Kalau ngomongin sejarah KOMRAD, nama Radot Nababan bukan tipe yang suka tampil di depan. Bukan yang teriak paling kenceng, bukan juga yang hobi klaim hasil kerja. Tapi justru dari sosok yang kalem, adem, dan apa adanya inilah basis KOMRAD di Kampus Untag Jakarta bisa tumbuh kuat dan tahan banting.
Radot itu tipe pekerja senyap. Lebih milih jalan pelan tapi konsisten, daripada lari kenceng tapi cepat habis.
Menurut Lukas, Radot adalah kader perintis sekaligus simpul massa utama KOMRAD di Untag. Dialah yang ngerjain pengorganisiran dari bawah, pelan-pelan tapi rapi. Dari fakultas ke fakultas, dari jurusan ke jurusan. Militannya dapet, tapi gak pernah dipamerin. Dari kerja tekunnya itu lahir kader-kader seperti Gugum, Sonia, Angger, Jefry, Endah, Budi, Egi, dan kawan-kawan lain. Buat Lukas, Radot bukan sekadar penggerak, tapi pondasi. Yang bikin kerja kolektif bisa jalan dan bertahan lama.
Yang bikin Radot beda itu sikapnya. Padahal perannya penting, tapi tampilnya biasa aja. Low profile banget. Kalem. Gak meledak-ledak. Gak haus pujian. Nongkrong di sekret, ikut mobilisasi, atau turun aksi, sering kali orang gak ngeh kalau Radot itu simpul massanya Untag. Saking gak nyoloknya.
Biasanya orang baru sadar pas masuk forum-forum serius. Rapat konsolidasi basis kampus se-Jabodetabek, rapat setting aksi, atau pas diminta laporan perkembangan basis Untag lengkap sama estimasi massa. Baru deh banyak yang nyeletuk dalam hati, “Oh… ini toh orangnya.”
Gugum punya cerita sendiri. Ia pertama kali ketemu Radot di GMNI Komisariat Untag, pas PPAB GMNI Jakarta. Dari situ mereka nyambung, lalu pas KOMRAD dibentuk, Radot jadi orang pertama yang diajak gabung. Dan waktu membuktikan, pilihannya tepat.
Di luar urusan rapat dan aksi, Radot itu orangnya cair. Humoris, suka becanda, khas anak sekretariat. Rokok dan kopi paketan hampir selalu ada di dekatnya. Pakaian selengean, hidup sederhana. Kalimat khasnya gak jauh-jauh dari “mpee” sama “coy”. Ada juga cerita legendaris. Jarang mandi, dan kalau udah mabok, kelucuannya keluar tanpa rem.
Agung Nugroho punya kenangan kecil tapi nempel banget. Katanya, yang paling susah dilupain dari Radot itu matanya. Sayu-sayu khas orang bokek. “Kalau bisa dibayarin goceng, gw bayarin tuh matanya.” Hal receh, tapi justru di situ Radot terasa dekat. Manusiawi. Bukan sosok sok ideolog, tapi kawan seperjuangan yang hidupnya nyata.
Radot juga dikenal sebagai kader yang berani ambil sikap. Waktu kehadiran KOMRAD di Untag mulai bikin senior-senior lama gak nyaman, Radot gak ciut. Tekanan ada, tapi dia tetap tenang. Gak ribut, gak dramatis, tapi juga gak mundur. Prinsip jalan terus.
Sekarang, di tempat peristirahatannya yang tenang udah gak ada oligarki. Gak ada elit reformis busuk. Gak ada tentara dan polisi yang doyan politik. Yang ada cuma damai. Persis seperti mimpi kita dulu tentang tatanan masyarakat yang adil dan makmur.
KOMRAD dan seluruh simpul perjuangan 98 berduka, selamat jalan, Radot. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. Semoga istri dan anak-anak Radot selalu diberi kekuatan, kesabaran, dan keteguhan hati 🙏🏻
Radot bukan kader yang berisik. Tapi kerjanya kerasa.
Bukan tokoh yang sibuk dikenang. Tapi pasti dikenang.
Gerakan terus jalan. Jejak Radot tetap nempel di fondasinya
Agung Nugroho, Penulis merupakan alumnus KOMRAD


