Upacara Kemerdekaan ala Petani

Hari Kemerdekaan merupakan momen berbahagia bagi seluruh bangsa Indonesia. Tetapi bagaimana dengan petani yang menjadi korban konflik agraria?

Petani di sejumlah desa di kecamatan Telukjambe barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, harus menelan kenyataan pahit jelang HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-71. Pasalnya, mereka baru saja kehilangan sebagian tanahnya akibat dicaplok oleh PT Pertiwi Lestari.

Meski begitu, petani tak kehilangan kecintaannya kepada Negara. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan kemarin, petani yang tergabung dalam Serikat Tani Telukjambe Bersatu (STTB) ini juga menggelar Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan.

Upacara peringatan kemerdekaan yang dihadiri oleh 400-an petani itu berlangsung di dusun Cisadang, desa Wanajaya, kecamatan Telukjambe barat. Mereka membentuk barisan layaknya upacara pada umumnya.

Upacara kemerdekaan ala petani ini berlangsung sederhana dan singkat. Setelah berisan dipersiapkan, dan pemimpin upaca memasuki lapangan, langsung dengan mengheningkan cipta dan pengibaran bendera merah-putih.

Lagu Indonesia Raya pun berkumandang melalui mulut ratusan petani. Setelah itu, ada pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Usai upacara, petani menggelar diskusi bertema “Merdeka 100 persen”. Mereka mendiskusi strategi perjuangan petani untuk mewujudkan kemerdekaan 100 persen di lapangan agraria.

“Petani baru bisa dikatakan merdeka, kalau penghidupan mereka juga merdeka. Dan itu hanya mungkin kalau tanah sebagai faktor produksi bisa diakses oleh petani,” kata Aris, aktivis STTB.

Aris menegaskan, pemerintah seharusnya memastikan keadilan agraria dengan memastikan setiap petani punya akses terhadap sumber daya agraria, terutama tanah.

“Kalau pemerintah menghayati semangat kemerdekan, ya mereka harusnya berpihak ke petani. Bukan kepada perusahaan yang merampas tanah petani,” tegasnya.

Willy Soeharli

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid