Tulisan-Tulisan yang Mendobrak Kolonialisme di Hindia-Belanda

“Kata-kata dan ide dapat mengubah dunia,” kata aktor dan komedian Amerika Serikat, Robin Williams. Kata-kata dan ide bisa menggerakkan banyak orang untuk mengubah keadaan.

Di masa kolonialisme, kata-kata dan ide yang tersusun menjadi artikel menjadi senjata yang ampuh untuk menelanjangi kolonialisme, sekaligus membangunkan bangsa terjajah dari tidur panjangnya untuk bangkit dan berjuang.

Revolusi cetak yang dibawa oleh Gutenberg sejak abad ke-15memungkinkan kata-kata dan ide itu dicetak menjadi buku, majalah, korespondensi, atau famplet.

Berikut ini adalah tulisan-tulisan yang mendobrak kolonialisme di Hindia-Belanda.

#1

MAX HAVELAAR

Max Havelaar adalah novel yang ditulis oleh Multatuli. Sedangkan Multatuli sendiri merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Nama itu diambil dari bahasa latin, yang berarti “Aku sudah banyak menderita”.

Novel yang ditulis pada 1859 ini menyingkap praktek eksploitasi kolonial yang berkelindan dengan mental korup elit-elit feodal. Banyak intelektual Hindia-Belanda, seperti Kartini dan Tirto Adhisuryo, tercerahkan oleh novel ini.

#2

Als Ik Eens Nederlander Was

Als Ik Eens Nederlander Was, atau Kalau saya seorang Belanda, adalah artikel yang ditulis oleh Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara di koran De Express pada 13 Juni 1913.

Kritik itu menyindir pemerintah Hindia-Belanda yang berniat menggelar pesta besar-besaran memperingati lepasnya Nederland dari penjajahan Perancis. Pesta hendak digelar di Hindia-Belanda, negeri yang masih terjajah. Pahitnya lagi, biaya pesta itu mau ditarik dari rakyat Hindia-Belanda. Lantaran tulisan ini, Soewardi ditangkap dan dibuang ke Nederland.

#3

Naar de ‘Republiek Indonesia’

Naar de ‘Republiek Indonesia’, atau Menuju Republik Indonesia, merupakan artikel yang ditulis oleh Tan Malaka di Kanton, Tiongkok, pada 1925.

Ini merupakan risalah pertama dari seorang pejuang kemerdekaan yang mencetuskan konsep kenegaraan.

Dibuka dengan ulasan soal situasi internasional dan Hindia-Belanda, kemudian program dan strategi-taktik, lalu ditutup dengan konsep kenegaraan: Republik Federasi berbasis pulau.

#4

Mencapai Indonesia Merdeka

Artikel Mencapai Indonesia Merdeka ditulis oleh Sukarno pada 1933 di  Pangalengan, Jawa Barat.

Artikel ini berisi penjelasan soal problem imperialisme di Indonesia dan jalan keluarnya. Selain itu, artikel ini menyuguhkan strategi dan taktik untuk memperjuangkan Indonesia merdeka, mulai dari massa aksi hingga machts­vorming.

Risalah itu dilarang oleh Belanda karena dianggap menghasut rakyat Hindia-Beland untuk menuntut merdeka.

#5

Door Duisternis Tot Licht

Door Duisternis Tot Licht, yang berarti Dari Kegelapan Menuju Terang, merupakan kumpulan surat-surat Kartini kepada teman Eropanya. Buku kumpulan surat ini terbit pada 1911.

Lalu, pada 1922, Empat Saudara menerbitkan buku itu dalam bahasa Melayu dengan judul: Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Armijn Pane yang menerjemahkan tulisan-tulisan Kartini ke bahasa Melayu.

Buku itu banyak menginspirasi pejuang kemerdekaan hingga pergerakan perempuan generasi awal (permulaan abad ke-20).

#6

Indonesia Vrij

Indonesia vrij, atau Indonesia Merdeka, merupakan pidato pembelaan Mohammad Hatta saat menjalani pengadilan di Den Haag, Belanda, pada 1928.

Saat itu, Hatta ditangkap karena aktivitas politiknya bersama Indonesische Vereeniging, kelak berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Hatta dituding menghasut pemberontakan.

Pidato yang dibacakan selama tiga setengah jam oleh Hatta itu menyingkap kejahatan praktek kolonialisme di Hindia-Belanda dan cita-cita Indonesia merdeka.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid