Kalau kita membaca periode sejarah nusantara abad ke-13, kita bisa melihat: betapa percaya dirinya Raja Kertanagara menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi invasi asing di bawah komando Kubilai Khan, kekuatan politik terbesar Asia waktu itu.
Kita tidak perlu bertanya lebih jauh mengapa Kertanagara harus menghadang Kubilai Khan dan menyerukan persatuan nusantara walau barangkali bisa kita berikan alasan sementara di sini yaitu: terganggunya jalur perdagangan di sekitar “Selat Malaka” kini akibat dari dominannya kekuatan politik Kubilai Khan dan jelas merugikan perdagangan ekspor Singasari: entah itu beras, lada atau rempah-rempah yang lain. Tapi yang perlu di garis bawahi di sini adalah kepercayaan diri Kertanagara itu yang tidak lagi ditemukan pada para pemimpin politik Nusantara kemudian dalam menghadapi ancaman asing. Baru setelah 7 abad kemudian tipikal pemimpin model Kertanagara itu muncul yaitu pada Presiden Sukarno.
Hayam Wuruk masih ada ketegasan dalam menghadapi ancaman asing walau di akhir kuasa diserang dilema seperti Airlangga membagi Negara menjadi dua demi anak-anak tercinta. Di bawah Komando Hayam Wuruk, utusan Kaisar Ming pada tahun 1377 yang hendak mendorong Sriwijaya Merdeka disambut di Palembang dengan tidak ramah dan diekseksusi tanpa ada upaya pembalasan dendam dari Ming. Malahan nanti ketika terjadi sengketa antara Malaka dengan Majapahit soal kedudukan Palembang, Ming mengakui bahwa Palembang menjadi wilayah kedaulatan Majapahit.
Wikramawardhana, penerus Hayam Wuruk yang mengetahui kondisi internal yang retak seakan membiarkan Palembang jatuh ke tangan para bajak laut dan oposan Dinasti Ming. Bahkan juga seakan membiarkan saja Cheng Ho berlayar di lautan nusantara untuk menumpas mereka. Bingung dan panik dalam menyikapi perkembangan dunia, Wikramawardhana justru mengambil langkah di luar dugaan yaitu menyerang pasukan Cheng Ho utusan Dinasti Ming yang mendarat di Majapahit Timur, barangkali mengira Cheng Ho hendak memperkuat Pasukan Majapahit Timur? 150 prajurit Cheng Ho tewas. Itu pun tidak membuat Kaisar Ming menuntut balas dengan melakukan ekspedisi penghukuman sebagaimana Kubilai Khan yang marah karena seorang utusannya dipotong kupingnya oleh Kertanagara. Barangkali ia telah belajar dari sejarah bahwa serangan langsung justru akan membangkitkan persatuan antara Majapahit Timur dan Barat sebagaimana serangan langsung di masa Kubilai Khan justru membangkitkan persatuan Kediri dan Singasari. Kaisar Ming hanya menuntut kompensasi atas prajuritnya yang tewas. Itu pun kompensasi tidak dibayar penuh (karena bagi Kaisar Ming yang penting adalah pengakuan bersalah?)
Tapi penyakit paregreg tidak bisa langsung disembuhkan dan menjadi gejala kronis yang terus melemahkan Nusantara. Kedatangan Bangsa Portugis di bawah komando Alfonso atau calon “penakluk” lain dari Eropa tidak bisa diantisipasi dengan baik walaupun kata Bung Karno dalam risalah Mencapai Indonesia Merdeka: “kekuatannya masih kecil saja”. 1511 Malaka jatuh dan tak lagi sanggup direbut kembali. Beberapa ahli sejarah mencatat dalam soal teknologi perang, Benteng Malaka dipersenjatai dengan senjata yang tak kalah jauh dari senjata yang dibawa Alfonso. Jadi ada sebab lain kejatuhan Malaka.
Kekalahan dengan Portugis itu oleh sebagian para pemimpin nusantara dikompensasi dengan memboikot Malaka sebagai kota transit perdagangan, yang terbukti gagal, termasuk bahkan tidak menjual beras ke Malaka. Kekalahan itu juga terus dikompensasi dengan membangun identitas baru bernama “Islam” untuk melawan ancaman bukan menyerukan Persatuan Nusantara sebagaimana di masa Kertanagara atau juga di masa Adipati Unus masih berkuasa kalau kita baca Arus Balik Pramoedya Ananta Toer; bahkan mempersempit medan pertempuran yang seakan mengatakan bahwa Jawa adalah kunci dengan mempercepat pengislaman di Jawa yang menimbulkan kepanikan di kota-kota yang masih Hindu seperti Sunda dan Pasuruan, atau Blambangan bahkan Bali ketika seruan itu masih digemakan di bawah Amangkurat I yang berjiwa tiran. Di Pasuruan, bahkan Trenggono tidak peduli dengan bantuan orang-orang Portugis yang kemungkinan besar beragama Kristen Katolik di bawah komando Pinto yang dahulu menjadi musuh terbesar Adipati Unus dan Mendez Pinto juga tidak peduli membantu Raja Islam menaklukkan daerah Hindu asal mendapatkan barang dagangan yang diperlukan.
Di abad ke-16 hingga ke-17 Masehi itu, raja-raja Nusantara tampak bingung dan tidak tahu dari mana mulai membangun persatuan; saking bingungnya malah menjadi saling serang sendiri dengan berbagai alasan, tidak bisa bermusyawarah dan bergotong-royong; tetapi jelas bagaimana Nusantara menjadi panggung perebutan kekuasaan para raksasa Eropa. Portugis, Belanda, Inggris, dan Prancis seakan bergantian berdefile masuk panggung mengibarkan bendera masing-masing sementara pribumi menonton menjadi saksi perseteruan dan keseruan. Perseteruan Inggris dan Belanda (Prancis) yang mempertahankan Kota Batavia meninggalkan bau menyengat di antara para pribumi yang juga menjadi korban yang dikuburkan massal di tempat yang kemudian disebut Rawa Bangke di daerah Jatinegara kini.
Sultan Agung yang mewarisi semangat Majapahit pun bingung darimana kekuasaan ini diperluas. Ia remehkan orang-orang Belanda di Jayakarta yang mengambil wilayah Adipati Jayakarta di tahun 1619 seakan berkata kepada Sultan Banten: “Menyingkirkan Belanda yang mencaplok Jayakarta wilayah kau sendiri saja kau tak sanggup, bagaimana mungkin menginjakkan kaki di Bumi Mataram?” sambil membakari kota-kota di Jawa bagian timur baik yang masih Hindu atau sudah Islam yang tak mau mengakui supremasi Mataram. Sementara Banten merasa aman dari ancaman Mataram selama Belanda-Belanda itu membangun dan tinggal berkubu di Jayakarta yang sekarang berganti nama menjadi Batavia.
Sultan Agung kini menyadari hambatan menuju penguasa nusantara yang sesungguhnya ada di Batavia setelah sebelumnya ditolak Batavia untuk melakukan serangan bersama ke Banten. Dua kali percobaan serangan menghancurkan ke Batavia gagal total. Sultan Agung pun mengubah strategi dari serangan langsung menjadi serangan tidak langsung yaitu ekonomi dengan memainkan senjata pamungkasnya yaitu Beras. Beras dilarang dijual ke Batavia. Akibatnya Belanda membeli dengan harga mahal dari pihak kedua atau ketiga.
Tak kurang akal Belanda melakukan manuver dengan menggempur mati-matian Malaka yang masih dikuasai Portugis dan menjadi ladang devisa Mataram dari perdagangan beras. Malaka yang dipertahankan Portugis mati-matian sampai prajurit terakhir akhirnya jatuh pada 1641 ke Belanda. Kejatuhan Malaka 1641 ke tangan Belanda menjadikannya Malaka menjadi kota yang tak berarti. Mataram tak punya tempat untuk menjual beras ke dunia internasional. Banyak keluarga Portugis di Malaka pindah ke Batavia, terutama di Kampung Tugu dekat Tanjung Priok, bahkan para pedagang Jawa di Malaka pun ikut boyongan ke Batavia. Larangan menjual Beras kepada Belanda pun menjadi tidak efektif. Tak ayal lagi dicabut oleh Sultan Agung.
Kita tahu kisah berikutnya. Mataram di bawah Sunan Paku Buwana menyerah kepada VOC (Belanda) di tahun 1749. Tak ada penantang invasi asing yang kuat hingga 17 Agustus 1945 ketika Sukarno memproklamasikan kemerdekaan yang sampai sekarang kita peringati untuk yang ke-79 kalinya. Dan tepat 200 tahun kemudian yaitu di tahun 1949, “Negara” yang dahulu diserahkan Paku Buwana kepada Belanda (VOC) diserahkan kembali oleh Belanda menurut hukum internasional kepada pemiliknya: Indonesia.
Penulis : AJ. Susmana


