Kembali ke Pancasila, Menyelamatkan Manusia Indonesia

Pernyataan Agus Jabo Priyono tentang liberalisme sesungguhnya bukan sekadar kritik terhadap sebuah paham politik atau ekonomi. Yang sedang ia soroti adalah krisis yang lebih mendasar, yaitu krisis karakter, krisis adab, dan krisis arah kebangsaan. Ketika kebebasan ditempatkan sebagai nilai tertinggi tanpa batas moral dan tanggung jawab sosial, manusia perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Yang kuat merasa bebas menguasai, yang kaya merasa bebas menumpuk keuntungan, dan yang berkuasa merasa bebas mengabaikan kepentingan rakyat.

Dalam situasi seperti itu, adab menjadi korban pertama. Ruang publik dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan penghinaan yang dibungkus atas nama kebebasan berpendapat. Solidaritas berubah menjadi kompetisi tanpa belas kasih. Keberhasilan diukur hanya dari kekayaan dan popularitas, bukan dari manfaat yang diberikan kepada sesama. Manusia semakin pintar, tetapi belum tentu semakin bijaksana. Semakin modern, tetapi belum tentu semakin beradab.

Bagi Agus Jabo Priyono, persoalan ini bukan sekadar persoalan moral individu. Ini adalah ancaman terhadap karakter bangsa. Indonesia dibangun bukan di atas semangat individualisme, melainkan gotong royong. Republik ini lahir dari pengorbanan, persatuan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Karena itu, ketika individualisme menjadi budaya dan pasar menjadi satu-satunya ukuran kebenaran, bangsa ini perlahan kehilangan jati dirinya.

Pancasila menawarkan jalan yang berbeda. Pancasila tidak menolak kebebasan, tetapi menempatkan kebebasan dalam bingkai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Pancasila mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ada sesama yang harus dihormati, ada bangsa yang harus dijaga, dan ada nilai-nilai luhur yang harus diwariskan. Kebebasan tanpa adab melahirkan kekacauan. Kekuasaan tanpa moral melahirkan penindasan. Kemajuan tanpa kemanusiaan melahirkan ketimpangan.

Karena itu, seruan untuk kembali kepada Pancasila bukanlah nostalgia politik, melainkan kebutuhan sejarah. Di tengah derasnya arus globalisasi dan liberalisasi, Indonesia membutuhkan kompas yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan keadilan, antara hak individu dan kepentingan bersama, antara kebebasan dan tanggung jawab.

Sikap Agus Jabo Priyono mengingatkan bahwa tugas besar bangsa hari ini bukan hanya membangun infrastruktur, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, atau mengejar kemajuan teknologi. Tugas yang lebih mendasar adalah membangun kembali manusia Indonesia yang berkarakter, beradab, berjiwa gotong royong, dan memiliki keberpihakan kepada rakyat kecil. Sebab bangsa yang kehilangan jati dirinya mungkin tetap tumbuh, tetapi tidak lagi tahu untuk siapa pertumbuhan itu diperjuangkan.

Pada akhirnya, pertarungan terbesar Indonesia bukanlah antara kiri dan kanan, bukan pula antara negara dan pasar. Pertarungan sesungguhnya adalah antara nilai yang memuliakan manusia dan nilai yang menjadikan manusia sekadar alat. Di titik itulah Pancasila harus kembali menjadi bintang penuntun, agar Indonesia tidak hanya menjadi bangsa yang maju, tetapi juga bangsa yang berjiwa.

Budi Prasetyo Hadi, Penulis merupakan Tenaga Ahli Mentri Sosial RI

[post-views]