Intervensi Amerika Serikat (AS) yang didalangi oleh Presiden Donald Trump terhadap politik
negara berdaulat Republik Bolivarian Venezuela di bawah pemerintahan yang sah Nicolas Maduro
adalah bentuk paling nekad dan brutalnya imperialisme AS.
Operasi penculikan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya dan aksi penggunaan kekuatan
militer yang mengakibatkan kurang lebih 40 orang tewas tidak memiliki alasan untuk dibenarkan
dari sudut pandang kemanusiaan, kedaulatan negara maupun hukum Internasional, kecuali
karena keserakahan untuk mendominasi suatu bangsa-negara lain.
Aksi brutal yang ditunjukkan AS dan Donald Trump di Venezuela pada 3 Januari 2026
menunjukkan bahwa imperialisme AS telah menampakkan wajah aslinya yang sebelumnya
bertopeng “pembawa demokrasi” di dunia. Wajah dan watak aslinya yaitu kekuatan yang serakah
dan haus dominasi, siap menginjak-injak semua norma dan hukum Internasional demi memenuhi
agenda geopolitik dan ekonominya.
Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sudah lama menjadi target AS
untuk mengontrol kekayaan sumber daya alam atau energi strategis itu. Selama periode pertama
Donald Trump sebagai presiden AS (2017 – 2021), tekanan terhadap pemerintahan sah Venezuela,
Nicolas Maduro, meningkat. Mulai dari sanksi ekonomi, dukungan terbuka untuk kudeta, serta
sempat mengakui secara sepihak presiden sementara Juan Guaido dan tidak mengakui Nicolas
Maduro sebagai Presiden sah Venezuela.
Pada Oktober 2025, aksi AS yang menyerukan perang terhadap Narko-Terorisme, adalah upaya
licik Trump untuk mengintervensi Venezuela dengan label perang palsu terhadap narkotika dan
terorisme. Hasilnya, 4 kapal kecil di Laut Karibia dibom dan menewaskan 21 warga sipil tak
bersenjata oleh armada Militer AS dengan dalih perang palsu itu. Tanpa bukti, tanpa pengadilan.
Demikianlah berlangsung sampai sekarang, Nicolas Maduro Moros dituduh Trump sebagai
pemimpin kartel narkoba yang merusak AS, oleh karenanya AS harus “membela diri”.
Tidak sampai di situ saja, meski dalam tekanan sanksi ekonomi oleh AS, ekonomi Venezuela yang
dikonsolidasikan Maduro mulai stabil dan dukungan politik internalnya menguat menjelang 2026.
Upaya kudeta lunak dan sanksi ekonomi Trump buntu, sehingga tak mau kehilangan muka, opsi
militer dan penculikan Presiden Maduro dipilih sebagai solusi.
Di saat seluruh dunia merayakan akhir tahun dan persiapan tahun baru 2026 dengan damai, tanpa
melibatkan Kongres AS-nya, Trump merencanakan sebuah aksi brutal di tanah Amerika Latin.
Belajar dan Bersolidaritas Dengan Venezuela: Dari Perang Palsu, Hugo Chavez dan Jahatnya
Imperialisme AS Dapat Menimpa Kita Semua.
Motif utama dari aksi menjijikkan Trump dan wajah asli imperialisme AS dikuak dengan gamblang
oleh mereka sendiri, yaitu sumber daya alam Venezuela Minyak. Sungguh picik dan memalukan.
Alih-alih akan berhasil, motif itu hanya akan ditandai sebagai deklarasi perang global: ancaman
terhadap perdamaian dan keamanan Internasional.
Kejahatan Internasional Trump dan AS, bukan hanya menuai kutukan keras dari warga dunia.
Negara-negara Non-Blok terus bersuara lantang, bahkan sekutu tradisional AS di Eropa seperti
Jerman dan Prancis terpaksa mengeluarkan pernyataan yang menyerukan penghormatan
terhadap hukum Internasional, walau dengan nada hati-hati.
Atas aksi AS terhadap Venezuela tersebut dapat menciptakan preseden yang mengerikan. Setiap
orang dapat menyimpulkan sebuah prinsip “Anda bisa menculik pemimpin negara yang tidak
disukai”, termasuk bisa membunuh siapa saja dengan perang palsu terhadap apa saja. Di
Venezuela atas nama narkoba dan terorisme, dulu juga pernah terjadi oleh AS, perang atas nama
demokrasi, mungkin nanti bisa perang palsu melawan apa saja, termasuk lingkungan, HAM dan
korupsi.
Namun ironisnya, aksi ini juga justru semakin menegaskan persatuan rakyat Venezuela, baik yang
mendukung Maduro maupun termasuk sebagian oposisinya. Narasi perlawanan terhadap
Imperialis mendapatkan momentum dan bukti yang nyata di mata rakyat Venezuela khususnya
dan di mata rakyat dunia.
Menariknya, pola konsisten dari watak imperialisme AS dengan apa yang terjadi di Venezuela
sekarang, pernah dialami dan persis dengan peringatan Hugo Chavez, mantan Presiden Venezuela,
dalam wawancaranya 2009 silam. Penggalan percakapan itu begini:
Q : Jadi, apakah ada kemungkinan perang?
Chavez: Kamu tidak melihatnya? Kamu tidak melihat ancaman yang ditimbulkan oleh Imperium
AS terhadap kita?
Q : Mengapa menurutmu AS ingin menyerang Venezuela?
Chavez: Nah, ada sejarah baru-baru ini. Aku akan memberitahumu alasan terpenting di sini. Di
sini, tepat di sini, terdapat cadangan minyak terbesar di planet ini. Di Venezuela, kita
memiliki cadangan minyak untuk lebih dari 100 tahun. AS kehabisan minyak. Alasan paling
penting mengapa AS ingin menempatkan pemerintahan di sini yang tunduk pada mereka,
pada imperium, seperti yang mereka lakukan selama bertahun-tahun di Venezuela, adalah
minyak.
Q : Saya ingin bertanya padamu tanpa menyinggungmu, Apakah anda paranoid tentang AS?
Chavez: Tidak, sama sekali tidak, saya hanya realistis. Jika kamu bisa bertanya pada mereka
pertanyaan yang kamu tanyakan padaku. Masalahnya, Anda tidak bisa karena
kebanyakan dari mereka sudah meninggal. Tanyakan pertanyaan itu kepada Jocobo
Arbenz, yang menjadi presiden Guatemala saat saya lahir, Anda belum lahir saat itu,
hanya karena dia ingin melaksanakan reforma agraria, AS menyerang dan
menggulingkannya.
Anda bisa menanyakan pertanyaan itu kepada Joao Goulart, orang
Brasil, AS menggulingkannya. Anda bisa menanyakan pertanyaan itu kepada Salvador
Allende, presiden martir. Anda bisa menanyakan pertanyaan itu kepada Juan Bosch,
mantan presiden Dominika yang digulingkan oleh invasi AS. Anda bisa menanyakan
pertanyaan itu kepada jenderal saya, Omar Torrijos, yang dibunuh oleh CIA. Dan banyak
lainnya. Ini bukan paranoia, ini kenyataan. Saya sedang menjalankan tanggung jawab
saya sebagai kepala negara. Para paranoid adalah masalah lain. Mereka yang berada di
sayap kanan ekstrem, orang-orang gila yang percaya bahwa dunia tidak akan berubah.
Borjuis pengikut AS di benua ini yang ingin terus mendominasi rakyat-rakyat ini dan
mereka tidak akan bisa mencapainya. Baru setelah 11 September, AS mulai membuat
daVar teroris. Nah, saya juga ada di daVar itu. AS, pemerintah AS, menjatuhkan bom atom
di Hiroshima, bom atom, dan satu lagi di Nagasaki. Itu adalah terorisme.
Insiden awal tahun yang mengguncang dunia Internasional ini harus menjadi tonggak kesadaran
bagi seluruh bangsa, termasuk Indonesia bahwa ancaman terhadap kemerdekaan dan kedaulatan
sebuah negara adalah nyata. Kejahatan terhadap kemanusiaan, harga diri kedaulatan bangsa dan
perdamaian dunia sedang diobok-obok oleh kesemena-menaan Trump dan pemerintahan
imperialis Amerika Serikat.
Sebagai bangsa Indonesia yang setia pada Pancasila dan amanat Pembukaan UUD 1945, bahwa
kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena
tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Maka, berdiri menentang Tindakan
brutal imperialisme AS adalah keharusan sejarah dan cita-cita.
Lebih dari itu, mendukung perjuangan rakyat Venezuela terhadap kekejaman AS bukan sekadar
perjuangan satu negara, tetapi perjuangan bersama di garis depan pertahanan atas imperialisme
abad 21 yang kian nekad dan brutal, yang sewaktu-waktu karena keserakahan dan kesewenang-wenangannya, unilateralisme AS itu dapat menimpa bangsa dan negara manapun, termasuk
Indonesia.
Bangun Persatuan Nasional, Lawan Imperialisme
Viva Venezuela
Septian Paath, Penulis Adalah Kader Muda Partai PRIMA


