Pidato Di COP21, Evo Morales: Kapitalisme Adalah Ancaman Terbesar Bagi Iklim

Presiden Bolivia Evo Morales kembali menggunakan panggung Konferensi Perubahan Iklim atau Conference of Parties/COP 21 di Paris, Perancis, untuk mengeritik kapitalisme.

Berpidato singkat di konferensi tersebut, Evo menuding kapitalisme sebagai ancaman terbesar bagi iklim. Menurut dia, kapitalisme sudah menjadi formula paling buas dan merusak terhadap kehidupan dan iklim.

“Hari ini kita punya tanggung jawab unik dan bersejarah terhadap Ibu Bumi. Mari kita mengekspresikan keprihatinan terhadap efek dramatis perubahan iklim yang mengancam Pachamama,” tegas Presiden ke-80 Bolivia itu, Senin (30/11/2015).

Di COP21, Evo Morales membawa proposal atau manifesto untuk menyelamatkan Ibu Bumi dan kehidupan. “Atas nama gerakan sosial, saya datang ke sini membawa proposal yang sudah disetujui di Climate Summit II di  Cochabamba, Bolivia, akhir Oktober lalu,” ujarnya di awal pidato.

Selain berpidato, Evo juga menggelar konferensi pers untuk menjelaskan alasan Bolivia menuntut kesepakatan menurunkan emisi hingga 1 derajat celcius.

“Aku sudah sering menghadiri Konferensi Iklim dan belum pernah mendengar seseorang mempersoalkan pangkal masalah di balik perubahan iklim. Kita bisa bicara tentang kesepakatan baru, tetapi jangan lupa bahwa temperatur selalu naik karena kapitalisme,” jelasnya.

Di Bolivia, kata Evo Morales, orang-orang di pedesaan kesulitan tidur karena udara panas dan tidak bisa menyegarkan badannya karena kekeringan. Di La Paz, Ibukota Bolivia, terlihat salju beberapa kali di tahun ini.

“Menggulingkan kapitalisme harus menjadi isu yang didiskusikan dalam Konferensi Iklim ini, disamping soal isu keadilan lingkungan,” jelas Presiden dari keturunan pribumi pertama di Bolivia ini.

Disamping Evo Morales, kritikan pedas juga dilontarkan oleh Presiden Ekuador, Rafael Correa. Di pidatonya, Correa menyerukan pembentukan Deklarasi Universal Hak-Hak Alam dan pembentukan pengadilan lingkungan internasional.

Pengadilan itu, kata dia, akan mengadili kejahatan lingkungan dan menuntut pelakunya untuk membayar utang lingkungan.

“Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa kita (dunia) punya pengadilan internasional untuk melindungi kepentingan investasi, tetapi tidak ada pengadilan lingkungan,” tegasnya.

Dia juga mengatakan, konservasi di negara-negara miskin tidak mungkin berhasil jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup manusianya.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid