Setiap kali kutipan Soe Hok Gie muncul pada kaus, poster, atau media sosial, kita perlu bertanya: apakah kita memahami pergulatannya atau hanya mengagumi citranya? Kalimat yang tajam mudah dikenang, tetapi pilihan sulit di baliknya sering luput dibaca.
Gie kerap digambarkan sebagai sosok idealis tanpa cela. Padahal, perjalanan hidupnya memperlihatkan seorang anak muda yang kritis, gelisah, dan menghadapi pertentangan antara keyakinan moral dengan kenyataan politik. Membaca dirinya secara utuh berarti memberi ruang bagi kerumitan tersebut.
Tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan buku dan dunia sastra, Gie mengembangkan kebiasaan membaca, menulis, dan mempertanyakan keadaan. Pendidikan sejarah di Universitas Indonesia memperluas pandangannya. Catatan hariannya menjadi tempat untuk menuangkan kritik sekaligus kegelisahan pribadi.
Pergulatan Gie memperlihatkan bahwa menjaga integritas membutuhkan keputusan nyata. Ia mengecam praktik politik yang mengabaikan moral, sekaligus memilih terlibat dalam persoalan zamannya. Keterlibatan membuka peluang perubahan, tetapi juga membawa risiko kompromi, kekecewaan, dan kesalahan.
Dari sini, kita dapat melihat pilihan mendukung pemerintahan Prabowo dengan ukuran yang lebih jernih. Dukungan merupakan sikap politik yang harus dipertanggungjawabkan melalui tindakan: apakah membantu memperbaiki kebijakan, membela kepentingan rakyat, dan berani mengoreksi penyimpangan? Kedekatan dengan kekuasaan justru memperbesar kewajiban untuk berkata jujur.
Orang yang memilih bekerja dari dalam pemerintahan perlu memastikan bahwa akses dan kewenangannya menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Dukungan akan kehilangan nilai ketika berubah menjadi pembenaran atas setiap keputusan. Kesetiaan kepada pemimpin harus berjalan bersama keberanian menyampaikan kenyataan, termasuk kenyataan yang tidak menyenangkan.
Ukuran yang sama berlaku ketika menilai keterlibatan Rocky Gerung dalam ruang publik. Kritiknya patut diperiksa berdasarkan ketepatan fakta, kekuatan argumen, dan konsistensi sikap. Ketajaman bicara bernilai ketika membantu masyarakat memahami persoalan dan menuntut perbaikan. Seorang pengkritik pun harus bersedia menerima kritik terhadap pandangannya sendiri.
Karena itu, perdebatan tidak perlu berhenti pada posisi seseorang terhadap kekuasaan. Yang harus diperiksa ialah hubungan antara ucapan dan tindakan, antara sikap politik dan akibatnya bagi rakyat. Berada di dalam pemerintahan tidak otomatis menghapus idealisme; berada di luar pemerintahan juga tidak menjamin integritas.
Menghormati Gie berarti meneruskan keberanian untuk mempertanyakan, termasuk mempertanyakan tokoh yang kita kagumi dan pemimpin yang kita dukung. Idealisme menjadi kuat ketika sanggup menghadapi kenyataan tanpa kehilangan kejujuran.
Mendukung Prabowo harus tetap memberi ruang bagi koreksi. Mengkritik bersama Rocky Gerung harus tetap memberi ruang bagi pengujian. Di mana pun kita berdiri, kebenaran dan kepentingan rakyat harus menjadi ukuran.
Agustinus Budi Prasetyohadi, Penulis Merupakan Tenaga Ahli Menteri Sosial


