Jakarta-Berdikari Online, Sabtu, 3 Agustus 2024, pembukaan pameran “The Wrath of Earth” diselenggarakan di Galeri Isa, Wisma 46, Jakarta Pusat. Pameran tersebut menyajikan karya-karya Arahmaiani: dari sketsa, lukisan, hingga instalasi. Dikuratori Nasir Tamara PH.D., pameran tersebut diselenggarakan hingga tanggal 20 September 2024.
Pameran dibuka dengan pembacaan puisi oleh Arahmaiani yang berjudul “Di Antara Bumi dan Langit”. Pembacaan puisi tersebut dilakukan pada salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran tersebut. Instalasi tersebut menggambarkan tata ruang kamar yang dijadikan tempat penahan Arahmaiani Feisal saat melakukan perjalanan menuju Canada. Penahanan tersebut terjadi di LA yang menjadi bandara transit dari Jakarta menuju Canada. Arahmaiani diduga menjadi salah satu teroris yang masuk ke Amerika karena di dalam tasnya terdapat Pistol mainan yang sebenarnya akan digunakan sebagai property pertunjukkan di Canada.
Pada Instalasi tersebut terdapat beberapa simbol yang menunjukkan latar belakang terjadinya penahanan: salah satunya adalah Kitab Al-qur’an sebagai simbol dari agama yang diimani Arahmaiani dan Coca-Cola sebagai simbol Amerika.
Arahmaiani merupakan seniman kelahiran Bandung pada 21 Mei 1961. Selain seniman, pada saat pembukaan pameran tersebut, Nasir menceritakan bahwa Arahmaiani juga seorang aktivis.
“…dapat dilihat dari karya-karyanya yang membawa pesan-pesan perlawanan seperti salah satu karyanya yang berjudul ‘Hot Date’ yang menggambarkan aksi intervensi Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah dengan menciptakan perang dan mengeruk minyaknya,” katanya.
Hot Date 2008 oleh Arahmaiani

Gambar dari Hot Date.
Arahmaiani pun aktif mengampanyekan isu lingkungan melalui karyanya. Menurutnya, sudah saatnya eksploitasi berlebih terhadap lingkungan tidak boleh dibiarkan. Ia menuturkan bahwa manusia yang serakah menghancurkan tempat tinggalnya sendiri adalah tindakan yang sangat bodoh. Dalam salah satu karyanya berjudul “Sacred Coke”, Arahmaini mencoba lagi-lagi untuk menceritakan eksploitasi alam yang dilakukan oleh manusia. Dalam karya tersebut, terdapat meja kayu yang di atasnya bertabur beras dan tanah secara melingkar dan di tengahnya terdapat coca-cola dengan berhiaskan kondom di atasnya. Meja kayu, beras, dan tanah yang melingkar berarti kekayaan alam dan coca-cola adalah simbol kebiadaban manusia yang rela mengorbankan alamnya demi nafsu dan kekuasaan belaka.

Sacred Coke by Arahmaiani 1994-2014
Di sana terdapat pula karya-karya yang menggambarkan krisis keuangan yang terjadi sepanjang sejarah yakni krisis ekonomi Asia tahun 1998 dan Krisis moneter 2008 yang disebabkan oleh kejamnya ekonomi kapitalistik. Peristiwa tersebut ditunjukkan dalam karyanya yang berjudul “Free Market” dan “The Fall”.
Selain melakukan kampanye, dalam kehidupan nyatanya Arahmaiani berkontribusi langsung dalam pemeliharaan alam khususnya yang ia lakukan di Tibet yakni menggerakkan penanaman seribu pohon dan terlibat dalam proyek penjagaan sumber mata air Asia. Oleh karena aktivitasnya tersebut, pemerintah Tiongkok sepakat untuk mendukung upaya pelestarian alam di Tibet. Dalam pengembaraannya di Tibet, Arahmaiani justru menemukan nilai budaya Indonesia yang lestari di sana, yakni tentang penghormatan manusia dan penjagaan alam. Ia menuturkan keresahannya karena nilai tersebut justru asing di negeri ini.
(Ndaru)


