Sedulur Papat Lima Pancer Sebagai Psikologi Pribumi

Kemerdekaan adalah sebuah idealitas yang konon mampu menggerakkan ribuan dan bahkan jutaan orang untuk meraihnya, tanpa peduli pada harga yang mesti dibayar. Begitulah salah satu gambaran tentang kemerdekaan yang paling gampang untuk dipahami.

Namun, berbicara idealitas pada dasarnya adalah berbicara tentang omong-kosong yang ironisnya dapat melangsungkan sebuah peradaban.Saya sebut omong-kosong, karena idealitas pada dasarnya adalah sifat tiranik kita pada sesuatu yang lain. Dan kita memang, sebagai bangsa yang beradab, berpikir dan kemudian bertindak dengan sifat tiranik atas nama hal-hal yang dianggap ideal itu.

Dalam kancah filsafat poststruktural, kita cenderung dibentuk untuk berpikir secara oposisi biner. Ketika ada kemerdekaan sudah pasti ada pula keterjajahan. Dan atas nama kemerdekaan itu, sebab tunggal atas keterjajahan itu pun kemudian digariskan: Belanda, Jepang, dan sebagainya.

Dalam hal ini, saya tak hendak mengatakan bahwa perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan kemudian menjadi salah. Namun, saya hanya ingin menegaskan bahwa laku peradaban kita selama ini—terlepas dari benar ataupun salah, baik ataupun buruk—digerakkan oleh pola pikir oposisi biner semacam itu.

Apakah pola pikir oposisi biner itu kemudian menjadi satu-satunya pola pikir, yang dikenal pula sebagai pola pikir linier atau konvergen dalam psikologi kognitif, bukanlah pertanyaan yang penting untuk dijawab.

Kebudayaan kita, dalam hal ini saya mengambil kebudayaan Jawa sebelum pendidikan modern melinierkan pola pikir yang menggerakkannya, ternyata mewariskan sebentuk pola pikir yang lain, yang saya sebut sebagai pola pikir non-linier. Berkat pola pikir non-linier itu pula ternyata kita dapat menemukan bahwa penjajahan atau kolonialisasi yang pernah diterima bangsa ini adalah sedemikian dalamnya dalam menghunjam.

Bayangkan, untuk sekedar menyatakan diri kita sendiri sebagai “terdidik” ataupun “cerdas,” “maju” ataupun “terbelakang,” “waras” ataupuan “sakit,” kita pun sama sekali tak memiliki kuasa. Kategorisasi itu hanya akan berlaku ketika kuasa/pengetahuan Barat kemudian menggariskannya lewat para antropolog, ekonom, psikolog, dan sebagainya.

Dalam bidang psikologi, kolonialisasi epistemologis itu berlangsung dengan sedemikian terangnya. Maka tak heran ketika banyak dijumpai sosok-sosok yang berupaya memperkenalkan pola epistemologi pribumi berada di bidang ini: Ki Ageng Suryamentaram, Prof. Dr. dr. Soemantri Hardjoprakosa, dan sebagainya.

Dalam hal ini, saya akan memperkenalkan psikologi pribumi lainnya yang, ketika masih banyak orang Jawa menghidupi tradisinya, lebih familiar daripada Kawruh Beja Suryamentaraman ataupun psikologi dr. Soemantri yang diturunkan dari aliran kepercayaan Pangestu.

Di Jawa, tubuh dan jiwa tak pernah dipandang terpisah atau dapat dipisah sebagaimana di Barat. Atau dalam ungkapan Jawa yang lain, “Lahir utusaning batin.” Jadi, dalam hal ini, fisiologi adalah sekaligus psikologi dan begitu pula sebaliknya.

Bangsa Jawa, yang tentunya masih menghidupi tradisinya, tentu mengenal yang dinamakan “Sedulur Papat Lima Pancer.” Konon sedulur inilah yang selama ini menyertai kita atau sebenarnya membentuk kita.
Meskipun diistilahkan sebagai “sedulur,” namun bukanlah entitas yang sama sekali lain atau pisah dari diri kita. Mereka adalah bagian dari diri kita. Mereka adalah kita.

Pada struktur fisik diri kita, mereka adalah kakang kawah, adi ari-ari, getih, dan puser. Sementara pada struktur batin kita, mereka adalah amarah, aluamah, supiyah, dan mutmainah. Dalam keseharian mereka tampak dalam insting atau kecenderungan alamiah kita. Ketika kita lapar dan kemudian makan, maka fungsi itu dijalankan oleh sedulur aluamah yang bertempat di indera pengecap atau mulut.

Dan seumpamanya asam lambung kita naik dan mengakibatkan stress ataupun depresi, maka ada sesuatu yang salah pada sedulur aluamah ini. Artinya, dalam kosmologi Jawa yang meletakkan keselarasan sebagai ideal tertinggi kebudayaan, ada ketaklarasan (out of tune) dalam pengelolaan diri kita.

Pola pikir linier Barat, sebagaimana yang dipraktikkan oleh para dokter dan psikolog, tentu saja akan memilah dan memilih dua fenomena itu. Asam lambung yang tinggi memang dapat mengakibatkan stress ataupun depresi. Maka, pengandaiannya, jikalau beres asam lambungnya, stress atau depresi pun akan menghilang dengan sendirinya.

Lebih lucu lagi pola pikir linier para psikolog. Stres ataupun depresi itu justru akan dilacak hingga ke masa perkembangan sang klien sampai di masa kecil (psikoanalisa), di mana akhirnya kondisi lambung adalah persoalan ke sekian.

Dapat kita simak dari pembahasan tentang psikologi manusia itu, bahwa kita sebenarnya mewarisi pola pikir non-linier dalam kebudayaan kita. Sebuah pola pikir yang bisa jadi adalah kekuatan dan kelebihan kita. Pola pikir yang memandang keterhubungan atau jaringan sebagai prinsip semesta dalam bekerja.

Lalu sekonyong-konyong para psikolog menyatakannya sebagai pola pikir yang tak lagi sesuai dengan zamannya. Dan, celakanya, orang dengan pola pikir non-linier kemudian layak dinormalisasikan agar klop dengan dunia yang telah mereka atur terlebih dahulu lewat kolonialisasi fisik.

Padahal, ironisnya, manusia ideal dalam psikologi Barat, khususnya aliran psikoanalisa, hanyalah manusia yang mampu berkembang di tahapan rendah dari sudut-pandang psikologi pribumi: aluamah yang cenderung penuh dengan penyesalan diri.

Psikologi yang beriman pada psikoanalisa, untuk melihat keseluruhan diri manusia, pada dasarnya hanya beroperasi di wilayah aluamah itu. Sementara psikologi pribumi memetakan bahwa setidaknya terdapat empat wilayah lahir-batin manusia yang saling menyambung dan bertegursapa: amarah, aluamah, supiyah, dan mutmainah.

Abraham Maslow pun, seorah tokoh psikologi humanisme, ketika merumuskan manusia ideal hanya berhenti pada wilayah mutmainah. Hal ini tercermin pada perumusannya tentang karekteristik manusia ideal: transendensi.
Lalu, bagaimana dengan manusia ideal rumusan psikologi pribumi, Sedulur Papat Lima Pancer?

Bisa jadi, manusia ideal itu adalah justru manusia yang selama ini berupaya dinormalisasikan oleh kuasa/pengetahuan Barat: manusia dengan pola pikir non-linier yang berpotensi mendudukkan empat sedulur itu dalam satu anyaman pribadi yang utuh.

Heru Harjo Hutomo

[post-views]