“Begini Lho, Ed” Merekam Semangat Pembangunan Monumen Era Bung Karno

Masyakarat Jakarta mungkin sudah akrab dengan patung/monumen yang dulu dibangun di era Bung Karno. Terutama tiga patung yang terkenal: Patung Selamat Datang (Bundaran HI), Monumen Pembebasan Irian Barat (Lapangan Banteng), dan Patung Dirgantara (Pancoran). Ketiganya adalah karya seorang maestro pematung Indonesia, Edhi Sunarso.

Namun, mungkin ada diantara kita yang masih awam dengan kisah dan semangat di balik pembangunan tiga patung tersebut. Nah, bertepatan dengan hari lahir Edhi Sunarso yang ke-80, Indonesia Berdikari (IB) meluncurkan film dokumenter grafis tentang tiga patung tersebut. Acara peluncuran berlangsung di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta (2/7/2012).

Film doku-grafis itu diberi judul “Begini Lho, Ed”. Film ini merupakan hasil kolaborasi antara sutradara film Lasja Fauzia Susatyo dan seniman grafis Alit Ambara. Keduanya berhasil menyulam film dan grafis menjadi sebuah dokumenter yang berbobot.

Menurut Lasja Fausia, pilihan menggunakan doku-grafis dilakukan karena dua hal. Pertama, kurangnya footages dari masa lalu yang bisa dipakai sebagai pijakan. Kedua, ini berkaitan dengan cara pandang kita tentang sejarah.

Baginya, “Begini Lho, Ed” bukan sekedar rekonstruksi terhadap masa lalu, tetapi juga sebuah pernyataan tentang masa lalu. Selain itu, model ini juga cocok dengan karakter Edhi Sunarso yang ekspresif dan animatif.

Teknik doku-grafis ini tergolong baru di Indonesia. Karenanya, Lasja tentu berhadapan dengan tantangan tersendiri. “Kolaborasi film dan grafis ini tergolong jarang. Biasanya grafis melayani yang lain (art, directing, animasi, dan seterusnya), tetapi di sini diberi porsi yang sama,” katanya.

Selain itu, Lasja mengungkapkan, tantangan utamnya adalah mencari bahasa yang tepat sebagai alat ungkap. Juga, tak kalah pentingnya, tema film ini tergolong sulit: bukan sekedar soal patung/monumen, tetapi juga soal ruang sejarah.

Merekam semangat

Sementara itu, Indonesia Berdikari selaku sponsor film ini menganggap pembuatan film “Begini Lho, Ed” membawa visi tertentu.

“Film adalah media cair dan mudah diserap publik luas. Diharapkan, film ini bisa menguatkan misi kami mengangkat kembali semangat dan nilai-nilai solidaritas, kebanggaan nasional, dan kemandirian bangsa di balik pembuatan patung-patung itu,” kata Direktur Indonesia Berdikari, Raharja Waluyajati.

Selain itu, kata Waluyajati, film ini juga didedikasikan untuk menghargai semangat dan spirit Edhi Sunarso. “Beliau dan kelompoknya adalah seniman besar dan seorang nasionalis. Ia patut dicatat oleh sejarah. Mereka telah menerjemahkan ide Bung Karno untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa,” katanya.

Waluyajati menambahkan, film ini diharapkan bisa menjadi media untuk membangkitkan ingatan kolektif mengenai Jakarta sebagai ruang. Maklum, beberapa dekade terakhir Jakarta diserbu oleh berbagai kepentingan ekonomi dan politik.

Selain peluncuran film doku-grafis, Indonesia Berdikari juga meluncurkan buku berjudul “Kisah Tiga Patung”, yang ditulis oleh sejarawan Hilmar Farid.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut