Ojol dan Plekariat: Pekerja Jalanan Yang Terjebak Di Rantai Digital

Di balik deru knalpot dan notifikasi order masuk, ada sekelompok pekerja jalanan yang menggerakkan kota siang dan malam: para ojek online (ojol). Mereka hadir di setiap sudut kehidupan kita—mengantar makanan, menjemput penumpang, membawa paket, bahkan jadi penyelamat saat darurat. Namun, ironisnya, eksistensi mereka seringkali tidak lebih dari sekadar titik dipeta digital.

Kini muncul istilah baru yang mulai diperbincangkan di ruang-ruang diskusi budaya: “plekariat”. Istilah ini adalah gabungan dari kata Prekariat (Precarious Proletariat) dan bunyi lokal atau gaya pelafalan yang mungkin lebih dekat dengan bahasa Indonesia atau logat tertentu seperti “Plek” yang terkesan lebih lugas atau satirikal. istilah ini mengacu pada kelas pekerja modern yang hidup dalam ketiakpastian kerja, upah rendah, tanpa jaminan sosial dan seringkali dieksploitasi dalam sistem kerja fleksibel (Gig Economy).

yang secara satir menggambarkan kelompok yang hidup dalam sistem kerja tanpa kuasa, kreativitas, atau kepemilikan atas hasilnya sendiri.

Lantas, apakah para ojol termasuk dalam kelas plekariat?

Sistem yang Mengontrol Tanpa Memberdayakan

Ojol adalah wajah paling kasat dari ekonomi digital, namun mereka juga adalah korban paling nyata dari sistem yang tidak berpihak pada pekerja. Mereka tidak punya kontrak kerja tetap, tidak ada jaminan kesehatan yang layak, tidak ada upah minimum. Status mereka sebagai “mitra” hanyalah kamuflase dari hubungan kerja sepihak yang dikendalikan oleh algoritma.

Jam kerja tak menentu, penghasilan yang bergantung pada rating dan promo, serta perubahan aturan sepihak dari aplikasi adalah kenyataan sehari-hari. Para ojol bekerja keras, tapi tak punya kontrol atas pekerjaannya sendiri. Mereka bukan hanya kehilangan hak, tapi juga kehilangan narasi.

Jadi Konten, Tapi Tak Pernah Diangkat

Di media sosial, kisah-kisah ojol sering diangkat. Mulai dari yang lucu, mengharukan, hingga menyedihkan. Mereka dijadikan meme, quotes, bahkan tokoh sinetron. Tapi di balik itu semua, suara asli mereka sering hilang. Mereka ditiru, dijadikan simbol, tapi tidak benar-benar dilibatkan.

Inilah sisi lain dari plekariat: mereka yang hidupnya dikutip, gayanya diadopsi, tapi tidak pernah diberi panggung sejati.

Antara Ketahanan dan Keberdayaan

Meski hidup di bawah tekanan sistem, para ojol juga adalah simbol ketangguhan dan kreativitas akar rumput. Mereka membentuk komunitas, solidaritas, dan bahkan gerakan advokasi. Banyak dari mereka yang membuat konten sendiri, membuka usaha sampingan, hingga jadi inspirasi lokal.

Namun, ketangguhan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah keadilan struktural.

Yang Sering Dilupakan

Ojol adalah wajah dari masyarakat urban yang bekerja tanpa henti, tapi sering luput dari perhatian serius. Mereka bukan hanya pengantar makanan, mereka adalah tulang punggung ekonomi digital. Jika sistem terus memperlakukan mereka sebagai titik data, bukan manusia, maka kita sedang membangun dunia yang tidak adil—dan pada akhirnya, rapuh.

Karena yang paling berharga dari teknologi bukanlah kecepatannya—tapi apakah ia membuat hidup manusia jadi lebih adil.

Sultan Ardy
Penulis adalah Ketua Forum Kebangkitan Ojol Indonesia

[post-views]