Potensi Diplomasi Budaya Melalui Film “Jumbo”

Jumbo, judulnya mungkin terkesan sederhana namun film tersebut menyimpan sejuta harapan, Ia berhasil menjadi tonggak baru perfilman Indonesia. Jumbo merupakan film animasi pertama Visinema Pictures yang tayang pada 31 Maret 2025. Otak dibalik karya monumental ini adalah Ryan Adriandhy yang merupakan seorang animator, sutradara, dan seniman. Hingga kini Jumbo telah meraih 3 juta penonton di Indonesia.

Perjalanan perfilman animasi di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1950an. Pada tahun 1983 serial animasi Indonesia pertama lahir dengan judul “Si Huma”. Selain itu, Indonesia juga memproduksi film-film animasi lainnya hingga memperoleh penghargaan bergengsi. Di antaranya adalah film animasi 2D yang berjudul Battle of Surabaya, film tersebut rilis pada tahun 2015 dan memperoleh penghargaan International Movie Trailer Festival 2013, Seoul international Cartoon and Animation Festival 2016, dan International Filmmaker Festival of World Cinema 2018. Selain itu, terdapat serial animasi “Kiko and Friends” yang hingga kini telah ditayangkan dilebih dari 56 negara di dunia.

Masyarakat Indonesia dibuat terkesima dengan kualitas film Jumbo yang luar biasa. Tak heran, film ini telah melalui proses panjang, proses kreatif nya telah dimulai sejak tahun 2019. Kerangka cerita film tersebut dikembangkan oleh Irfan Ramli dan Adrian Qalbi. Film Jumbo dikerjakan dengan sangat hati-hati dan melibatkan lebih dari 420 kreator lokal. Satu detik animasi memerlukan 24 ilustrasi yang detail dan presisi. Film Jumbo juga melibatkan artis-artis populer Indonesia sebagai pengisi suara diantaranya: Ariel Noah, Bunga Citra Lestari, Angga Yunanda, Cinta Laura hingga Ariyo Wahab. Sementara itu, tokoh utama Don diisi oleh Prince Poetiray serta Den Bagus Sasono.

Potensi Diplomasi Budaya melalui Jumbo

Kajian mengenai Diplomasi Budaya tidak terlepas dari pemikiran Joseph Nye tentang soft power pada tahun 1990 yang mana diartikan sebagai kemampuan sebuah negara untuk memengaruhi melalui atraksi ketimbang kekerasan. Penemuan tersebut memberi marwah baru bagi negara-negara yang selama ini di dominasi dengan kekuatan berbasis pada hal-hal yang sifatnya koersif. Menurutnya terdapat tiga elemen dalam soft power yakni: kebudayaan, ide politik, dan kebijakan. Di Tiongkok konsep soft power mendapatkan legitimasinya pada tahun 2007 oleh Partai Komunis China, dan dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan 5 Tahunan China sejak saat itu.

Diplomasi sukses dilakukan oleh beberapa negara seperti: Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok. Diplomasi Budaya menjadi memiliki dua tujuan: (1) menjadi kaca dari kepentingan ekonomi politik; (2) menjadi alat untuk mencapai mutual understanding. Diplomasi budaya pun terdapat berbagai macam instrumen salah satunya melalui film.

Menurut Song Shwee Lim (2020) kajian mengenai korelasi antara soft power dan film sangatlah sedikit sebelumnya. Diskursus mengenai hal tersebut baru menjadi populer sejak dirilisnya buku “Soft Power, Cinema, and the BRICS” tahun 2015. Dalam penelitiannya yang berjudul “Soft Power and Cinema: A Methodological Reflection and Some Chinese Inflection” tahun 2020, Song Shwee Lim menunjukkan hubungan antar elemen dalam perwujudan soft power melalui film dengan mengambil studi kasus film “The Great Wall” Ia berhasil mengidentifikasi peran beberapa agen. di dalam nya terdapat peran agen sebagai produsen film, dan peran pihak ketiga dalam hal ini adalah stakeholder, dalam kasus tersebut dijelaskan bahwa misi diplomasi film tersebut dilakukan oleh salah satu grup konglomerat Tiongkok yang bernama Dalian Wanda Group. Song Shwee Lim menyebutkan bahwa Kepala dari Wanda Grup Wang Jialin sepenuhnya sadar terhadap peran konglomerat dalam mempromosikan Soft Power Tiongkok. Aksinya tersebut ditunjukkan dengan dibelinya AMC Entertainment yang mana merupakan bioskop terbesar kedua di Amerika Serikat. Aksi tersebut kemudian melahirkan kekhawatiran atas ancaman propaganda oleh Tiongkok terhadap Amerika Serikat.

Jumbo menjadi satu film yang sangat potensial untuk menjadi manuver diplomasi budaya Indonesia di tengah transisi dunia menuju multipolarisme, yang mana memberikan ruang bagi banyak negara untuk tampil unjuk gigi. Ruang tersebut dapat di masuki talenta emas Indonesia seperti Ryan Adriandhy dan timnya. Melalui film Jumbo mereka mampu merepresentasikan nilai-nilai Indonesia seperti kekeluargaan dan gotong royong. Produk budaya berupa permainan tradisional 17 Agustusan seperti panjat pinang dan mengambil koin dari buah juga direpresentasikan dengan apik dalam film Jumbo. Bahkan fenomena magis berupa hantu berkalung bunga melati yang bernuansa sangat Indonesia pun mampu dikemas dengan cantik. Selain itu, produk-produk Indonesia seperti Kecap Bango yang muncul di salah satu scene film. Banyak yang menilai pembawaan produk yang menjadi sponsor film tersebut sangat bagus karena sangat subtle atau tidak kentara, sama seperti yang ada pada film-film produksi Korea Selatan.

Mulai Juni 2025 Jumbo akan ditayangkan di beberapa bioskop Asia hingga Eropa di antaranya terdapat negara: Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Rusia, Belarus, Ukraina, Moldova, Armenia, Azerbaijan, Georgia (termasuk Abkhazia dan South Ossetia), Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Estonia, dan Lithuania.

Ini adalah momen emas bagi Indonesia dapat mulai merumuskan rencana strategis soft power untuk mem-booster kekuatan ekonominya. Keragaman budaya Indonesia dapat menjadi harta karun yang tak ternilai, representasi budaya melalui film terbukti sangat efektif untuk meningkatkan ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan Korea Selatan, ekspor film dan drama 700 juta – 1 miliar USD mampu menghasilkan dampak tidak langsung penjualan produk-produk Korea Selatan hingga lebih dari 10 miliar USD di tahun 2022-2023. Untuk mewujudkan itu Indonesia memerlukan instrumen-instrumen pendukung seperti kebijakan pemerintah, seniman-seniman berbakat, hingga peran dari stakeholder. Apabila ketiganya mampu bersinergi,  penulis percaya pilar kokoh ekonomi berbasis kebudayaan mampu dibangun dengan kokoh.

Ayu Wulandaru

Kader Muda PRIMA

 

[post-views]