Menakar Karakter Pemimpin Dari Perspektif Tembang Anak

Gundul-gundul pacul cul, gembelengan. Nyunggi-Nyunggi wakul kul, gembelengan. Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar. Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar.

Tembang di atas merupakan lagu yang sering saya nyanyikan, saat masih mengajar di sanggar anak alam lereng Gunung Merapi. Iringan gamelan, gerakan tubuh bergoyang (berjoget riang) sebagai nukilan ekspresi terhadap lirik lagu tersebut. Gundul-Gundul Pacul merupakan sebuah tembang anak dengan menggunakan lirik Bahasa Jawa, yang ternyata memiliki esensi makna yang sangat mendalam.

Mengutip dari situs BKD Pemprov DIY. 2013, Lirik lagu Gundul–Gundul Pacul diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1400-an dan juga dibantu oleh R.C Hardjosubroto. Lagu tersebut berasal dari Jawa Tengah dan seringkali dinyanyikan anak–anak sebagai lagu daerah. Tembang dengan kesan riang gembira dan jenaka ini, esensinya merupakan sindiran (kritik), bisa menjadi nasihat untuk pemimpin (yang abai) dalam mengembang amanah dari rakyatnya.

Meskipun dalam struktur sosial masyarakat paternalistik, bangsa kita masih memiliki kelekatan karakter, ketergantungan tinggi terhadap pemimpin, baik pemimpin formal maupun pemimpin informal. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengkorelasikan dan mendedah makna tembang gundul-gundul pacul dalam perspektif karakter pemimpin dengan konteks sosial-politik.

Pernahkah kita mendengar sebuah adagium rambut adalah mahkota?

Gundul-gundul pacul-cul gembelengan, gundul (botak tanpa rambut) adalah orang yang sudah tidak memiliki mahkota lagi. Sedangkan pacul atau cangkul adalah alat perkakas pertanian yang sering digunakan petani miskin (kaum marhaen). Indra Saputra, (2016) mendeskripsikan makna pacul sebagai papat kang ucul merupakan perlambang keempat panca indera manusia yang tidak dipergunakan sebagaimana selayaknya yakni, telinga, mata, hidung dan mulut.

Perspektif pacul (papat kang ucul) adalah kemuliaan jiwa pemimpin tergantung dari empat hal, dalam menggunakan keempat panca indra dengan sebaik-baiknya, penuh dengan kehati-hatian dan suri tauladan, sehingga pemimpin tak menjadi gembelengan atau jumawa, sombong, tidak hati-hati dalam segala hal.

Make sense, makna generiknya bahwa pemimpin bukanlah seseorang yang memiliki mahkota tetapi pemimpin yang indera matanya jernih untuk melihat realitas penderitaan rakyat, indera telinganya mau mendengarkan nasihat dan kritikan, indera hidungnya mampu mencium narasi kebaikan serta kesusahan hidup rakyatnya yang miskin dan indera mulutnya memiliki tutur kata santun, baik, adil, bijaksana dapat dipertanggung-jawabkan secara sinergis dalam ucapan dan praktik tindakannya.

Apabila, sosok pemimpin itu telah kehilangan keempat unsur inderanya akan berubah menjadi karakter pemimpin yang sombong, birokratik-rente, menjadi tirani dan cenderung menggangap dirinya sebagai raja. Sebagai pemimpin tidak lagi peka terhadap kesusahan rakyat, menjadi buta dan tuli atas kewajiban moral-etis-kemanusiaannya (ethical obligation), tidak lagi adil, bijaksana dan hanya mementingkan pribadi dan golongannya, bersikap jumawa atas posisinya.

Sedangkan bait, nyunggi-nyunggi wakul-kul artinya membawa wakul di atas kepala. Maknanya bahwa seorang pemimpin menjunjung tinggi amanah rakyatnya dengan penuh tanggung jawab (konsekuen). Apabila setelah pemimpin menjunjung amanah dari rakyatnya, namun cenderung tidak bertanggung jawab, bahkan gembelengan (jumawa, sombong dan penuh dengan ketidak hati-hatian) karena merasa dirinya sebagai pemimpin yang berkedudukan tinggi. Maka, wakul ngglimpang segone dadi sak latar.

Wakul ngglimpang segone dadi sak latar bermakna sebagai amanah yang terjungkal dan tidak lagi dipertahankan, mengakibatkan nasinya tumpah memenuhi seluruh halaman. Esensi maknanya adalah pada saat masih memimpin di pemerintahan (fungsi, jabatan strukturalnya), kepemimpinannya gembelengan (tidak hati-hati, sembrono, otoriter), amanah rakyat (wakul) menjadi jatuh dan kejatuhannya akan membuat sia-sia semuanya.

Sikap jumawa, sombong diri dan penuh ketidak berhati-hatian sikap kepemimpinannya, akan berakhir dengan suatu kegagalan memikul amanah rakyat. Membuat kepemimpinannya gagal, tidak dapat legitimasi  rakyat, hanya menghasilkan beragam hujatan serta euforia rakyatnya sebab pemimpin dzolim telah lengser dan menjadi tabir sejarah kelam.

Mendekatkan makna dari lagu gundul-gundul pacul adalah suatu nasehat (kritik) bagi pemimpin untuk mengemban amanah yang telah diberikan rakyat dengan sebaik-baiknya. (bebas kolusi, nepotisme bahkan jauh dari perilaku korup).

Karakteristik pemimpin hendaknya punya sikap kenegarawanan, sikap kepedulian tinggi, cekatan melayani rakyatnya, tak gila hormat, tak sombong, tak jumawa dan penuh kehati-hatian dalam mengemban amanah rakyat. Pemimpin harus bisa melindungi rakyat dan daerahnya,  bersedia mendengarkan nasihat dan kritikan rakyatnya, mendahulukan amanah dari rakyatnya dibanding kepentingan pribadi serta golongannya, adil dan bijaksana dalam menjalani kepemimpinannya.

Pemimpin bukanlah posisi yang harus membuat seseorang jadi jumawa, sebaliknya pemimpin adalah seseorang yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepalanya sendiri, menjaga amanah dengan penuh rasa kehati-hatian dan ketulusan hati melayani rakyatnya. Penjabaran uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa keseluruhan tembang gundul-gundul pacul adalah sinkronik-diakronik wujud pengabdian manusia ketika mengemban amanah-tanggung jawab.

Menjadi wajar apabila itu dalam periode kanak-kanak, namun ketika telah dewasa secara nalar politik, bukan saatnya lagi untuk bermain-main. Terlebih jika seseorang itu sedang mengemban amanah dari rakyatnya. Pesan dari lirik tembang gundul-gundul pacul merupakan representasi karakteristik pemimpin yang tidak bisa mawas diri, melakukan tindakan dengan sesuka hati tanpa mempertimbangkan segala konsekuensinya secara matang (jangka panjang dan pendek) sehingga tindakannya dapat merugikan rakyat.

Sebagai kata pengunci terakhir, saya kutip tiga semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani. Di depan memberi sikap keteladanan, di tengah membangun kemauan, di belakang memberikan dorongan dan pengaruhnya Sungguh karakteristik jiwa kenegarawanan ini, sekiranya selalu hadir di setiap qolbu pemimpin kita!.

Lantas, bagaimana jika perspektif kepemimpinan di Kota Klaten, belum melebur pada semboyan Ki Hajar Dewantara dan syair tembang Gundul-Gundul Pacul? Kita bersama-sama juga yang akan menjawabnya, kelak!.

 

(Noufal Riri Hananta || Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten Partai Rakyat Adil Makmur- DPK PRIMA Klaten)

Foto : Illustarsi petani sekaligus gembala via www.pexels.com

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid