Diserang Erdogan Karena Tandatangani Petisi, Chomsky Serang Balik

Presiden Turki, Tayep Erdogan, menyerang akademisi Turki yang menandatangani petisi berisi tuntutan perdamaian antara pemerintah dan Partai Pekerja Kurdistan sebagai “pengkhianat”. Selain itu, Erdogan ‘mengundang’ akademisi terkenal asal AS, Noam Chomsky, yang turut menandatangani petisi tersebut untuk datang sendiri ke Turki untuk melihat situasi yang ada.

Pernyataan Erdogan ini ditanggapi keras oleh Chomsky, filusuf dan pakar linguistik yang pemikirannya telah menjadi rujukan di berbagai belahan dunia. Seperti dilansir Rusian Today, Chomsky menyebut Erdogan sebagai “pendukung ISIS dengan berbagai cara”.

“Turki menyalahkan ISIS [atas serangan Istanbul], yang telah dibantu Erdogan dengan berbagai cara, juga mendukung Front al-Nusa, yang tidak berbeda dari ISIS. Ia kemudian mengomeli orang-orang yang mengecam kejahatannya terhadap etnis Kurdi—yang telah menjadi kekuatan darat utama dalam melawan ISIS baik di Suriah maupun Irak. Apa lagi yang perlu dikomentari?” kata Chomsky.

“Biarkan duta besar kita di AS mengundang Chomsky yang telah membuat pernyataan  tentang operasi Turki melawan organisasi teroris,” kata Erdogan sembari menawarkan diri sebagai “tuan rumah” di wilayah Kurdis.

Chomsky mengatakan ia akan datang ke wilayah Kurdis tapi bukan atas undangan Erdogan. “Jika saya putuskan datang ke Turki, itu bukan karena undangannya, tapi sebagaimana yang sudah-sudah, itu atas undangan para pembangkang yang pemberani termasuk warga Kurdi yang terus diserang selama bertahun-tahun,” kata Chomsky kepada Guardian.

Sebelumnya diberitakan bahwa lebih dari seribu akademisi menandatangani petisi yang menjadi surat terbuka kepada pemerintah Turki. Petisi tersebut menuntu pemerintah untuk segera menghentikan “pembunuhan masal dan pembantaian” serta mengakhiri pengepungan atas kota dan desa di sebelah tenggara negeri itu.

“Sebagai akademisi dan peneliti di negeri ini, kami tidak akan menjadi bagian dari kejahatan ini! Negara Turki secara efektif telah mengutuk warganya di Sur, SIlvan, Nusaybin, Cizre, Silopi, dan banyak kota serta lingkungan lainnya di provinsi Kurdish untuk menciptakan kelaparan melalui pengepungannya yang telah berlangsung berminggu-minggu. Negara telah menyerang penduduk ini dengan senjata dan peralatan berat yang hanya dikerahkan saat-saat perang. Sebagai hasilnya, hak untuk hidup, kemerdekaan, dan keamanan, dan lebih khususnya larangan penyiksaan dan perlakuan menyakiti yang dilindungi oleh konstitusi serta konvensi internasional telah dilanggar,” demikian antara lain bunyi petisi tersebut.

Petisi ini ditandatangani oleh 1.128 akademisi dari 89 universitas di Turki, dan sekitar 355 akademisi dari luar Turki termasuk figur-figur terkenal seperti Noam Chomsky, Judith Butler, Etienne Balibar dan David Harvey. Mereka menyerukan kepada negara Turki untuk menghentikan kekerasan dan menyiapkan kondisi untuk negosiasi.

RT/KurdishQuistion/Mardika Putera

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid