Turki dan Erdogan: Kebangkitan dan Kejatuhan?

Turki saat ini diperintah oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP—dalam sebutan Turki). Partai ini didirikan oleh Recep Tayyip Erdogan pada tahun 2001. Dia menjadi Perdana Menteri sejak 2003 hingga 2014, lalu menjadi Presiden ke-12 Turki sejak 2014.

Cerita tentang Turki, Erdogan dan AKP sangat berkait selama 15 tahun terakhir. Mereka semua sangat kuat posisinya dalam 10 tahun pertama dari 15 tahun itu. Setelah itu, mereka mulai mengalami kesulitan, yang berpuncak pada kudeta tanggal 15 Juli lalu. Meskipun kudeta hancur hanya dalam dua hari, belum tentu Turki, Erdogan dan AKP sanggup membendung kesulitan yang muncul.

Untuk memahami apa yang bangkit dan yang jatuh, kita perlu melihat situasi Turki pada tahun 2001. Turki sudah menjadi Republik sejak tahun 1923 dengan Mustafa Kemal (Attaturk) sebagai Presiden pertamanya. Dia adalah pemimpin militer yang berusaha mengganti kekaisaran Ottoman dengan Republik modern.

Begitu berkuasa, rezim Attaturk menghapus peran militer Sultan. Juga menghapus peran keagamaan kekhalifahan. Di tahun berikutnya, dia mengganti huruf Arab dengan Latin. Dia juga melarang fez (kopiah orang Turki), yang dianggap simbol kekuatan lama. Dia juga mengembalikan hak-hak kaum perempuan dan menempatkannya setara dengan laki-laki. Dia juga membubarkan institusi-institusi keagamaan. Singkat kata, Attaturk mensekulerkan Turki.

Hingga 1946, Turki diperintah oleh partai tunggal, yaitu Partai Rakyat Republik (CHP dalam sebutan Turki). Attaturk, pendiri dari CHP, meninggal pada 1938. Pada tahun 1946, penggantinya sebagai Presiden dan pemimpin CHP, İsmet İnönü, membolehkan sistim multi-partai. Sejak itu, Turki diperintah bergantian oleh CHP (yang condong ke kiri tengah atau sosial-demokrat) dan partai kanan Partai Gerakan Nasionalis (MHP). Dalam periode itu, beberapa kali muncul usaha mendirikan partai Islam. Setiap kali partai semacam itu tampak tumbuh kuat, militer akan meluncurkan (atau mengancam meluncurkan) sebuah kudeta, yang dimaksudkan untuk membela sekularisme dari ancaman partai Islam.

Maka, tentara, CHP dan MHP terkejut luar biasa ketika partai Islam yang baru berdiri AKP berhasil menang besar di pemilu tahun 2002. Tetapi pemerintahan AKP tidak pernah merasa kuat. Mereka selalu takut dengan kudeta. Dukungan lain bagi AKP saat itu hanya datang dari gerakan Islam yang dipimpin oleh Fethullah Gülen, seorang ulama yang kini tinggal di AS, Kelompoknya tidak punya nama, tetapi orang sering menyebutnya “Jemaat”.

Di tahun 2002, ekonomi Turki dalam keadaan genting, dengan PDB rendah, pendapatan perkapita yang rendah dan inflasi yang tinggi. Hubungan Turki dengan negara-negara Arab dibebani oleh sentimen anti-Turki yang sangat kuat (akibat penundukan dunia Arab di era Turki Ottoman). Meskipun Tutki anggota NATO, upayanya bergabung dengan Uni Eropa terhalang oleh penolakan negara-negara Eropa yang khawatir dengan migrasi muslim besar-besaran ke daratan Eropa. Dan, setidaknya, Turki tidak begitu dihitung dalam kebijakan politik luar negeri AS.

Ketika AKP menang pemilu dan berkuasa, Erdogan tak lantas menjadi Perdana Menteri karena adanya larangan berpolitik—sehubungan dengan puisi dia di tahun 1997 yang berisi hasutan kebencian agama dan ras. Wakil AKP, Abdullah Gül, yang ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Abdullah Gül yang kemudian mencabut larangan itu, yang memungkinkan Erdogan menjadi Perdana Menteri di tahun 2003.

AKP di bawah kepemimpinan Erdogan benar-benar sukses mengubah situasi Turki di dekade pertama kekuasaannya. Populismenya telah melemahkan angkatan bersenjata, sehingga ancaman kudeta tampaknya mereda. AKP kembali memenangi pemilu di tahun 2007 dan 2012. Ekonomi Turki menggeliat dan berhasil memanfaatkan pinjaman dari IMF. Itu kemudian dipakai sebagai sumber daya baru untuk meningkatkan ekonomi dalam negeri, terutama layanan pendidikan dan kesehatan. Dia mencoba mencari cara baru untuk menyelesaikan perpecahan etno-nasional dengan Kurdi dan Armenia. Dia masuk kembali ke dalam politik timur tengah sebagai kawan dari siapapun yang masih berkawan dengan Israel. Ia membuka kembali pintu negosiasi dengan Uni Eropa. Dan itu mengurangi hambatan bagi praktek Islam membuat takut kelompok sekuler. Turki menjadi model bagi “gerakan islamisme” yang berkuasa.

Tiba-tiba semua itu berantakan. Ekonomi mulai menurun. Seperti semua negara berkembang lainnya, Turki bisa berjualan di pasar dunia dan harga murah. Kesejahteraan ekonomi warga Turki menurun drastis. Manuver luar biasa Erdogan untuk membuka pintu negosiasi dengan militan Kurdi, termasuk kemungkinan membebaskan pemimpin mereka Abdullah Ocalan, dihentikan. Erdogan kembali ke kebijakan lama yang represif. Manuver simbolis Erdogan untuk Armenia juga dihentikan. Uni Eropa juga terlihat menutup pintu diskusi tentang kemungkinan masuknya Turki.

Turki juga berhenti menjadi teman dunia Arab. Sebaliknya, dia masuk dalam pertempuran tanpa batas melawan rezim Bashar Al-Assad di Suriah. Turki mengabaikan larangan Israel mengirim bantuan langsung ke jalur Gaza. Israel meresponnya dengan kematian sejumlah orang Turki, dan Turki memutuskan hubungan diplomatik. Ini membuat marah besar AS, yang langsung merestui kudeta terhadap Mohamed Morsi di Mesir—sekutu AKP. Turki tidak serius memerangi ISIS, dan menganggap memerangi rezim Bashar Al-Assad di Suriah dan Kurdi lebih penting.

Pada saat yang sama, aliansi dengan gerakan Gülen berakhir. Di permukaan, tampak ada perbedaan tujuan antara AKP dan Gülen. Sebenarnya perbedaan mereka mendalam. Gülen menganjurkan penyusupan ke seluruh institusi di Turki. Dia pura-pura tidak membutuhkan islam konservatif. Pendukungnya berpakaian ala barat. Tujuan jangka panjangnya adalah mengumumkan imam yang tersembunyi, Imam Mahdi atau Mesias. Tujuan jangka panjang Erdogan adalah mengumumkan inkarnasi nasionalisme Turki, khususnya kebijakan sekularismenya.

Ketika Erdogan menuding Gülen sudah lama merencanakan kudeta, argumennya terlihat masuk akal. Karena alasan itu pula hampir semua partai oposisi di Turki—CHP, MHP dan HDP (partai kiri yang basis utama pendukungnya adalah Kurdi)—turun ke jalan menentang kudeta. Namun, ketika CHP, HDP dan banyak komentator di Turki menuding Erdogan memanfaatkan kudeta yang gagal untuk membersihkan lawan-lawannya, itu juga masuk akal. Terlebih lagi, proposal Erdogan untuk mengubah konstitusi dengan memperkuat kekuasaan eksekutif (Presiden) dianggap jalan menuju kediktatoran.

Kendati jumlah orang (oposisi) yang ditangkap sudah sangat banyak, masih kuatkan Erdogan dan AKP hari ini? Turki punya senjata ampuh untuk bernegosiasi dengan AS dan Uni Eropa. AS membutuhkan Turki untuk melawan ISIS. Sedangkan Eropa membutuhkan Turki untuk membendung arus imigran dari Suriah (dan lainnya) memasuki daratan Eropa. Tetapi boleh jadi juga dua senjata ampuh Turki itu hanya ilusi. Tetapi tampaknya Turki tidak akan sanggup membendung oposisi internal, yang berpotensi membuat rezim berkuasa kolaps. Jika itu terjadi, siapapun pasti tahu bagaimana menempatkan diri.

Turki, AKP dan Erdogan bermekaran bersama dengan mendorong kebijakan cerdas di tengah konteks dunia yang menguntungkannya—dan mereka berhasil memanfaatkannya. Dan Turki jatuh akibat konteks dunia yang sudah berubah. Dan Erdogan mungkin memainkan tangannya berlebihan dalam merespon situasi dunia yag sudah tidak menguntungkan.

Immanuel Wallerstein, pemikir marxis dan peneliti senior di Yale University. Bukunya antara lain: The Decline of American Power: The US in a Chaotic World(New Press)

Diterjemahkan dari iwallerstein.com

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid