Ketika Bumi Manusia Tampil di Layar Lebar

Ketika Bumi Manusia, novel pertama dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, diangkat ke layar lebar, ada banyak rasa penasaran sekaligus keraguan.

Pertama, ketika sebuah novel diangkat ke layar lebar, hal pertama yang mengobarkan rasa penasaran adalah: bagaimana sesuatu yang awalnya terjelaskan lewat kata-kata, mulai dari setting/konteks zaman, karakter/aktor, hingga adegan-adegan penting, sekarang terjelaskan lewat gambar bergerak disertai suara.

Di sini, versi layar lebar diharapkan bisa menjawab imajinasi para pembaca Bumi Manusia selama ini, dengan beragam tafsir yang mengendap di pikiran masing-masing.

Kedua, seperti apa sang sutradara menyusun alur cerita, beserta bumbu-bumbu pemanisnya, menjadi sebuah perjalanan cerita yang menarik dan tak melenceng jauh dari versi novelnya. Mengingat, dalam versi layar lebarnya, Bumi Manusia hanya diberi durasi 172 menit.

Yang ketiga, pada dasarnya, baik novel maupun film, selalu tampil sebagai aparatus ideologis pembawa pesan. Dalam hal ini, karena versi film merupakan hasil penafsiran sang Sutradara, maka pertanyaannya: masihkah pesan-pesan penting novel Bumi Manusia tersampaikan lewat versi layar lebar ini?

Terhadap tiga rasa penasaran di atas, kemudian dibenturkan dengan fakta-fakta: pertama, film ini harus mengejar keuntungan (profit), setidaknya untuk menutupi biaya produksi; kedua, penafsiran sang sutradara sangat dipengaruhi oleh ideologi yang berkubang di kepalanya; dan ketiga, agar bisa menggaet banyak penonton, ia harus diformat sesuai selera pasar.

Di sisi lain, novel Bumi Manusia bukan novel sembarang novel. Sejak lahirnya, ia sudah digandrungi oleh banyak pembaca, kendati membacanya dalam keadaan gelap. Sebab, jika ketahuan, bisa ditangkap dan dipenjara.

Bukan itu saja, Bumi Manusia sendiri punya kekuatan tersendiri yang jarang tandingannya: dialog-dialognya berisi, kaya pesan, menggugah, dan menggerakkan. Karena ini, mungkin, di mata pembaca yang fanatik, jangan sampai Bumi Manusia tercederai oleh film picisan.

Dan yang tak kalah penting, Bumi Manusia adalah sebuah karya sastra yang mengantar kita, generasi yang lahir jauh pasca kemerdekaan, untuk mengenali jejak-langkah nasionalisme Indonesia di masa kelahirannya, yang justru absen dalam narasi sejarah resmi kita.

//

Bumi Manusia mengambil latar sejarah di penghujung abad ke-19 dan memasuki abad ke-20. Di novelnya sendiri disebutkan hari ketika kisah novel ini dimulai: Jumat legi, 7 September 1898, bertepatan dengan penobatan Ratu Wilhelmina.

Nah, begitu film ini dimulai, hal pertama yang hendak ditunjukkan Hanung adalah gambar visual zaman itu, sebuah zaman ketika Hindia-Belanda menginjakkan kaki ke zaman baru: modern.

Kita diperlihatkan Surabaya, sebuah kota Hindia-Belanda terpenting setelah Batavia ketika itu, sedang diterjang kemajuan. Ada kapal uap. Ada kereta api. Surat kabar. Dan satu lagi, teknik cetak foto. Dan semua kemajuan itu dihela oleh sebuah lokomotif bernama: ilmu pengetahuan.

Tetapi di film itu diperlihatkan Minke dan Robert Suurhof sedang mencicipi es krim. Padahal, dalam novel aslinya, keberhasilan manusia mengubah air menjadi es barulah kabar dari jauh, belum terjadi di Hindia-Belanda.

Bagi saya, Hanung sudah berusaha menampilkan Hindia-Belanda, terutama Surabaya, di masa itu. Konon dari kabar yang berhembus, untuk memvisualkan suasana Surabaya di akhir abad ke-19 ini, film ini menghabiskan anggaran Rp 4 milyar.

Hanya saja, bagi penonton yang kritis nan jeli, ada yang tak disadari Hanung dan pengada propertinya: hampir semua yang tampil di film ini, dari gedung, kontrakan Minke, kostum, lokomotif kereta, rumah Nyai Ontosoroh, gapura, hingga kereta kuda, semuanya serba baru.

Tidak ada yang lusuh. Tak ada bekas robekan kertas di dinding, padahal Hindia-Belanda zaman itu sudah lama diterjang kapitalisme cetak. Juga kritik terhadap kostum serdadu Belanda, yang bukan hanya tidak mirip, malah tampak lucu.

Sekarang, kita beranjak pada penampakan semua karakter Bumi Manusia. Mari kita list dulu: dari Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies, Robert Suurhof, Robert Malemma, Herman Malemma, Darsam, Jean Marais, May Marais, Ibunda (Ibu Minke), Bupati B (ayah Minke), Jan Dapperste alias Panji Darman, Ibu guru Magda Peters, dokter Martinet, Mevrouw Telinga dan Kopral Telinga, Herbert de la Croix, Sarah dan Miriam de la Croix, Babah Ah Tjong, Meiko, Maurits Malemma, Kommer dan Martin Nijman.

Seingat saya, kalau tak luput, semua karakter di atas hadir di film Bumi Manusia. Tidak ada yang absen. Tentu saja, yang paling dominan adalah tokoh utama: Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies, Robert Suurhof, Robert Malemma, dan Jean Marais.

Yang menarik, ada pemberian nama pada karakter anonim di novel Bumi Manusia, yaitu pekerja rumah tangga Nyai Ontosoroh, yang di versi film diberi nama Paija. Mungkin ada yang lain lagi, tapi saya tak ingat. Atau luput.

Dari membaca versi novelnya, saya membayangkan Minke sebagai anak muda gaul pada zamannya, sangat lincah, cerdas, berwawasan luas, berkarakter kuat, tetapi mati kiri—istilah di Sulawesi Selatan bagi mereka yang lebih suka merayu dan menarik perhatian lawan jenis.

Patut disayangkan, keaktoran Iqbaal di film itu jauh dari imajinasiku tentang Minke. Kumis Iqbaal terlalu tipis untuk mewakili sosok seorang tokoh yang tumbuh dewasa di sebuah era yang menonjolkan kumis sebagai gaya paling ngetren di zamannya.

Juga suara Iqbaal yang rendah, lemah-lembut, tak sekena imajinasiku tentang Minke yang lantang. Akibatnya, beberapa rangkaian kata-kata yang kuat, yang punya daya pikat luar biasa sebagai quote, mengalir biasa saja. Mungkin aku salah, tolong diluruskan. Atau aku terhegemoni dengan Minke yang diperankan oleh Reza Rahardian di panggung teater?

Nah, yang berhasil memenuhi ekspektasiku adalah Sha Ine Febrianti yang memerankan Nyai Ontosoroh dan Mawar Eva de Jongh yang memerankan Annelies. Bagi saya, keberhasilan Ine memainkan Nyai Ontosoroh tidak kalah brilian dibanding Happy Salma yang kerap memerankan perempuan hebat itu di panggung teater.

Bagi saya, dengan penguasaan karakter yang kuat, ditambah pilihan kostum yang tepat, Nyai Ontosoro seolah benar-benar hadir membumi di film Bumi Manusia.

Begitu juga dengan Annelies, yang diperankan dengan baik oleh Mawar Eva de Jongh. Di versi novel pun, Annelies memang tak banyak bicara, tetapi kadang berkelakar. Dan jika anda lihat wajah Mawar Eva, dia tak berbanding jauh dengan wajah Ratu Wilhelmina muda. Kira-kira begitulah wajah Annelies. Kira-kira loh, ya.

Kemudian Robert Malemma, yang diperankan oleh Giorgino Abraham. Di novel dikatakan, Robert berwajah Eropa totok, tetapi berkulit pribumi. Saya kira, Giorgino kurang mendekati penggambaran itu.

Selanjutnya, ada guru Magda Peters yang diperankan oleh Angelica Reitsma. Seperti digambarkan oleh Pram di novelnya, guru Magda adalah pengajar yang sangat memukau, sehingga berhasil mengambil hati anak-muridnya. Tetapi di film, gerak tubuh dan cara bicara guru Magda tak seperti yang tertangkap oleh imajinasiku dari versi novel.

Yang lain adalah sosok Maiko, pelacur bertarif tinggi asal Jepang, karena bertubuh menarik. Saking menariknya, Robert Malemma menyerah takluk dalam pelukannya. Tetapi di film, make-up dan gaya bicara membuatnya benar-benar tidak menarik.

//

Kalau kita versi novelnya, kisah bumi manusia sebetulnya sebuah catatan yang ditulis Minke tentang sebuah peristiwa penting dalam jalan hidupnya. Jadi, di sini Minke sedang berkisah alias narator utama.

Jadi, sebelum ke bioskop, saya membayangkan Minke dengan catatannya, muncul berkisah di pembukaan film. Seperti film Gie, narator utama, Soe Hok Gie, bercerita merujuk pada catatan harian, Catatan Sang Demonstran.

Ternyata tidak demikian. Hanung langsung memulai dengan Minke yang dijemput oleh Robert Suurhof, teman sekolahnya di HBS, tepat di hari penobatan Ratu Wilhelmina sebagai Ratu Kerajaan Belanda dan jajahannya.

Dari jalan cerita yang dipilih oleh Hanung, bagian awal terkesan berjalan lambat, tetapi bagian akhir terkesan terburu-buru. Kunjungan Minke ke Boerderij Buitenzorg, pertemuannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, hingga dijemput paksa oleh Polisi untuk dipulang ke kota B untuk menghadiri pelantikan bapaknya sebagai Bupati, terus kembali ke Surabaya, lalu dijemput oleh Darsam kembali ke Boerderij Buitenzorg, itu terasa berjalan lambat.

Tetapi, dari adegan kejar-kejaran Darsam dengan si Gendut, yang berujung penemuan Herman Malemma yang sudah tak bernyawa di rumah pelacuran Babah Ah Tjong, lalu proses pengadilan, kemudian pernikahan, kemudian pengadilan lagi, itu berjalan sangat tergesa-gesa.

Walhasil, beberapa tokoh Bumi Manusia yang dimunculkan di bagian yang tergesa-gesa itu, seperti Kommer (Christian Sugiono), wartawan peranakan Eropa yang bersimpati terhadap rakyat Hindia-Belanda itu, hanya sekilas saja.

Beberapa eksekusi terhadap adegan juga kurang kena benar. Misalnya, pertemuan pertama Minke dan Annelies, yang harusnya mengesankan, justru terlihat biasa saja. Bayangkan, Minke ini jatuh cinta setengah mati dengan ratu Wilhelmina yang dianggapnya begitu cantik, tetapi hanya bisa dilihat lewat potret saja. Sementara Annelies, yang kecantikannya sebelas-dua belas dengan Wilhelmina, justru hadir nyata di depannya. Harusnya Minke terlihat terkesiap dan takjub.

Kemudian lagi, pertemuan Minke dengan Jean Marais, kawan Perancisnya, untuk curhat soal Nyai Ontosoroh dan Annelies yang memikatnya bak diguna-guna. Di novel, pertemuan itu dilsayakan di bengkel Jean Marais. Sedangkan di film, pertemuan itu terjadi di pinggir danau.

Di Novel, sebagai narator, Minke menceritakan siapa Jean Marais dan kenapa ia pincang. Tetapi di film itu tidak terjadi. Sehingga, bagi mereka yang tak pernah membacai lembar pertama hingga lembar terakhir novel Bumi Manusia sebelum ke bioskop, tentu akan diliputi kebingungan. Siapa Jean Marais dan kenapa kakinya pincang?

Selanjutnya, ini yang tak kalah seru: momen kelulusan Minke di HBS. Sebetulnya, kalau baca versi novel, pesta kelulusan di HBS ini adalah pesta kemenangan Minke. Ada momen luar biasa dan saya sempat menititkkan air mata ketika membaca bagian ini di novel, yaitu pengumuman lulusan HBS:

“Pelulus nomor dua untuk seluruh Hindia, nomor satu untuk Surabaya, siswa bernama…..Min-ke,” begitu pengumuman itu.

Sesuatu yang tak terduga, oleh siapa pun, apalagi Direktur dan guru-guru sekolah, juga oleh semua siswa, bahwa seorang pribumi bernama Minke tampil menjulang sebagai siswa terbaik di Surabaya dan Hindia.

Sayang sekali, di versi layar lebar, Minke tahu dirinya sebagai lulusan nomor satu di HBS Surabaya justru lewat pengumuman di papan pengumuman sekolah. Dan karena Hanung mengeksekusi adegan itu dengan cara begitu, jadi tak luar biasa.

Dari alur cerita, baik versi film maupun novel, nyaris tak ada yang berbeda. Hanya ada dua tambahan adegan. Pertama, Minke dan Robert Surhoof diusir dari sebuah kafe yang khusus untuk orang Eropa totok; dan kedua, seorang Nyai yang dimaki dan dipukul oleh laki-laki Eropa totok. Sementara urut-urutannya sama sekali tak ada yang berbeda antara novel dan film.

//

Seperti disinggung di pembukaan, Bumi Manusia sangat kaya pesan ideologis, dari anti-feodalisme, anti-kolonialisme hingga benih-benih nasionalisme.

Yang perlu diingat juga, setiap novel dalam tetralogi Pulau Buru menggambarkan tahapan tertentu dari pembentukan manusia pejuang bernama Minke, yang merupakan jelmaan dari sosok besar Tirto Adhi Suryo. Bumi Manusia sendiri tentang pembentukan karakter dan kesadaran manusia pejuang bernama Minke.

Jadi, sekalipun Bumi Manusia mengetengahkan kisah percintaan Minke dan Annelies, tetapi itu hanya satu latar untuk menunjukkan betapa buruknya praktek diskriminasi dan rasisme di bawah kolonialisme.

Untuk anda ketahui, di zaman Hindia-Belanda dulu, penduduk atau warga Hindia-Belanda dibedakan dengan derajat berbeda di hadapan hukum ke dalam tiga golongan: pertama, orang Eropa, sebagai golongan tertinggi dan termulia; kedua, timur asing (Arab dan Tionghoa, sebagai warga kelas dua; dan ketiga, rakyat bumiputera, sebagai kasta terendah (Pasal 163 Indische Staatsregeling).

Nah, berdasarkan pembagian golongan itu, Minke di kasta terendah, sedangkan Annelies di kasta tertinggi. Masalahnya, cinta tak mengenal kasta. Dan keduanya saling mencintai.

Disinilah letak soalnya: cinta mereka yang tulus-suci terhalang oleh tembok pemisah bernama hukum kolonial yang diskriminatif dan rasis. Sehingga, perjuangan Minke untuk mendobrak tembok pemisah itu ujung-ujungnya akan menabrak kolonialisme itu sendiri.

Jadi, si Minke itu, selain sering melihat praktek diskriminasi itu di sekitarnya, ia juga mengalaminya sendiri. Kisah cintanya berakhir kandas di tangan hukum kolonial yang diskriminatif. Bahkan isteri tercintanya dirampas paksa oleh hukum yang diskriminatif tersebut. Kalau sudah begini, siapa yang tak tak terbakar marah dan bangkit melawan?

Minke bersama Ontosoroh bangkit melawan. Berbeda dengan leluhurnya yang mengangkat senjata, duet Minke-Ontosoroh menggunakan cara-cara baru: berlawan dengan pena, dengan gagasan, dengan pengetahuan. Mereka juga masuk dalam palagan pengadilan kolonial.

Meski kemudian mereka kalah, tetapi pengetahuan dan pengalaman penting sudah didapatnya. Bahwa pengetahuan di tangan kolonial telah diperdaya untuk menindas. Bahwa hukum di tangan kolonial tak lebih dari senjata untuk menjarah hak-hak bumiputera sekaligus memagari hak-hak Eropa totok.

Tetapi, selain peristiwa dan pengalaman, orang-orang di sekitar Minke juga turut menyemai kesadarannya.

Melalui Nyai Ontosoroh, dia mendapat kisah tentang perempuan bumiputera, yang direndahkan sebagai gundik, bisa menggunakan pengetahuan Eropa untuk maju. Tidak hanya berhasil menyerap hal-hal positif dari pengetahuan Eropa, tetapi bahkan berhasil mengelola dan memajukan sebuah perusahaan besar.

Lewat sosok Ontosoroh, Minke menjadi tahu bahwa, sekalipun hanya belajar secara otodidak, mereka sanggup mengejar kemajuan. Menjadi manusia mandiri, bermartabat, dan berpengetahuan. Dan dari semua itu, dia sadar akan hak-haknya sebagai manusia, kemudian dengan gagah berani juga mempertahankannya.

Lewat Ontosoroh pula, kita mendengar cerita bagaimana pergundikan itu terjadi. Hampir semuanya karena paksaan dan menunjukkan hancurnya mentalitas bangsa bumiputra. Seperti diwakili sosok Sastrotomo, ayah Sanikem (Ontosoroh), yang rela “menjual” anak perempuannya demi mendapatkan peluang kenaikan pangkat menjadi juru-bayar sekaligus kehormatan.

Lewat Jean Marais, Minke mendengar cerita perjuangan gagah-berani bangsa Aceh yang tak rela takluk kepada penjajah. Meski diperhadapkan dengan senjata paling modern, senapan dan meriam, bangsa Aceh tak kecut. “Mereka membela apa yang mereka anggap jadi haknya tanpa mengindahkan maut. Semua orang, sampai pun anak-anak!” cerita Jean Marais.

Perang Aceh menyadarkan Jean, yang bekas serdadu pilihan kolonial itu, tentang jalan kemanusiaan, sebuah jalan yang menempatkan manusia secara setara dan seadil-adilnya tanpa memandang suku, agama dan ras.

Kemudian, ada guru Magda Peters, seorang liberal-radikal sekaligus pengagum berat Multatuli dan Roorda van Eysinga, yang selalu memperjuangkan pandangan bahwa bangsa bumiputera berhak untuk maju dan setara dengan bangsa-bangsa Eropa. Dia menjadi pembela paling gigih hak-hak pribumi, termasuk membela Minke di lingkungan HBS, tanpa pretensi atau kepura-puraan.

Ada juga Kommers, wartawan peranakan Eropa yang kerap membela hak-hak bangsa terjajah. Ia yang menunjukkan betapa hukum kolonial berlaku tidak adil terhadap kaum pribumi.

Kemudian ada Sarah dan Miriam de la Croix, yang mewakili suara kaum liberal-moderat Belanda, yang menyetujui emansipasi terbatas bagi bangsa terjajah dalam kerangka “politik asosiasi”, yang mendudukkan pribumi dan penjajahnya secara bersama dalam memajukan Hindia-Belanda.

Dan terakhir ada sosok Ibunda, seorang perempuan priyai Jawa, berpikiran maju. Kenapa? Kendati selalu bertutur tentang hal-hal baik dari nenek-moyangnya, ia tak memunggungi hal-hal baik dari kemajuan.

Setelah penjelasan di atas, sampailah kita pada pertanyaan, apakah Bumi Manusia di tangan Hanung berhasil menyampaikan pesan-pesan itu?

Memang, seperti dikritik banyak orang, Bumi Manusia di layar lebar terlalu menonjolkan kisah percintaan Minke-Annelies. Sehingga film ini tak ubahnya film percintaan remaja dengan latar peristiwa di zaman kolonial.

Tetapi, kita mesti sadar, sebagai film layar lebar berbiaya 20 milyar dan beroentasi profit, penonjolan kisah percintaan harus dianggap sebagai hal lumrah untuk menggaet pasar. Perlu disadari, target film ini bukan hanya pembaca novel Pram dan aktivis, tetapi masyarakat luas.

Kita justru berharap, peralihan medium Bumi Manusia dari cetak ke visual justru meluaskan pesannya sekaligus semakin mempopulerkan karya-karya Pram. Sudah saatnya, Bumi Manusia membumi di bumi Indonesia.

Lihat sendiri, meski sudah disokong biaya besar, menonjolkan kisah percitaan, mengambil pemeran dari aktor Abege paling populer saat ini, dalam 11 hari tayang di bioskop, Bumi Manusia baru ditonton 936.156 kali. Bandingkan dengan film Dua Garis Biru, baru seminggu tayang di bioskop, penontonnya sudah 1.235.354 kali.

Tapi, dibanding film yang tayang perdana di hari yang sama, nasib Bumi Manusia jauh lebih baik. Film Perburuan, yang diangkat dari kisah novel Pram yang berjudul sama, malah hanya ditonton 19.299 penonton.

Bagi saya, terlepas dari kekurangannya, dari sudut pandang penonton yang belum membaca novel Bumi Manusia selembar pun, secara samar-samar atau terang-benderang dia akan menangkap pesan perlawanan terhadap kolonialisme di film tersebut. Setidaknya, penonton tahu jalan cerita cinta Minke yang kandas di tangan hukum kolonial.

Juga anti-feodalismenya. Kata-kata Minke pada ibunya tentu menancap di ingatan sebagian penonton: “Saya hanya ingin jadi manusia bebas, Bu. Tidak diperintah dan juga tidak memerintah.”

Dan itu memang tidak cukup. Untuk itu, kalau mau lebih padu antara kisah cinta dan pesan-pesan pentingnya, juga lebih detail dan mendalam, ada baiknya Bumi Manusia diangkat sebagai Serial Televisi, layaknya Game of Throne dan Band of Brothers. Setuju?

//

Disamping hal-hal di atas, ada hal lain juga dari Bumi Manusia yang menarik untuk dibahas sekilas di sini, yaitu soal seksualitas dan konstruksi sosial yang melingkupinya.

Di film diperlihatkan adegan beberapa kali Minke mencium Annelies Malemma. Dan menariknya, beberapa ciuman itu didaratkan di hari pertama perjumpaan mereka. Bahkan, ada adegan ketika Nyai Ontosoroh dan Annelies mau mengantar pulang Minke, yaitu saat Ontosoroh meminta Minke mengulang caranya mencium Annelies.

Bayangkan, seorang ibu meminta pacar anaknya mencium anaknya sendiri di depan pelupuk matanya. Jiwa manusia konservatif mana yang tak terguncang? Termasuk tak sedikit penonton di belakang saya bergidik jijik.

Apalagi adegan percintaan Minke dan Annelies yang membuat mereka menjadi sepasang “binatang purba”. Sekalipun divisualkan dengan sangat dingin, tak bergairah, tak sedikit yang menanggapinya jijik. Terlebih saat adegan Ontosoroh melihat kejadian itu di balik pintu, tapi malah membiarkan.

Bayangkan lagi, di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi moralitas palsu seperti sekarang ini, ada adegan visual memperlihatkan seorang Ibu membiarkan anaknya bercinta dengan laki-laki yang belum “dihalalkan”. Penonton di belakang saya, seorang mbak-mbak berhijab dengan cowoknya, langsung menceletuk: “Ihh, jijik deh!”

Saya terkesiap. Betapa hipokritnya masyarakat kita kini. Betapa kebudayaan dan anggapan sosial masyarakat kita semakin bergeser ke kanan: konservatisme dan puritanisme.

Juga di film ini diperlihatkan, bagaimana Minke, generasi lahir dan gede seabad yang lampau, sudah terbebas dari konstruksi patriarkal dalam melihat keperawanan perempuan. Meskipun di film Bumi Manusia, dialog dokter Martinet dan Minke soal ini terkesan dilebihkan, hanya untuk menunjukkan bahwa Minke awalnya tak seratus persen menerima.

Saya tidak tahu persis seperti apa pandangan Pram terhadap seksualitas. Yang jelas, sastrawan besar Indonesia ini bukan tipe manusia hipokrit, melainkan manusia bebas yang pikiran dan tindakannya sudah merdeka dari kungkungan budaya feodal dan patriarkal.

Selain itu, Pram—juga generasi Minke, Mas Marco Kartodikromo, dan lain-lain, adalah generasi yang sudah terbebas dari cara pandang hipokrit moralitas feodalisme dan sekaligus tercerahkan oleh nilai-nilai dan gagasan baru dari semangat pencerahan (aufklarung) di Eropa.

Apa contoh hipokrit feodal itu? Di satu sisi, mengutuki semua hubungan badan yang tidak terikat pernikahan, sekalipun dilandasi cinta-kasih yang tulus. Di sisi lain, mereka merestui pernikahan paksa, bahkan pernikahan usia dini, yang jelas-jelas tidak dilandasi cinta kasih, sehingga persetubuhannya pun bersifat paksaan/kekerasan.

Soal ini, saya kira, perlu diskusi tersendiri. Ruang ini kurang tepat untuk berlama-lama dan berlebar-lebar membahasnya.

//

Terakhir, jika saya diharuskan memberi nilai pada film karya Hanung Bramantyo ini, dan penilaiannya menggunakan angka 1 hingga 10, maka saya memberi nilai: 6. Terima kasih.

Bagaskara Wicaksono

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid