Agenda Partai Politik Di Media Sosial

Netizen dengan segala kompleksitasnya memiliki kehebatan yang luar biasa, kurun tiga kali pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) di Indonesia, netizen menjadi salah satu penentu kemana opini publik diarahkan dan menciptakan persepsi keorang banyak yang menentukan kemenangan pada kotak suara. Netizen tidak terbentuk sebagaimana proses pembentukan masyarakat dan relasi sosialnya, ia terkait dengan makin berkembangnya teknologi informasi mengisi ruang-ruang komunikasi publik dan menggilas pola lama, dari offline menjadi online, interaksi sosial yang bisa terjadi kapan saja tanpa menjedah waktu dan batasan teretori Negara.

Selepas musim semi politik elektoral, untuk saat ini, media sosial yang berbasis informasi teknologi, menjadi media paling efektif menyuarakan masalah masyarakat luas yang tidak ada dimedia televisi maupun media cetak mainstream. Contoh kongkrit perjalanan kasus Sambo, dengan kekuatan netizen menciptakan admosfer yang maha dasyat dan berakibat pada berubahnya kebijakan penanganan perkara pembunuhan, televisi nasional meliput dan menjadikan berita berjilid-jilid. Semua diawali oleh power of netizen.

Kemajuan ini juga menciptakan bisnis baru, netizen yang dianggap bagian utama media sosial yang kemudian menciptakan makna baru, yakni pasar. Muncul nama seperti Fujianti Utami Putri yang memiliki 37,9 juta pengikut aplikasi tiktok, 50,3 juta pengikut diakun instagram dan 5 juta diakun youtube. Amanda Manopo yang memiliki 17 juta pengikut diakun instagram dan 9 juta pengikut diakun tiktok. Raffi Ahmad yang memiliki pengikut sejumlah 76,7 juta diakun instagram, pengiikut diakun tiktok sejumlah 17,4 juta. Wilie Salim memiliki pengikut diakun instagram sejumlah 38,1 juta, diakun tiktok pengikutnya berjumlah 80,8 juta dan memiliki pengikut sejumlah 38,1 juta diakun youtube.

Selain itu ada nama Dedi Corbuzier yang memiliki pengikut 25,1 juta di youtube, pengikut diinstagram sejumlah 12,7 juta pengikut. Jesicca Jane memiliki pengikut diinstagram berjumlah 11,6 juta, ditiktok memiliki pengikut sejumlah 11,7 juta. Syafira Haddad memiliki jumlah pengikut 9,2 juta diakun tiktok dan 5,3 juta pengikut diakun youtube.

Nama-nama besar ini meletakan netizen sebagai pasar besar dan industri untuk  prodak–kecantikan sampai kuliner–sekaligus takaran popularitas sesama mereka, semakin banyak yang mengikuti akun mereka semakin meningkat popularitas dan kontrak prodak berdatangan.

Peristilahan teranyar media sosial yang penulis dapatkan dari Prita Laura, mantan presenter Metro TV, saat diskusi nonformal 9 Desember 2025 menyebutkan media sosial saat ini menjadi digital activism yang disukai oleh komunitas-komunitas masyarakat yang cair maupun individu pemerhati isu sosial seperti Ferry Irwandi dari Malaka Project dan Dandy Laksono dengan Whatc Doc-nya. Digital Activism secara harfiah seperti yang terjadi pada bulan Agustus 2025 di Indonesia, demonstrasi yang awalnya diserukan melalui media sosial atas ketidakpuasan sosial ekonomi dan diikuti secara tindakan oleh masyarakat. Hal yang sama juga terjadi saat ini di Bulgaria, Nepal, Madagaskar, Maroko dan Kenya.

Digital Activism yang digandrungi banyak orang karena tidak bersifat hirarkis sebagaimana yang ditunjukan oleh aktivis mahasiswa pra reformasi ’98, perbedaan mencolok dari keduanya adalah titik tekannya aktivitas agitasi dan propaganda, aktivis mahasiswa pra reformasi ’98 tatap muka dan menjelaskan detail tujuan-tujuan, program politik secara langsung, juga menggunakan media selebaran atau koran cetak komunitas yang menjangkau massa lebih luas, terstruktur dan tergorganisasi dengan baik. Selain kekuatan nilai solidaritas dikandung oleh pelaku Digital Activism adalah kalimat universal yang digunakan, pesannya langsung sampai kepada orang peroang dilapisan paling bawah masyarakat yang melek media sosial, menjelma menjadi kepercayaan antara netizen dan pelaku digital activism.

Halaman depan digital activism adalah personal garansi yang terikat pada moral dan etik yang berada di tengah masyarakat, ia mengikuti keumuman masyarakat tanpa ada pertanggung jawaban maupun beban politik.

Partai politik, halaman depan yang ditampilkan pada media sosial adalah aktivitas tokohnya, pandangan dan posisi atas dinamika politik perharinya dan segala sesuatu berhubungan formalitas, bertolak belakang dengan digital activism. Itulah sebab partai politik tertinggal jauh dimedia sosial, cenderung terseret apa yang sudah diciptakan oleh pelaku digital activism. Beban politik–sebagai pendukung pemerintah maupun sedang menjadi partai peserta pemilu–yang dirasakan oleh partai politik adalah segala aktivitas, termasuk apa yang dilakukan dimedia sosial sebagai halaman depan, berdampak langsung kepada hasil politik.     

Tantangan berat dimedia sosial dan menjadi pekerjaan rumah oleh partai politik adalah dihalaman depan melepaskan diri  menggunakan bahasa formal atas kebutuhan keterbukaan informasi partai politik dan segela atribut formalitas lainnya,  memikirkan kembali agenda utama dimedia sosial untuk merebut dan menguasai narasi kebangsaan kepada masyarakat, agar isue receh yang tidak mendidik masyarakat tidak lagi ada di panggung utama. Perwujudan agenda dimedia sosial oleh partai politik adalah pendidikan politik yang selama ini diisi oleh pelaku digital activism.

Adi Prianto, Penulis Merupakan Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Partai PRIMA

[post-views]