Politik Kembang Randu

Dalam pandangan Martin Heidegger, yang berbeda dengan gurunya, Edmund Husserl, sang “Aku” yang diyakini otonom dan universal itu tak pernah ada. Maka, dalam Letter on Humanism, untuk menyanggah Jean-Paul Sartre yang mengatakan bahwa manusia itu dikutuk untuk bebas, adalah suatu hal yang musykil. Kebebasan yang begitu diagung-agungkan dalam paradigma modern itu bukanlah kebebasan eksistensial yang kemudian mengilhami liberalisme politik dan berbagai kredo kesenimanan.

Manusia, yang disebut oleh Heidegger sebagai Dasein atau yang terlempar di sana, atau secara sederhana, kesadaran akan eksistensi yang sudah telat, tak benar-benar otonom dan universal. Ia selalu saja dikungkung oleh berbagai konteks. Konteks ini pada akhirnya memengaruhi segala aktifitas bawah sadar dan sadarnya. Di sinilah kemudian klaim bebas nilai atau obyektifitas sains menjadi goyah—di samping penemuan Einstein sendiri yang menilai bahwa masing-masing peneliti dalam pengamatannya pada satu obyek yang sama dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Berbincang tentang konteks adalah semestinya berbincang tentang kondisi atau trend di zaman ini yang seolah selalu mengaitkan sesuatu dengan sesuatu yang secara sekilas lain. Taruhlah studi tentang geopolitik yang berupaya mengkaji politik dalam keterkaitannya dengan kondisi geografis. Dalam kajian ini ternyata politik itu bukanlah sesuatu yang otonom dan universal. Dinamika di dalamnya akan selalu pula ditentukan oleh kondisi geografis dalam artinya yang luas.

Seandainya terdapat keterkaitan antara politik dan kondisi geografis tentu pula terdapat keterkaitan antara politik dan iklim, yang boleh disebut sebagai “klimopolitik.” Di pedesaan Jawa rasanya alam merupakan guru terbaik untuk mengidentifikasi keadaaan yang tengah berlangsung yang terkadang membuat bingung, malas, ngleles atau lemas. Dan upaya apapun untuk mengompori kondisi itu seperti tak menuai hasil.

Ibarat ABG atau duda dan janda gatelen yang masih bereksplorasi dengan pasangan-pasangan yang ada, kondisi perpolitikan Indonesia saat ini, yang bagi sementara kalangan seolah belum menemukan bentuk, tengah menikmati kesemarakan kembang randu. Orang tahu bahwa Pohon Randu adalah pohon yang kurang diminati dibanding Pohon Jati ataupun Mahoni. Di masa kecil saya, batang Pohon Randu sering difungsikan sebagai bantal tidur di berbagai poskamling selain kapuk-nya pula untuk mengisi kasur ataupun bantal yang sekarang kalah empuk daripada busa.

Namun ada satu keistimewaan pada Pohon Randu yang terletak pada bunganya. Ketika Pohon Randu berbunga, orang-orang di pedesaan Jawa tahu bahwa sekarang bediding, atau cuaca dingin di musim kemarau, tengah menghunjam. Lesu adalah jelas sebentuk faktisitas yang tak usah dipertanyakan, sebagaimana kecemasan yang memang melekat pada eksistensi manusia dalam pandangan para eksistensialis.

Pada bentuknya yang ekstrim, kelesuan Kembang Randu itu akan membuahkan apa yang dikenal sebagai cultural malaise, yang oleh Ronggawarsita pernah diagungkan sebagai Kalatidha atau zaman yang penuh dengan keraguan.

Taruhlah soal dinamika pilpres 2024 yang sesemarak kesemarakan Kembang Randu di akhir-akhir ini. Wacana-wacana soal koalisi, pemasangan capres yang pada mulanya rival, “arisan” cawapres, pembelotan-pembelotan politik, kongsi-kongsi yang seolah mampu menutup luka-luka eksistensial, adalah beberapa fenomena yang mengiringi kesemarakan Kembang Randu.

Namun, pada detik ini, Kembang-Kembang Randu itu sudah menjelma buah yang berjatuhan di Bumi. Dan sayangnya, tak sebagaimana di masa silam, Buah-Buah Randu itu di masa sekarang dipandang sekedar sampah yang menyesaki halaman yang kemudian pantas dibuang. Adakah Kembang Randu  itu hanyalah sasmita pada orang-orang yang tahan uji untuk kemudian dipercayai?

Yang jelas, memang tak ada hal yang tak mungkin dalam dunia politik. Namun, politik yang baik konon adalah politik yang berlangsung untuk kemaslahatan masyarakat luas yang jelas-jelas sama-sama absurdnya dengan politik kekuasaan yang tak terukur. Dalam menghadapi absurditas itu saya kira ada satu strategi yang dapat mendamaikan: politik kekuasaan untuk kemudian politik kemaslahatan.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid