Tuak, Antara Iman dan Kesejarahan

Wanston Pasaribu, pensiunan Chevron berusia 74 tahun terlihat sehat dan bugar. Tulang, begitu saya memanggilnya, punya kebiasaan berjalan sejauh 8 kilometer, sekali dalam dua hari. Selain jogging bersama istri yang terpaut dua tahun lebih muda, tulang juga punya kegemaran berkebun. Pekarangan rumahnya berumput hijau nan luas. Aneka bunga dan pepohonan tumbuh asri dan rindang.

Tulang punya banyak kawan. Kerap di halaman hijau itu, kursi-kursi digelar menyambut teman yang datang untuk bercengkrama. Tema obrolan bisa apa saja. Mulai dari politik, ekonomi hingga kenangan masa muda yang mengundang tawa. Sesekali terdengar juga kepedihan. Seringnya seputar keprihatinan orang-orang tua ini akan tradisi suku Batak yang kian tergerus jaman. Di kota Pekanbaru, Tulang adalah tokoh tertua di marganya. Dalam banyak pernikahan dan upacara adat, Tulang didaulat memimpin ritual khas Batak. Belakangan Ia mengeluh sulitnya mencari anak muda yang sedia menggantikannya

Menemani waktu-waktu berunding itulah, di meja selalu terhidang tuak. Tamu yang datang membawanya berbotol-botol. Dikemas dalam jerigen putih ukuran sedang yang biasa dipakai orang melayu untuk menyimpan minyak goreng. Nantulang, istrinya yang bermarga Sembiring, juga peminum tuak yang sama bugarnya. Biasanya Nantulang memasak tambul, teman minum tuak khas Batak yang berupa olahan ikan atau daging.

Ajibnya, para orang tua ini tidak pernah mabuk.Tak sekalipun kulihat mereka bertingkah bak orang kehilangan kesadaran. Menurut Tulang, tuak memang bukan minuman memabukkan. Sebaliknya, minuman itu membantunya tetap bugar di usia senja. Ia sendiri mengonsumsinya sudah lebih dari 17 tahun.

Tentu saja, awalnya saya tidak percaya. Sejak kecil saya dan anak-anak seusia diajarkan pentingnya menghindari minuman beralkohol. Tuak sebagai minuman fermentasi nira/kelapa, disebut sebagai satu diantaranya. Seperti bir dan minuman beralkohol lain, tuak adalah barang haram.  Saya yang muslim, dibesarkan dengan doktrin serupa itu. Minuman beralkohol melenyapkan kesadaran. Menjauhkanmu dari akal sehat. Karenanya ia adalah sumber utama maksiat.

Ada satu kisah yang sangat populer dan direproduksi berkali-kali. Digunakan para penceramah di berbagai lapisan jamaah. Tentang seorang pemerkosa yang ketika dihadapkan pada dua pilihan, memilih menenggak miras ketimbang membunuh anak kecil yang menjadi saksi perkosaannya. Namun setelah minum miras itulah, ia justru terdorong untuk juga membunuh si anak. Semua perbuatan keji yang dilakukan pemerkosa itu dimulai sejak ia menenggak miras.

Maka jangankan mencari tahu hal ikhwal tentang tuak, melihat orang meminumnya saja saya alergi, benak langsung memberi atribusi “pemabuk” dan saya merasa perlu menyingkir untuk menyelamatkan iman. Bagi saya jika haram barangnya, haram pula berteman dengan peminumnya. Jumlah muslim yang seperti saya tentu bukan satu atau dua. Baru belakangan saya sadar, doktrin itu sendiri sebenarnya jauh lebih berbahaya dari minuman keras. Ia membuat kita menilai sesuatu tanpa ilmu. Sikap yang sungguh rapuh.

Biasanya, surat Al Maidah ayat 90 digunakan sebagai rujukan. Terjemahannya berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman!Sesungguhnya khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Umar bin Al-Khattab r.a. menjelaskan makna khamr, sebagai sesuatu yang dapat menutupi dan menghalangi akal untuk berpikir dengan sadar. Dalil keharaman khamr di dalam Al-Qur’an didasarkan pada diktum li hifdzil ‘aql (menjaga akal).

Pertanyaan selanjutnya adalah; “Apakah tuak masuk dalam kategori minuman yang menyebabkan hilangnya kemampuan berfikir sehat?” Mari kita periksa..

*

Maling tuak di atas di bawah, didanda lima mas.

Maling hampangan tuak saparah udang sadulang tihang suku s[a]ikur babi hutan s[a]ikurnya, tida tarisi sakian sapuluh mas dandanya.

Maling penampungan tuak…udang sedulang…seekor babi hutan…jika tidak dipenuhi sekian, sepuluh mas dendanya

Tida[…]yang […] liwat dari janjang, tuak satapayan hayam s[a]ikur kapulangannya.

Tidak … [tidak terbaca … lewat dari tangga, tuak setempayan dan ayam seekor gantinya

Kelima kalimat di atas bukan mantra umur panjang. Saya mengutipnya dari naskah Undang-Undang Tanjung Tanah (selanjutnya UUTT)  yang ditemukan untuk kedua kalinya oleh ilmuan Jerman Uli Kozok di Kerinci, puncak tertinggi Sumatera. Berdasarkan hasil uji karbon, UUTT disebut sebagai naskah melayu tertua yang pernah ditemukan sampai saat ini. Berasal dari abad ke-14 dan ditulis atas perintah Sri Maharaja Diradja Adityawarman sebagai pedoman hidup bermasyarakat di daerah taklukan. Dalam UUTT, tuak disebut 5 kali. Isinya selain melarang pencurian tuak dan hukuman atas pencuriannya, juga diterangkan tuak sebagai alat pembayar denda.

Penyebutan tuak dalam kitab UUTT, menurut sejarawan Wenri Wanhar, menandakan posisinya sebagai sesuatu yang berharga, sakral dan bernilai bagi leluhur kita pada masanya. Tuak sama berharganya dengan emas atau rempah yang dikenakan hukuman bagi siapa saja yang mencurinya.

Keharuman rempah sendiri sebagai komoditas utama jalur perdagangan maritim nusantara, tak mungkin berdiri sendiri tanpa kehadiran tuak dan minuman sejenisnya yang menyertai para pelaut beradaptasi dengan cuaca samudera yang perkasa.

Kerinci, adalah satu dari banyak senarai negeritua kita yang berkisah tentang tuak. Tak terbilang jajaran tambo, pupuh, kitab lontara, cerita rakyat bahkan prasasti di berbagai tempat mengaitkan tuak dengan asal muasal kehidupan.

Di tanah Batak, tuak dianggap sebagai susu Dewi Sorbajati, putri Batara Guru sang manusia pertama, yang turun dari kahyangan ke dunia nyata. Perlambangan ini, merujuk pada pohon nira kelapa yang bagi masyarakat bahari adalah pohon kehidupan itu sendiri. Pelepah batang yang meneteskan cairan manis, adalah simbol payudara ibu. Cairan yang setelah di fermentasi akan menjadi tual. Itulah mengapa dulu di Sumatera, para penyedap nira rata-rata adalah kaum ibu.

Seluruh bagian dari pohon nira kelapa berguna, dari akar hingga pucuknya.Di sekolah dasar dulu, kita diajarkan tentang filosofi pohon ini dan mengapa organisasi kepanduan (Pramuka) mengambil buahnya sebagai lambang.

Para orientalis juga pengelana banyak mencatat tuak dalam risalah perjalanan mereka. Alfred Russel Wallace dalam “The Malay Archipelago” menulis tentang tuak Ballo sewaktu menyinggahi daratan tinggi Maros yang dingin di tahun 1857. Tuak khas Sulawesi Selatan itu disebut sebagai teman para tetua adat dalam memusyawarahkan hal-hal penting bagi komunitas adatnya.Tuak juga hadir sebagai media para bissu untuk bisa entrance dari  alam sadar menuju alam transenden.

Woodes Rodges, seorang kapten kapal Inggris yang singgah di Batavia sejak Februari 1710 sd Oktober 1710, sebelum berlayar kembalinya ke negerinya menulis bahwa arak (tuak yang telah mengalami penyulingan lanjutan) yang dibawa dari Batavia adalah minuman yang paling sakti. Selain menghilangkan haus, arak juga menguatkan perut dan usus serta membangkitkan nafsu makan yang biasanya sirna karena panasnya udara di kapal.[i]

Tuak di tanah nusantara, ternyata hadir jauh sebelum ‘iman formal’ datang. Iman yang dalam banyak hal, berhadap-hadapan dengan “iman tua” yang hidup dalam degup adat dan tradisi leluhur. Iman formal milik institusi bernama agama.

Nyaris di semua daerah berperadaban tua negeri ini, punya tuak dalam nama yang beraneka rupa. Ada Ciu dari Batavia, Swansrai dari Papua, Sopi dari Flores, Cikow, Lagen dan Jok Mayang dari tanah Dayak juga arak Bali. Di alam kesadaran orang Dayak, tuak hadir dalam ritual pengagungan sang pencipta. Di dataran tinggi Bakkara Sumut, tuak adalah bagian dari mekanisme bertahan tubuh dari dingin yang gigil.

Pengharaman terhadap tuak, datang dari tanah sebrang yang diterima penduduk negeri ini dan menjadi identitas keimanan baru. Walau terjadi pembauran, saling beri dan terima, namun yang digeser tanpa melihat konteks juga banyak.Tuak satu diantara yang coba digeser itu. Maka tak heran jika di lapangan, kita temukan fakta yang bukan saja lucu, tapi juga tidak relevan.

Di Bekonang Jawa Tengah, misalnya, Ciu yang mahsyur itu diproduksi dalam skala rumah tangga dengan aktor pembuatibu-ibu berjilbab dan kaum bapak yang kebanyakan berstatus haji dari hasil menjual ciu. Limbah ciuyang disebut rabuk, disetor ke pak RW untuk menjadi pupuk kompos bagi pertanian warga. Bahkan limbah minuman ini pun bermanfaat.

Tahun lalu, media memberitakan rilis Badan Narkotika Nasional yang berencana menjadikan tuak sebagai minuman terapi bagi para pecandu narkoba. Langkah ini diambil setelah riset yang dilakukan terhadap 18 pecandu yang diujicobakan terapinya menggunakan tuak.

Diawal masa pendemi, narasi tentang tuak sebagai minuman penangkal virus Corona juga marak di media massa. Walau tidak ada yang serius melakukan uji ilmiah atasnya, sampai hari ini sebagian masyarakat kita mempercayai dan mengkonsumsinya sebagai bagian dari  ikhtiar pencegahan.

Di kota Pekanbaru tempat saya tinggal, lapautuak juga bukan hanya dipenuhi orang Batak. Orang Minang yang dicitrakan agamis dan suku Jawa tak kalah banyak. Sebuah lapak tuak milik marga Tanjung di gang Ekasari justru ramai oleh  orang Minang. Tentang ini, Wenri mengatakan bahwa sebelum Islam datang, tak ada orang Minang yang tak minum tuak. Sebagai salah satu bangsa pengembara, moyang orang Minang sangat memuliakan tuak. Dalam pelayaran di lautan, tuak dan arak bukan hanya diminum untuk mengusir dingin dan menambah imun, tapi juga dipakai untuk memasak hasil tangkapan laut. Ikan dimatangkan tidak memakai api, tapi dengan cara dicelup dalam tong berisi arak.

Sampai di sini, apakah tuak memabukkan? Lalu, apakah mabuk itu sendiri adalah tindakan yang berbahaya? Dinamakan apakah seorang bissu yang “entrance” dari dunia sadar ke alam transenden?. Atau seorang Rumi yang tak henti menari hingga jatuh karena ekstase penyatuan dirinya dengan sang khalik. Apakah seorang Al Hallaj, sufi Persia itu ketika lantang berkata “Ana Al-Haq” sebelum jilatan api membakar tubuhnya juga tidak bisa dikatakan mabuk? Jangan-jangan, mabuk hanyalah salah satu dari fase kesadaran manusia itu sendiri. Kesadaran yang melampaui batas-batas logika (akal).

Dengan seluruh cabaran diatas, pertanyaan lanjutannya adalah; “Dalam ukuran yang manakah, tuak menghalangi seseorang dari menggunakan akal sehatnya? Apakah nenek moyang bangsa Indonesia, para penyuling tuak itu, adalah generasi tak berakal yang justru mampu tinggalkanjejak keajaiban seperti Borobudur? Sungguh kenyataan berkata sebalikan.Di semesta kesejarahan manusia yang membentang berabad-abad, hidup terlalu besar dan kaya untuk diringkus dalam terma halal dan haram.

Demikian saya kira.Di bumi nusantara ini, usia iman sama tua dengan usia sejarah manusia itu sendiri. Bukan iman formal yang bertamu belakangan. Tapi ia yang tumbuh natural sebagai respon atas hidup dan kuasa alam raya. Iman yang cair dan menggarami degup adat dan tradisi. Iman yang telah melahirkan tuak dan tuak yang pada gilirannya menguatkan iman.

RATNA DEWI, Bergiat di Seloko Institute Jambi


[i] Frieda Amran, “Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers dan Dr.Stehler” , penerbit Kompas, 2012, hal.17

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid