bram. Bram, yang memposisikan diri sebagai seorang revolusioner, menolak panggilan itu.

Bram melawan balik dengan pamflet. Ditulisnya, rektor telah melakukan korupsi untuk memperkaya diri. Lihat saja, mana mungkin seorang rektor bisa membeli mobil semewah itu. Belum lagi rumahnya yang menyerupai gedung.

Persoalan melebar. Bram kembali dipanggil Komdis. Tak satupun panggilan itu dipenuhinya. Akhirnya, sebulan kemudian datanglah surat rektorat ke kamar kostnya. Isinya: SK drop-out (DO).

Tapi Bram tak patah arang. Baginya, gagal di perkuliahan bukanlah hal yang perlu disesali. Ia percaya ilmu bisa didapat di mana saja. Termasuk di luar gedung-gedung perkuliahan.

Terlempar dari kampus, Bram memilih jadi aktivis serikat buruh. Ia benar-benar memilih jalan revolusioner. Tiap hari ia keluar masuk pemukiman buruh. Pekerjaan itu ditekuninya selama bertahun-tahun.

***

Apa yang penting di tahun 2009? Oh, iya, ada pemilu. Dan Bram menjadi salah seorang calon anggota legislatif. Bagaimana ceritanya?

Cukup lama Bram menjadi aktivis serikat buruh. Sayang, sebuah pertikaian internal membuatnya tertendang keluar. Tidak jelas apa pangkal perdebatannya. Singkat cerita, pasca kejadian itu, Bram sempat menjadi pedagang buku.

Hingga, pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang temannya. Dulu temannya itu aktivis juga semasa kuliah di kampus. Temannya itulah yang mengajak Bram bergabung dengan sebuah partai nasionalis.

Semula ia ingin maju di Jakarta. Tetapi partainya, yang percaya kekuatan primordialisme itu, menyuruhnya maju di kampung halamannya. Maka pulanglah ia ke kampung halamannya.

Latar belakang sebagai aktivis akan sangat membantu, pikirnya. Karena itu, kemana-mana ia mengenalkan diri sebagai caleg aktivis. Ia bilang kepada orang-orang di kampungnya, kalau dirinya dipilih, maka akan memperjuangkan program-program kerakyatan: pendidikan gratis, kesehatan gratis, perumahan murah untuk rakyat, memperjuangkan kenaikan upah 100%, tanah untuk penggarap, dan lusinan program lainnya.

Bram yakin, suara Rakyat adalah suara Tuhan. Ia beranggapan, rakyat akan lebih memilih caleg aktivis, yang sudah terbukti berjuang di tengah rakyat, ketimbang caleg-caleg non-aktivis. Untuk menggali suara, Bram menggunakan cara-cara semasa menjadi aktivis: menyebar selebaran, mencetak pamflet, melakukan advokasi, dan berorasi keliling dari desa ke desa.

9 April 2009. Pemilu legislatif serentak digelar. Orang berbondong-bondong ke TPS. Tak terkecuali Bram. Ia berikan suaranya di kotak suara—dulu, ia selalu menyerukan golput sebagai perlawanan. Usai pencoblosan, datanglah saat-saat yang dinanti: penghitungan suara.

Mendadak perasan Bram tergoncang. Sudah berpuluh-puluh kertas suara terhitung, tapi belum juga ada suara untuknya. Dan ketika sudah seratusan, tetap saja tidak ada bekas lubang tusukan di tanda gambarnya. Ia mulai gelisah. Perkiraannya meleset 100%.

Dan diakhir perhitungan sudah jelas: di TPS dekat rumahnya ia hanya mendapat 12 suara. Jika diakumulasikan dengan keseluruhan dapilnya, ia hanya mendapat 200-an suara. Ia sangat terpukul. Berhari-hari kata-kata tak bisa keluar dari mulutnya. Hingga suatu hari ibundanya berusaha membuka mulutnya.

“Kenapa kau, nak? Apa kau kecewa dengan hasil itu?

“Iya, bunda, saya sangat kecewa. Tetangga-tetangga tak satupun memilih saya. Kerabat juga hanya sebagian. Sementara orang-orang miskin itu, yang sudah lama kuperjuangkan, tak juga memberi suara untukku. Tak kusangka, suara rakyat bisa dibeli uang. Yah, uang para politisi busuk itu,” kata Bram menderu-deru bak mesin lokomotif.

“Tapi kau tak bisa menyalahkan mereka, nak. Seruanmu tak sampai di kesadaran mereka. Bagi mereka, makan esok hari jauh lebih mendesak ketimbang seruanmu yang belum jelas kapan terjadinya itu.”

“Jadi ibunda menyalahkan cita-citaku dan caraku memperjuangkannya?”

“Tidak ada yang menyalahkan cita-cita dan perjuanganmu nak” bantah ibunya dengan suara tenang. “Cita-citamu sudah tentu benar. Caramu berjuang tentu sangat bermartabat. Kau tak merendahkan martabat manusia dengan membeli suaranya.”

“Tapi, apa yang salah, bunda?”

“Kau tak membaca psikologi mereka. Kau tak terlalu mempelajari bentuk pendekatan terbaik untuk menyampaikan cita-citamu ke mereka. Kau terlalu percaya diri dengan caramu sendiri. Padahal, kau seperti orang yang berseru-seru di padang pasir.”

Jawaban itu bagaikan pukulan palu yang menimpuk kepala Bram. Ia terpekur tak mengeluarkan sepatah kata pun. Badannya lemas seperti kehilangan tulang-belulang penyokongnya.

Ibunya membelai rambut anaknya yang sudah 35 tahun itu. Dan kemudian ia membisikkan, “perjuanganmu tidak sia-sia, Nak. Hanya waktunya dan keadaannya saja yang belum tepat. Jangan kau patah semangat karena kekalahan kecil itu.”

Awalnya, wanita mulia itu menentang anaknya ketika memilih menjadi aktivis. Belakangan ia mengetahui, bahwa menjadi aktivis adalah pekerjaan membela rakyat. Ia pun tak lagi mempersoalkan pilihan anaknya.

Pasca kekalahan itu, Bram menjadi pengusaha mebel. Ia melanjutkan bisnis ayahnya. Tambahan modalnya didapat dari uang yang ditabung puluhan tahun oleh ibunya. Bisnis mebel Bram berkembang dengan baik. Di bagian depan rumahnya terdapat papan nama bertuliskan: CV. SUARA RAKYAT.

Pasar Minggu, 8 Agustus 2012

Aji Prasetyo ([email protected])

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Sandi

    Inspiratif, menggambarkan fakta yang sebenarnya. Untuk kawan2Q aktivis sesama “Bram” lainnya. Jangan merasa ragu akan sesuatu yang kalian pilih. Suara rakjat suara Tuhan. Jika bukan saat ini, ketika kau masih setia berjuang bersama rakjat, Tuhan kan beri yang terbaik. amin.