Pukuli PKL Dan Aktivis, Camat Ujung Pandang Dilaporkan Ke Polisi

Pedagang kaki lima (PKL) anjungan Pantai Losari Makassar bersama sejumlah organisasi yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pasal (GNP) 33 UUD 1945 mendatangi Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) kota Makassar, Kamis (1/10/2015).

Kedatangan tersebut bermaksud untuk melaporkan Camat Ujung Pandang, Mohammad Syarif, terkait aksi pemukulan terhadap seorang aktivis GNP 33 UUD 1945 dan seorang PKL saat menggelar aksi massa di Balaikota Makassar, Selasa (29/9/2015).

Saat itu 200-an pedagang kaki lima yang tergabung dalam GNP 33 UUD 1945 menggelar aksi massa di Balaikota Makassar. Saat perwakilan GNP 33 UUD 1945 masuk ke Balaikota untuk melakukan dialog, dua peserta aksi, yaitu Zaenal Mappatoba (27 tahun) dan  Yanti alias Mace (51), dipukuli oleh Camat Ujung Pandang.

Zaenal, yang juga sekretaris Partai Rakyat Demokratik (PRD) kota Makassar), itu dicekik oleh sang camat. Sedangkan Yanti mendapat tendangan di bagian bokongnya. Keduanya tidak terima dengan perlakuan arogan camat tersebut.

Menurut humas aksi GNP 33 UUD 1945 Ahmad Kaimuddin, tindakan camat Ujung Pandang itu mencerminkan mental birokrat yang arogan dan anti-demokrasi. Pasalnya, kata Ahmad, bukannya merespon protes PKL dengan dialog, malahan mengambil tindakan kekerasan.

Lebih lanjut, kata Ahmad, pelaporan oleh PKL ini dimaksudkan untuk memberikan pembelajaran kepada si camat agar tidak arogan dan sewenang-wenang terhadap rakyat kecil.

“Kami berharap dia mendapat hukuman atas tindakannya. Seorang pelayan publik tidak selayaknya berlaku seperti preman,” ujar Ahmad.

Untuk proses pelaporan ini, para PKL dan aktivis GNP 33 UUD 1945 didampingi oleh dua kuasa hukumnya, yaitu Nursady, SH dan Pice Jehali, SH.

Qalbu Fitrah

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid