Sosialis Berkuasa Di Portugal

Kebuntuan politik yang mengcekik Portugal selama beberapa minggu terakhir pelan-pelan mencair. Blok politik yang dimotori oleh Partai Sosialis akhirnya memegang tampuk kekuasaan.

Hari Kamis (26/11/2015), Antonio Luis Santos Da Costa dari partai Sosialis akhirnya resmi diangkat sebagai Perdana Menteri Portugal. Dia disokong oleh dua partai kiri yang sangat radikal, yaitu Blok Kiri (Bloco de Esquerda/BE) dan Partai Komunis. Ini adalah kali pertama kaum kiri ikut berkuasa di negara berpenduduk 11 juta ini pasca runtuhnya kediktatoran Salazar di tahun 1974.

Antonio Costa, mantan Walikota Lisbon, adalah Sekretaris Jenderal Partai Sosialis. Di pemilu bulan Oktober lalu, dia diusung sebagai Calon Perdana Menteri oleh partai sosialis.

Sayang, di pemilu tersebut, partai sosialis hanya berhasil menempati urutan kedua dengan 32,3 persen suara. Suara terbanyak diraih oleh partai konservatif, Partai Sosial Demokratik (PSD), dengan perolehan 38,6 persen suara.

Namun, kendati menang pemilu, tetapi PSD gagal menjadikan koalisi berkuasa Portugal à Frente (PàF) sebagai kekuatan mayoritas di parlemen Portugal. Walhasil, kalaupun PSD diijinkan membentuk pemerintahan, maka mereka berkuasa dengan kekuatan minoritas di parlemen.

Faktanya, pada 22 Oktober 2015, Presiden Portugal Aníbal Cavaco Silva tetap menunjuk incumbent Pedro Passos Coelho dari PSD untuk segera membentuk pemerintahan. Dan akhirnya, kendati hanya meraih sokongan minoritas, Passos Coelho resmi menjadi Perdana Menteri Portugal pada 30 Oktober lalu. Pemerintahan ini hanya ditopang oleh 108 kursi di parlemen.

Di sisi lain, manuver politik Antonio Costa mendapat dukungan dua partai kiri di parlemen, yaitu  Blok Kiri (Bloco de Esquerda/BE) dan Partai Komunis. Koalisi Partai Sosialis dengan Blok Kiri dan Partai Komunis berhasil mengumpulkan 122 kursi dari total 230 kursi di parlemen Portugal.

Situasi itulah yang membuat pemerintahan kanan Passos Coelho tidak bisa stabil. Apalagi, pemerintahan yang berkuasa sejak 2011 ini terbilang sangat neoliberal. Sejak memegang tampuk kekuasaan, Passos Coelho mendorong kebijakan penghematan sebagaimana dikehendai Uni Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Pada 8 November 2015, Partai Sosialis, Blok Kiri, dan Partai Komunis akhirnya sepakat membuat koalisi. Kesepatakan ini membuat umur pemerintahan sayap kanan di bawah Passos Coelho diujung tanduk.

Dan memang demikian adanya. Pada 10 November 2015, ketika usia pemerintahannya baru 11 hari, kekuasaan Passos Coelho terjungkal setelah proposalnya ditolak oleh mayoritas anggota parlemen yang dikuasai oleh sosialis, Blok Kiri, dan Komunis.

Passos Coelho hanya berkuasa 11 hari, usia pemerintahan terpendek dalam sejarah politik Portugal sejak runtuhnya kediktatoran di tahun 1974. Untuk diketahui, Portugal sendiri dicekik oleh kekuasaan kediktatoran selama 48 tahun.

Usai jatuhnya pemerintahan konservatif, Presiden Portugal Aníbal Cavaco Silva—yang satu partai dengan Pedro Passos Coelho—diperhadapkan dengan dua pilihan: mendorong pemilu dipercepat atau menyetujui sosialis membentuk pemerintahan.

Awalnya, Cavaco Silva tidak mau memberi mandat kepada Antonio Costa untuk membentuk pemerintahan. Sebab, di belakang Costa ada dua partai kiri yang cukup keras menentang neoliberalisme, yakni Blok Kiri dan Partai Komunis. Namun, setelah menguatnya tekanan massa dan kebuntuan politik selama beberapa minggu, dia akhirnya merestui Costa membentuk pemerintahan.

Menentang Penghematan

Krisis ekonomi yang membelit Eropa sejak 2009 turut mencekik Portugal. Tak ayar lagi, ekonomi Portugal yang tidak ditopang oleh fondasi yang kokoh, pun rubuh. Negara yang terletak di Eropa bagian barat ini pun jatuh dalam krisis utang.

Menghadapi krisis itu, pemerintah Yunani meminta bantuan Uni Eropa, Bank Sentral, dan IMF. Lalu, seperti juga Yunani, Portugal dipaksa mengadopsi kebijakan penghematan sebagai syarat mereka menerima dana talangan (bailout).

Situasi itu makin parah pada tahun 2011. Saat itu, tampuk kekuasaan  sudah di tangan Perdana Menteri Pedro Passos Coelho. Dia memprivatisasi semua perusahaan dan layanan publik. Tidak hanya itu, atas nama penghematan, belanja sektor publik dipangkas, upah buruh dipotong, PHK massal, usia pensiun diperpanjang, dan lain sebagainya.

Akibatnya, pengangguran meningkat 14 persen—di kalangan anak muda mencapai 35 persen. Awal tahun 2015, 55 persen rakyat Portugal menganggur dan bekerja tidak tetap. Sementara menurut angka Eurostat, lebih dari 24 persen penduduk portugal hidup di bawah garis kemiskinan.

Rakyat tidak terima. Jutaan orang turun ke jalan memprotes kebijakan penghematan. Sebagai misal, pada 15 September 2012, aksi yang diberi nama Que se lixe troika! berhasil memobilisasi 1,5 juta orang turun ke jalan—setara dengan 14 persen penduduk negeri itu. Singkat cerita, ketidakpuasan terhadap pemerintahan kanan Pedro Passos Coelho meningkat.

Itulah yang membuat suara PSD/Passos Ceolho jeblok pada pemilu Oktober lalu. Dari 50,4 persen di pemilu 2011 menjadi 38,6 persen di pemilu Oktober 2015. Itu pula yang membuat ratusan ribu rakyat Portugal turun ke jalan pada 10 November lalu untuk mendukung sayap kiri parlemen untuk menggulingkan kekuasaan Passos Coelho melalui mosi tidak percaya.

Antonio Costa sendiri menjanjikan “lembaran baru” untuk meninggalkan halaman gelap di bawah penghematan. Dia berjanji akan menjalankan “program sosialis”, seperti memastikan layanan air tetap di tangan negara, menghentikan privatisasi dan pemotongan belanja publik, menaikkan upah minum, dan lain-lain.

Dukungan dua partai kiri terhadap pemerintahan Antonio Costa juga tidak gratis. Ada tiga kesepakatan utama: pertama, memulihkan upah dan pensiun; kedua, melindungi negara kesejahteraan dan menghentikan privatisasi sektor publik; dan ketiga, mengembalikan model negosiasi kolektif yang memungkinkan buruh meraih kembali hak-haknya yang dirampas.

Costa sendiri bukanlah seorang radikal. Dia terbilang moderat. Sebagai misal, kendati bicara restrukturisasi utang, dia tetap menghormati aturan main Eropa. Bercermin pada pengalaman Yunani, dia menolak berkonfrontasi dengan kreditur Eropa dan Troika (Bank Sentral Eropa, Uni Eropa, dan IMF).

Hanya saja, Costa telah membuat rakyat Portugal kembali punya harapan. Dan dia sendiri bilang, “aku akan memberikan lebih dari apa yang kujanjikan.” Semoga.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid