Apakah Snowden akan jadi ‘Hadiah’ Rusia untuk Trump?

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) turut mempengaruhi hubungan negeri itu dengan Rusia. Setidaknya, ketegangan antara Negeri Paman Sam dengan negeri berjuluk Beruang Merah itu agak mencair.

Situasi itulah yang memunculkan rumor, bahwa Rusia akan menjadikan Edward Snowden, pembocor dokumen rahasia badan keamanan nasional AS atau National Security Agency (NSA) ke ruang publik, sebagai “hadiah” untuk Presiden Donald Trump.

Benarkah rumor itu?

Ya, namanya juga rumor, belum tentu benar. Dan baru saja Pemerintah Rusia membantah rumor tersebut. Seperti disampaikan oleh kantor berita Rusia, TASS, Senin (13/2), komunikasi terakhir antara Kremlin dan Gedung Putih tidak membahas soal Snowden.

“Tidak, isu ini (nasib Snowden) tidak dibicarakan,” kata juru bicara Presiden Rusia, Dmitry Peskov, kepada wartawan, Senin (13/2/2016), seperti dikutip teleSUR.

Dia menambahkan, sejauh ini pemerintah Rusia belum menentukan apakah akan mengekstradisi Snowden ke AS atau menjadikannya sebagai warga negara Rusia.

Snowden sendiri sudah bereaksi atas rumor itu. Pemuda pemberani yang telah membocorkan dokumen rahasia NSA itu mengaku tidak akan takut seandainya dirinya akan diserahkan kepada pemerintah Amerika Serikat.

“Aku tidak tahu apakah rumor ini benar. Tapi saya beritahu anda: saya tidak takut,” tulis Snowden di akun twitternya yang punya 2,88 juta pengikut, Sabtu (11/2).

Pemuda berusia 33 tahun ini tahu betul dari resiko dari aksinya membocorkan ratusan ribu file rahasia Amerika Serikat yang tersimpan di NSA. “Di sini saya harus katakan tidak peduli dengan konsekuensi,” ujarnya.

Sejak tahun 2013, Snowden tinggal di Rusia. Awalnya dengan suaka sementara, lalu mendapat izin tinggal untuk beberapa waktu tertentu. Selama di Rusia, pemuda yang pernah bekerja di Badan Intelijen Pusat (CIA) ini tidak bisa membungkam sikap kritisnya.

Baru-baru ini dia ikut mengeritik UU pengawasan anti-teror Rusia yang baru. Dia meminta agar UU itu dibatalkan atau diamandemen. Snowden menduga, lantaran kritiknya itulah muncul rumor tentang dirinya yang akan menjadi ‘hadiah” Rusia untuk Trump.

“Beberapa hari lalu saya mengeritik UU big brother Rusia yang menindas…sekarang ada rumor ancaman. Saya tidak akan berhenti,” katanya.

Snowden melanjutkan, kalaupun akhirnya Rusia menyerahkan dirinya ke pemerintah AS, setidaknya akan mementahkan tudingan selama ini bahwa dirinya bekerja dengan intel Rusia.

“Akhirnya: ini bukti yang tak terbantahkan bahwa aku tidak pernah bekerja sama dengan intel Rusia,” tegasnya.

Bagi sebagian besar warga AS dan dunia, Snowden adalah pahlawan  yang menyingkap kejahatan pemerintah AS mematai-matai dan  mengumpulkan data-data pribadi banyak orang di dunia.

Namun, bagi pemerintah AS, Snowden sudah terlanjur dicap penghianat. Tidak terkecuali di mata Presiden Donald Trump.

Dalam sebuah kampanyenya di tahun 2013, Trump menyebut Snowden sebagai “ancaman berbahaya” sekaligus “penghianat berbahaya” yang harus dieksekusi.

Namun, pengacara Snowden dari American Civil Liberties Union (ACLU), Ben Wizner, menegaskan bahwa pihaknya tidak mendengar kabar apapun tentang rencana Rusia menyerahkan Snowden kepada pemerintah AS.

“Tim Snowden tidak menerima tanda-tanda itu dan tidak ada alasan untuk itu,” katanya.

Snowden sendiri sudah memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk pengajuan kewarganegaraan Rusia tahun depan. Bulan lalu, Moskow memperpanjang izin tinggal Snowden hingga 2020.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid