Pergulatan Dalam Perubahan Sosial

Judul                 : Betawi Ngontrak 

Penulis              : Syaiful Amri

Penerbit            : Pustaka Obor Indonesia

Tahun Terbit    : 2021

Cetakan             : ke-1

Tebal Buku       : 153 halaman

 

Perubahan merupakan keniscayaan dalam kehidupan masyarakat. Setiap masyarakat pasti mengalami berbagai perubahan, cepat ataupun lambat.

Perubahan dalam masyarakat dapat terjadi pada nilai-nilai sosial, norma, lapisan dalam masyarakat, hingga interaksi sosial. Dinamika perubahan ini sendiri merupakan ‘inti jiwa’ dari masyarakat. Perubahan sosial tidak hanya kita lihat secara nyata, melainkan juga dapat kita baca dalam ranah literasi, khususnya novel.

Kisah tentang perubahan ini termaktub dalam novel “Betawi Ngontrak” karya Syaiful Amri. Sesuai judulnya, novel yang mengambil latar belakang budaya Betawi ini menjelaskan perubahan sosial di ibukota melalui tokoh utama bernama “Ipung”. Di awal cerita kita disuguhkan profil sosoknya yang kukuh mempertahankan eksistensi budaya Betawi. Ia tidak mau budaya Betawi yang telah diwariskan secara turun temurun luntur lantaran derasnya arus perubahan sosial yang terjadi.

Tidak hanya ingin menjaga budaya, Ipung juga bertekad mempertahankan tanah keluarganya agar tidak dengan mudah jatuh ke tangan orang lain. Agar keluarganya tak tergiur dengan beragam rayuan untuk menjual tanahnya, bahkan dengan harga tinggi sekalipun. Karena bagi seorang Ipung, tanah keluarganya tak dapat dinilai oleh apapun. Kisah Ipung melawan derasnya arus perubahan di tanah Betawi ini akan menjadi latar utama cerita.

Membaca novel ini, membuat penulis teringat akan definisi perubahan sosial menurut Samuel Koenig. Dalam teorinya, beliau mengatakan bahwa perubahan sosial dapat merujuk pada modifikasi-mofifikasi yang terjadi dalam pola kehidupan manusia, yang disebabkan oleh sebab internal maupun eksternal.

Hal tersebut terpapar jelas di novel ini, dimana pola kehidupan masyarakat Betawi mengalami perubahan drastis seiring dengan kemajuan zaman. Dari sisi internal, masyarakat Betawi di novel ini dikisahkan sudah mulai enggan untuk melestarikan budaya. Sedangkan dari sisi eksternal, masuknya nilai-nilai budaya luar akibat efek globalisasi membawa perubahan pada gaya hidup [sosial] masyarakat Betawi.

Perubahan dari dua sisi itu termaktub dalam salah satu halaman novel ini;

“Jujur, Ipung sedih, sangat sedih. Sedih dan kecewa. Sekarang di Betawi alias Jakarta, sudah sangat jarang mendengar orang baca qur’an atau menderes sore atau di malam hari. Kalaupun ada yang mengaji itu hanya suara kaset di Masjid. Kalau jaman dulu anak-anak perawan pada sopan dan santun, pakaiannya pakai kerudung dan gamis, sehingga jarang sekali terdengar adanya pelecehan seksual. Sementara yang anak-anak perjaka pada pakai peci, baju sadariah dan celana kagak aneh-aneh kayak sekarang. Shalat dan mengaji pun kagak pernah mereka tinggalin.

Sekarang boro-boro mengaji..yang cewek pegangannya bukan Qur’an lagi tapi HP atau tablet dan pakaiannya kalau tidak ketat, minim banget, hingga aurat atau yang tidak perlu dilihat orang lain sekarang bebas diobral. Yang cowok tidak jauh beda. HP, Ipad, bawaannya. Nongkrong hobinya, celana robek-robek, pakai anting, badan di tato, dan lain-lain. Kalau disuruh shalat bentar dulu-bentar dulu, gitu jawabnya. Bener-bener menyedihkan dan kecewa sama keadaan sekarang ini!!!” [hal. 25-26]

Jakarta sebagai kota metropolitan yang sekaligus menjadi barometer perputaran ekonomi terbesar di Indonesia, kerap memancing mimpi kaum perantau akan harapan hidup yang lebih layak, tak terkecuali tempat tinggal. Sementara harga tanah di Jakarta terbilang mahal. Hal inilah yang kerap menggoda warga asli Betawi untuk menjual tanahnya. Friksi antara tekad menjaga tanah leluhur dengan keinginan untuk mengubah nasib menjadi titik klimaks dalam novel ini, yang akan mempengaruhi bagian-bagian selanjutnya.

Namun kita tidak akan terlarut dalam friksi dan pergulatan semata, sebab novel ini juga menyuguhkan beberapa selentingan humor khas Betawi yang membuat kita sejenak mengurat senyum.

Semoga novel ini bisa membuka kesadaran akan masifnya efek perubahan sosial bagi sendi-sendi kehidupan masyarakat.[]

Penulis : Bambang W. Akbar

 

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid