Seruan Solidaritas untuk Rakyat Kurdi di Turki

Sejumlah kelompok politik di Eropa menyerukan solidaritas kepara rakyat Kurdi di bagian tenggara Turki yang tengah dikepung lebih dari 10.000 pasukan tentara, polisi, dan pasukan khusus.

Naile Ares, seorang aktivis pro Kurdi yang bermukim di Swedia mengatakan bahwa serangan brutal yang dilakukan pasukan Turki mengakibatkan lebih dari 140 rakyat sipil meninggal dunia, diantaranya 20 perempuan dan 26 orang anak-anak. Gedung peninggalan bersejarah seperti masjid dan gereja di daerah Sur, provinsi Diyarbakir, hancur berkeping-keping akibat pemboman tentara Turki.

Selain itu, tentara Turki memberlakukan jam malam serta menutup akses masuk maupun keluar dari wilayah Turki tenggara, tempat bermukim sekitar 1,3 juta orang Kurdi. Rakyat di wilayah tersebut juga mengalami kesulitan untuk memperoleh askes terhadap kesehatan, listrik dan air bersih karena berbagai larangan dari pasukan pemerintah. Irish Times melansir, hanya beberapa jam sebelum memulai penyerbuan pihak berwenang memerintahkan seluruh polisi, guru/pengajar, dan para medis untuk keluar dari wilayah tersebut.

Lebih lanjut Naile Ares menyerukan kepada organisasi-organisasi perempuan, HAM, atau perorangan untuk menyampaikan tuntutan dengan cara apa saja agar penguasa Turki segera menarik mundur tentara dan polisi, mendeklarasikan gencatan senjata serta memulai kembali negosiasi damai.

Kelompok Human Right Watch (HRW) yang berbasis di Turki menyebutkan bahwa korban sipil terus bertambah selama serangan tentara Turki tersebut. “Kami menyerukan kepada pemerintah Turki untuk mengendalikan aparatnya, segera menghentikan tindakan kejam dan tidak proporsional, seta menginvestigasi jumlah korban meninggal maupun luka-luka dari operasi ini,” ujar peneliti senior HRW di Turki, Emma Sinclair-Webb, seperti dilansir AP.

Sementara kecaman keras terhadap Turki datang dari anggota parlemen Jerman, Cem Ozdemir. Ia mengatakan situasi ini sebagai “perang semu melawan penduduk Turki sendiri”. “Mereka dapat menangkap siapapun yang mereka inginkan, menyiksa siapa saja, membunuh siapa saja. Anda tidak dapat lagi bicara tentang hak asasi manusia,” kata Ozdemir seperti dikutip Rudaw sebuah media jaringan Kurdi.

Hal senada diungkapkan Tobias Huch, politisi dari Partai Liberal, yang menyebutkan tindakan Erdogan menyerbu daerah Kurdi sebagai “balas dendam” atas kekalahan PK dalam pemilu sebelumnya. “Erdogan bukan memerangi Partai Pekerja Kurdistan (PKK), melainkan rakyat sipil Kurdi. Ia membuat balas dendam brutal karena kekalahan pemilu lalu yang diakibatkan pilihan rakyat Kurdi.”

Gencatan senjata antara Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dengan pemerintah Turki berakhir bulan Juli lalu. Partai Pekerja Kurdistan (PKK) telah lebih dari tiga dekade memperjuangkan hak otonomi atas wilayah Kurdi. Kelompok ini pula yang menjadi kekuatan efektif melawan ISIS (NIIS) di wilayah perbatasan Suriah, khususnya ketika merebut dan mempertahankan kota Kobane.

Mardika Putera

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid