Proyek Infrastruktur di Palembang Belum Pro Rakyat

Palembang menjadi ikon proyek pembangunan infrastruktur di Sumatera Selatan. Ini sekaligus menunjukkan betapa derasnya arus modal dari luar negeri.

Proyek- proyek besar, seperti light rail transit (LRT), rencana pembangunan terowongan bawah air, dan banyak lagi pembangunan infrastruktur lainnya terkait Asian Games.

Tentu sekilas pasti Pemerintah Provinsi Sumsel dan Pemerintah Kota Palembang merasa sangat bangga dengan kondisi ini. Sebagian masyarakat Kota Palembang juga mungkin bangga melihat kotanya berkembang pesat.

Bahkan ada bilang, kesejahteraan warga Palembang akan meningkat pesat dengan seiring pertumbuhan pembangunan infrastruktur tersebut.

Sekarang, marilah kita lihat secara seksama kaitan pertumbuhan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat?

Untuk diketahui, ada 12,9 persen dari 1,6 juta penduduk Palembang yang masih tercekik kemiskinan (BPS, 2016). Sedangkan untuk keseluruhan Sumsel, jumlah orang miskin mencapai 13,77 persen. Itu dengan hitungan garis kemiskinan Rp378.739.

Artinya, berbanding terbalik dengan pesatnya infrastruktur, kemiskinan masih menjadi masalah besar di Palembang dan Sumsel secara keseluruhan. Belum lagi jumlah pengangguran di usia produktif yang juga tinggi.

Problem kemiskinan ini merupakan pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan.

Melayani Kapital

Proyek infrastruktur yang terjadi di Palembang belum untuk melayani kebutuhan rakyat, tetapi untuk kepentingan pemilik modal.

Pertama, sebagian proyek infrastruktur itu tidak bertemu dengan kebutuhan mendesak rakyat. Sebagai misal, ketika proyek-proyek yang tujuannya mengejar kebanggaan, lebih baik memperbaikan infrastruktur pendidikan. Untuk diketahui, di Palembang ada 30 persen bangunan Sekolah Dasar (SD) yang rusak.

Kedua, beberapa proyek infrastruktur dibiayai dengan utang atau pinjaman swasta. Sebagai contoh: proyek Jalan Tol Ruas Palembang- Tanjung Api-api sepanjang 75 kilometer yang menggandeng swasta. Padahal, proyek ini lebih ditujukan untuk melayani transportasi cepat batubara.

Ketiga, sebagian besar proyek infrastruktur di Palembang dan Sumsel bertujuan untuk memancing masuknya investasi. Ajang Asian Games 2018, yang ditopang dengan banyak sekali proyek infrastruktur, juga untuk menarik investasi.

Dahulukan Kebutuhan Publik

Kita tidak anti pembangunan infrastruktur. Di atas segalanya, infrastruktur memang penting untuk melancarkan aktivitas dan layanan publik.

Untuk itu, proyek infrastruktur mestinya diprioritaskan untuk kebutuhan dasar publik, seperti infrastruktur pendidikan, infrastruktur kesehatan, jalan umum, pasar rakyat, transportasi publik, dan lain-lain.

Tetapi yang juga penting, sebelum bicara proyek-proyek besar dan megah, adalah pengalokasian anggaran untuk mengatasi persoalan kemiskinan dan pengangguran.

Jaimarta, Ketua Komite Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Demokratik (KPW PRD) Sumatera Selatan

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid