RA Kartini, yang hari lahirnya: 21 April selalu dirayakan secara nasional hingga hari ini seringkali “dikerdilkan” sebagai pejuang emansipasi wanita atau kesetaraan gender. Kegelisahannya terhadap nasib wanita atau diskriminasi terhadap perempuan (seperti di bidang pendidikan dan posisi sosial) lebih banyak dikemukakan. Perayaan di sekitar Hari Kartini pun tampak hanya memeriahkah dunia kewanitaan seperti cara berpakaian dan lomba-lomba yang seakan dikhususkan hanya untuk perempuan. Semua ini mendangkalkan perjuangan RA Kartini; bahkan di bidang emansipasi, RA Kartini seakan dianggap sudah selesai sebab tuntutannya akan kesetaraan gender di bidang pendidikan, ekonomi dan sosial-budaya-politik sudah terpenuhi. Tak ada lagi jabatan sosial politik yang terlarang bagi perempuan.
Padahal lebih dari persoalan (diskriminasi dan emansipasi) perempuan, RA Kartini juga memperjuangkan nasib bangsanya yang terdiskriminasi oleh kolonialisme dan dengan caranya sendiri RA Kartini gigih melawan invasi asing yang terus-menerus merendahkan bangsanya. RA Kartini seakan Ratu Kalinyamat dalam bentuk yang lain. Sebagaimana kita tahu di abad ke-16, juga pendahulunya Adi Pati Unus mengobarkan perlawanan terhadap datangnya ancaman penjajahan Barat yang telah bercokol di Malaka; yang masih dilanjutkan di abad ke-17 oleh Susuhunan Mataram dengan menyerang Belanda di Batavia.
RA Kartini yang telah dibesarkan dalam konsep dan pemikiran Barat (Eropa, Belanda) itu seringkali dicurigai menjadi alat Belanda untuk menaklukkan bangsanya sendiri atau alat adu domba dengan kalangan muslim karena kecaman yang keras mengenai praktik poligami. Tetapi jelas, RA Kartini tidak berhenti pada persoalan-persoalan perempuan saja. Justru kecerdasan RA Kartini dan keberanian pemikirannya itu berusaha digunakan untuk kepentingan politik kolonial sendiri di mata dunia sebagai bentuk keberhasilan jalannya politik etis. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, terang di bawah cahaya kebudayaan Eropa (Barat) adalah buku yang dimaksudkan dan diterbitkan Abendanon di tahun 1912 dalam Bahasa Belanda; kemudian juga Inggris.
Tetapi tentu saja RA Kartini tidak bisa diklaim dan dikerangkeng demi kepentingan kolonial. Banyak pikirannya yang menuntut enyahnya kolonial sehingga menjadi spirit kebangkitan nasional. RA Kartini pun sadar bagaimana kolonialisme merendahkan bangsanya, terlebih rakyat biasa, dalam struktur masyarakat kolonial, yaitu pribumi sebagai ras nomer tiga setelah bangsa-bangsa Timur seperti Jepang dan China, juga Arab, sementara Bangsa Belanda (Eropa) sebagai ras unggul nomer satu. Ia pun menulis: “Semakin jauh saya menghayati jiwa bangsa saya semakin saya menganggapnya hebat. Ras kami kaya akan seniman dan penyair, dan barang siapa merasakan puisi tidak mungkin berbuat kebatilan. Cinta, pengabdian, kepercayaan, semuanya berubah menjadi puisi dalam jiwa orang Jawa.”
Cinta kepada kebudayaan rakyat sendiri inilah yang terus membangkitkan bibit-bibit nasionalisme atau garis tegas, demarkasi antara bangsa yang terjajah dan kolonialisme Barat. Kembali kepada budaya leluhur terus dikumandangkan terutama oleh Budi Utomo.
“JIka pribumi dipisahkan sepenuhnya dan secara paksa dari masa lalunya, yang akan terbentuk adalah manusia tanpa akar, tak berkelas, tersesat di antara dua peradaban, ” kata Dr Radjiman pada tahun 1911 di depan khalayak Belanda yang tergabung dalam Indisch Genootschap. Sementara itu Ki Hadjar Dewantara menulis: “Dan pertjajalah, saudaraku semua, selama kita pada dzaman ini berpisahan kultur dengan rakjat asli, selama kita merendahkan bahasa kita, seni kita, keadaban kita, djanganlah kita mengharap akan dapat mendjauhkan anak-anak kita dari keinginannja hidup seperti Belanda-polan. Sebaliknja: kalau anak-anak kita dapat kita didik sebagai anak-anak bangsa kita, agar djiwanja bersifat nasional dan mereka itu dapat kembali dan memegang kultur bangsa awak, jang sedjak abad jang lalu sudah tidak hidup lagi dalam dunia kita, karena hidup kita seolah-olah hidup dalam perhambaan, pertjajalah bahwa mereka itu akan merasa puas sebagai anak Indonesia. Dan kalau kita sudah membangkitkan pula hidup kebangsaan kita, tentulah alat-alat penghidupan asing jang berfaedah sadjalah jang kita ambil. Karena kita tidak lagi mabuk tjinta dan peribahasa ‘Tjinta itu buta’ tidak lagi mengenai diri kita; achirnja kita lalu dapat memilih dengan fikiran dan rasa jang jernih.” (baca juga: Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya 1, Gramedia, Jakarta, 2008; 235-237)
Kita lihat api perjuangan RA Kartini dalam membangkitkan harga diri bangsa masih relevan hingga hari ini. Sumber Daya Manusia yang rendah: kebanyakan masih lulusan Sekolah Menengah Pertama untuk memenuhi kebutuhan Industri, Korupsi yang merajalela, kesenian rakyat yang tertatih-tatih di tengah derasnya kesenian asing, dan masih kekayaan alam yang belum “Sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Semuanya itu membutuhkan jiwa patriotik.
Dalam rangka perjuangan yang lebih luas itu, untuk pembebasan rakyat dan bangsa, RA Kartini pun melepaskan atribut kebangsawanannya, dengan lebih suka dipanggil Kartini sebagaimana dirayakan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya tentang biografi perjuangan RA Kartini yang diberi judul: Panggil Aku Kartini Saja.
Penulis : AJ Susmana
Foto : Collective Wereldmuseum- Repro Negatif. “Kartinischool” (Sekolah Kartini), sebuah Sekolah Dasar untuk anak perempuan.


